Tuduhan Serius Greenpeace: Ini Jawaban Raksasa Sawit Soal Kebakaran Hutan

Table of Contents
Bumitama dan First Resources Bantah Laporan Greenpeace Soal Karhutla
Tuduhan Serius Greenpeace: Ini Jawaban Raksasa Sawit Soal Kebakaran Hutan

VGI.CO.ID - Halo sobat pembaca! Belakangan ini dunia industri kelapa sawit lagi ramai banget nih sama kabar kurang enak. Dua raksasa sawit yang melantai di bursa Singapura, Bumitama Agri dan First Resources, mendadak jadi sorotan gara-gara dikaitkan dengan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Semua ini bermula dari laporan investigasi terbaru yang dirilis sama Greenpeace pada 5 Oktober 2026 kemarin. Nggak cuma dua nama besar itu aja, ada juga nama First Borneo Plantations yang ikut terseret dalam radar Greenpeace karena diduga punya kaitan kepemilikan dengan beberapa perusahaan di Singapura.

Nah, kalau kita lihat detailnya dari laporan yang sempat dikutip The Strait Times, Greenpeace mengklaim kalau konsesi perkebunan milik tiga perusahaan ini jadi titik kumpulnya api dan asap selama periode Agustus sampai September 2026. Tapi, namanya juga bisnis besar yang punya reputasi, mereka nggak tinggal diam begitu saja. Baik First Resources maupun Bumitama Agri langsung angkat bicara dan membantah keras kalau operasional mereka jadi biang kerok dari titik api yang lagi disorot ini. Mereka punya argumen yang cukup teknis buat ngejelasin kenapa tuduhan itu nggak bisa langsung ditelan mentah-mentah.

First Resources: Titik Panas Bukan Berarti Sengaja Membakar

First Resources lewat pernyataannya ke The Strait Times pada 15 Oktober 2026 menjelaskan kalau kita nggak bisa cuma mengandalkan pantulan satelit buat menghakimi siapa yang salah. Menurut mereka, deteksi titik panas (hotspot) di satelit itu nggak bisa jadi bukti kuat soal asal mula api, siapa yang bertanggung jawab, apalagi dibilang sebagai upaya sengaja buat buka lahan. Perusahaan menegaskan kalau mau narik kesimpulan yang adil, ya harus ada investigasi lapangan yang benar-benar detail. Kita harus tahu kapan api itu muncul pertama kali dan gimana pola penyebarannya dari waktu ke waktu.

"Keberadaan titik panas di dalam konsesi tidak seharusnya dengan sendirinya ditafsirkan sebagai indikasi bahwa pemegang konsesi menyebabkan, memulai atau membiarkan terjadinya kebakaran," begitu kata perwakilan perusahaan.

Mereka juga sempat melakukan verifikasi di Kalimantan Barat.

Hasilnya?

Ternyata banyak titik panas yang terdeteksi itu sebenarnya berada di luar batas wilayah operasi mereka.

Mereka juga jujur bilang kalau area yang mepet sama lahan masyarakat atau lahan yang nggak dikelola memang jauh lebih gampang terbakar, apalagi pas lagi musim kering begini.

Investasi Besar dan Kepemilikan di Balik First Resources

Biar kamu makin paham konteksnya, salah satu area yang disebut Greenpeace itu dikelola sama Kayung Agro Lestari di Ketapang, Kalimantan Barat.

Perusahaan ini sebenarnya anak usaha dari Austindo Nusantara Jaya (ANJ) yang baru aja diakuisisi penuh sama First Resources pada Mei 2025 lalu.

Bayangkan saja, nilai akuisisi 95,92% saham ANJ itu mencapai angka fantastis sekitar US$330 juta atau setara S$422 juta.

Jadi, wajar banget kalau perusahaan sekelas ini sangat berhati-hati soal isu lingkungan.

First Resources sendiri bukan pemain sembarangan.

Perusahaan dengan kapitalisasi pasar sekitar S$6,42 miliar ini mayoritas sahamnya dimiliki oleh keluarga Fangiono asal Indonesia.

CEO-nya sekarang dijabat oleh Ciliandra Fangiono, ditemani saudaranya, Fang Zhixiang, yang duduk sebagai wakil CEO.

Dengan struktur kepemimpinan keluarga yang kuat, mereka mengklaim tim pemadam kebakarannya selalu siaga 24 jam di sepanjang batas konsesi sejak titik panas pertama kali muncul, bahkan sering bantu memadamkan api di lahan tetangga juga lho.

Bumitama Agri dan Teknologi Canggih Buat Lawan Api

Nggak jauh beda sama First Resources, Bumitama Agri yang punya kaitan sama Harita Group juga kena sentil lewat anak usahanya, Damai Agro Sejahtera. Perusahaan yang dikomandani oleh Lim Gunawan Hariyanto ini menjelaskan kalau beberapa area mereka memang rusak kena api, tapi itu karena apinya merembet dari luar lahan yang mereka kelola. Mereka tegas banget bilang kalau punya kebijakan zero burning atau nggak boleh ada aktivitas pembakaran sama sekali buat operasional mereka.

Uniknya, Bumitama Agri nggak cuma pakai pemadam kebakaran manual.

Mereka sudah pakai teknologi tinggi kayak drone dengan kamera pencitraan termal sampai stasiun cuaca pintar buat memantau risiko kebakaran.

Menurut mereka, kondisi kemarau ekstrem tahun 2026 ini bikin vegetasi dan lahan gambut jadi gampang banget terbakar.

"Berdasarkan pengamatan internal, belum ada bukti yang menghubungkan kegiatan operasional kami dengan awal mula kebakaran," tulis mereka dalam keterbukaan informasi di Bursa Singapura.

Gara-gara isu ini, saham mereka sempat turun 4,81% ke harga S$1,78 sebelum perdagangan dihentikan sementara (trading halt) pada 16 Oktober.

Misteri First Borneo Plantations

Lalu, gimana dengan First Borneo Plantations?

Nama ini agak misterius karena statusnya sebagai perusahaan tertutup.

Namun, catatan sejarah menunjukkan kalau mereka punya jejak di Singapura melalui Chancellor Oil.

Bahkan, perusahaan energi Thailand PTT sempat menjual mayoritas sahamnya di Chancellor Oil kepada Premier Palmoil Energy pada 2019.

Saat ini, nama Alexander Thaslim tercatat sebagai direktur di sana.

First Borneo ini sebenarnya bukan pertama kali kena semprot aktivis lingkungan.

Sebelumnya, pada Februari 2026, kelompok Mighty Earth juga pernah menuduh salah satu konsesi mereka, PT Equator Sumber Rezeki, melakukan pembukaan hutan tanpa izin di habitat orangutan.

Meskipun ini masih berupa klaim dan butuh pembuktian hukum lebih lanjut, hal ini menambah daftar panjang tantangan pengawasan hutan di Indonesia, apalagi kalau sudah menyangkut asap yang terbang sampai ke negara tetangga.

Kesimpulannya, perdebatan antara laporan aktivis lingkungan dan pembelaan perusahaan ini memang selalu pelik.

Meskipun ada titik api di dalam konsesi perusahaan, itu nggak otomatis bikin perusahaan tersebut jadi tersangka utama pembakaran.

Diperlukan penyelidikan mendalam dari otoritas berwenang buat menentukan siapa yang harus bertanggung jawab.

Kita tunggu saja gimana kelanjutan investigasi lapangan dari pemerintah untuk memastikan siapa yang benar-benar menjaga hutan kita.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu titik panas (hotspot) yang sering disebut dalam laporan karhutla?

Titik panas adalah indikasi suhu permukaan yang lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya yang dideteksi oleh satelit, namun tidak selalu berarti ada kebakaran api di titik tersebut.

Mengapa perusahaan sawit membantah tuduhan Greenpeace?

Mereka berargumen bahwa titik api seringkali berasal dari luar wilayah konsesi (seperti lahan masyarakat) yang merambat masuk akibat musim kemarau ekstrem.

Siapa pemilik First Resources dan Bumitama Agri?

First Resources mayoritas dimiliki keluarga Fangiono, sementara Bumitama Agri terafiliasi dengan Harita Group milik keluarga Lim.

Apa itu kebijakan zero burning?

Kebijakan dilarang membakar lahan yang diterapkan oleh perusahaan perkebunan dalam proses pembukaan atau pembersihan lahan.



Ditulis oleh: Bagas Saputra

Posting Komentar