Mengapa Raksasa Keuangan Dunia Malah Belanja Saat Pasar Modal Kita Runtuh?

Table of Contents
IHSG Ambruk Dihukum MSCI, Deretan Saham Ini Diborong Broker Asing
Mengapa Raksasa Keuangan Dunia Malah Belanja Saat Pasar Modal Kita Runtuh?

VGI.CO.ID - Pernah nggak sih kamu ngebayangin IHSG turun sampai belasan persen cuma dalam waktu satu hari? Kedengarannya kayak mimpi buruk buat investor, ya? Tapi itulah realita pahit yang terjadi pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Bursa saham kebanggaan kita, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), benar-benar hancur lebur setelah anjlok sedalam 11,57%. Angka ini membawa indeks kita mendarat di level 5.199,96.

Kalau kita tarik garis sejarah, kejatuhan ini adalah yang paling parah dalam 28 tahun terakhir.

Terakhir kali pasar modal kita ngerasain horor kayak gini itu pas zaman krisis moneter 1998.

Bayangkan, memori kelam puluhan tahun lalu tiba-tiba muncul lagi di depan mata.

Banyak investor ritel yang panik, tapi di sudut lain, ada pemandangan unik.

Saat layar monitor merah membara, beberapa raksasa keuangan dunia alias broker asing justru terlihat sibuk "bawa keranjang belanja" dan menyerok saham-saham yang harganya lagi diskon gila-gilaan.

Ada Apa dengan MSCI? Kok Pasar Bisa Sampai Panik Gini?

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih pemicu utamanya? Kenapa tiba-tiba semua orang mau jualan? Ternyata, biang keroknya adalah kekhawatiran soal status pasar saham Indonesia di mata dunia. Muncul isu kalau Morgan Stanley Capital International (MSCI) berencana menurunkan status kita dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Dampaknya nggak main-main, lho. Kalau status ini beneran turun, aliran dana dari investor institusi global bisa tersendat atau bahkan keluar secara masif karena Indonesia dianggap nggak lagi masuk dalam radar investasi negara berkembang yang potensial. Ketakutan akan hilangnya foreign flow inilah yang bikin IHSG terhukum sangat berat di akhir pekan itu. Tapi, di sinilah letak anomali yang menarik untuk kita bedah lebih dalam.

Broker Asing Malah Borong Saham: Strategi Serok Bawah?

Meski suasana pasar lagi mencekam, data dari Stockbit menunjukkan pergerakan yang berlawanan dari beberapa broker besar. Nama-nama mentereng seperti J.P. Morgan Sekuritas (BK), CLSA Sekuritas Indonesia (KZ), CGS International Sekuritas Indonesia (YU), dan Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) terpantau melakukan aksi beli bersih atau net buy hingga ratusan miliar rupiah dalam sehari.

J.P. Morgan Sekuritas, yang punya kode broker BK, jadi salah satu yang paling agresif. Mereka nggak cuma beli satu atau dua jenis saham, tapi langsung masuk ke berbagai sektor, mulai dari perbankan, telekomunikasi, sampai teknologi. Sepertinya mereka melihat momen kejatuhan harga ini sebagai peluang emas untuk mengoleksi aset-aset fundamental dengan harga murah meriah atau istilah kerennya bottom fishing.

Daftar Belanjaan J.P. Morgan (BK) di Sektor Perbankan dan Telekomunikasi

Salah satu saham yang paling banyak diborong adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Meskipun harga BBCA ambles 14,81% ke level Rp5.175 per lembar, BK justru mencatatkan nilai net buy yang fantastis sebesar Rp454,9 miliar dalam satu sesi transaksi, dan tambahan Rp138,6 miliar di sesi lainnya. Selain BBCA, bank pelat merah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga ikut dikoleksi dengan nilai bersih Rp28,1 miliar, meskipun harganya terperosok 12,90% ke Rp2.970.

Nggak cuma bank, sektor telekomunikasi juga jadi incaran.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tercatat dibeli oleh BK dengan nilai Rp117,9 miliar dan transaksi lain senilai Rp187,4 miliar.

Padahal, saat itu harga TLKM lagi merosot 14,8% ke posisi Rp1.900.

Ada juga PT Indosat Tbk (ISAT) yang diborong senilai Rp68,9 miliar meski harganya jatuh ke Rp1.755.

GOTO dan Saham Komoditas: Tetap Jadi Primadona Saat Badai

Yang cukup mengejutkan adalah aksi borong di saham PT GoTo Group Tbk (GOTO).

Walaupun harganya longsor 7,41% sampai ke level Rp25 per saham, J.P.

Morgan nggak ragu untuk melakukan akumulasi masif.

Dalam catatan transaksi yang berbeda, BK melakukan pembelian bersih sebesar Rp46,9 miliar, Rp261,2 miliar, dan Rp35,6 miliar.

Sepertinya broker asing ini masih punya keyakinan tinggi pada ekosistem teknologi Indonesia di masa depan.

Di sektor komoditas, saham energi juga nggak luput dari radar.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dikoleksi senilai Rp56,4 miliar saat harganya jatuh ke Rp9.900.

Lalu ada PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) yang diborong Rp38,1 miliar ketika harganya terperosok ke level Rp2.800.

Bahkan saham alat berat seperti PT United Tractor Tbk (UNTR) juga masuk dalam daftar akumulasi masif, meskipun ada catatan harga BBNI (yang kemungkinan merujuk pada fluktuasi di grup yang sama) terperosok ke Rp22.625.

Apa Pesan di Balik Aksi Belanja Asing Ini?

Fenomena ini sebenarnya memberikan kita sudut pandang baru.

Saat investor lokal mungkin sedang panik karena melihat angka merah yang begitu dalam, investor institusi asing yang punya analisis jangka panjang justru melihat ini sebagai diskon besar.

Mereka seolah-olah bilang kalau secara fundamental, perusahaan-perusahaan besar di Indonesia ini masih punya nilai yang jauh lebih tinggi daripada harga pasarnya saat itu.

Namun, kita tetap harus waspada.

Penurunan IHSG yang mencapai 11,57% dalam sehari bukanlah hal yang bisa dianggap sepele.

Ini adalah sinyal bahwa ketidakpastian global dan penilaian lembaga seperti MSCI punya pengaruh yang sangat kuat terhadap psikologi pasar kita.

Buat kamu yang punya investasi di saham-saham tersebut, penting untuk terus memantau perkembangan status MSCI ini dalam beberapa bulan ke depan.

Kesimpulannya, Jumat kelam di Oktober 2026 ini bakal terus diingat sebagai salah satu hari paling bersejarah di lantai bursa.

Apakah langkah berani broker asing ini bakal membuahkan hasil manis di masa depan?

Ataukah ini cuma awal dari gejolak yang lebih besar?

Kita lihat saja nanti, tapi yang jelas, momen seperti ini selalu memberikan pelajaran berharga: di mana ada kepanikan, di situ biasanya ada peluang bagi mereka yang berani dan punya data kuat.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa IHSG turun drastis sampai 11,57%?

Penyebab utamanya adalah kekhawatiran investor terkait potensi penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang bisa memicu keluarnya dana asing secara besar-besaran.

Siapa saja broker asing yang melakukan net buy saat pasar ambruk?

Beberapa broker asing yang melakukan akumulasi masif antara lain J.P.

Morgan Sekuritas (BK), CLSA Sekuritas Indonesia (KZ), CGS International Sekuritas Indonesia (YU), dan Macquarie Sekuritas Indonesia (RX).

Saham apa saja yang paling banyak diborong oleh J.P. Morgan (BK)?

Berdasarkan data perdagangan, J.P.

Morgan (BK) memborong saham BBCA, GOTO, TLKM, AADI, PTBA, ISAT, BBNI, dan UNTR.

Apa itu status Standalone Market menurut MSCI?

Standalone Market adalah kategori untuk pasar saham yang belum memenuhi kriteria untuk masuk ke Emerging Market atau Frontier Market, biasanya karena hambatan akses pasar atau risiko ekonomi tertentu bagi investor asing.



Ditulis oleh: Indra Lesmana

Posting Komentar