Mantan Sekutu Anwar Ibrahim Dirikan Parti Bersama Malaysia Baru

Table of Contents
Anwar’s one-time ally turns rival with new Malaysia party
Mantan Sekutu Anwar Ibrahim Dirikan Parti Bersama Malaysia Baru

VGI.CO.ID - Mantan sekutu dekat Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Rafizi Ramli, kini resmi mendirikan partai baru bernama Parti Bersama Malaysia untuk menantang dominasi koalisi penguasa. Langkah politik ini diambil di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap reformasi yang dijanjikan oleh pemerintahan saat ini.

Rafizi Ramli yang kini berusia 48 tahun memproyeksikan partainya sebagai alternatif bagi pemilih progresif yang kecewa dengan politik berbasis ras dan agama. Hubungan erat masa lalu kedua tokoh tersebut kini berubah menjadi rivalitas politik yang sengit menjelang pemilu mendatang.

Lahirnya Parti Bersama Malaysia sebagai Kekuatan Baru

Parti Bersama Malaysia, atau disingkat Bersama, menargetkan keanggotaan mencapai 50.000 orang pada akhir Oktober mendatang dari posisi saat ini sekitar 30.000 anggota. Menariknya, lebih dari 60 persen anggota partai ini merupakan etnis Melayu dan sebagian besar dari mereka belum pernah terlibat dalam politik praktis sebelumnya.

Sebagai perbandingan, organisasi politik tertua seperti United Malays National Organisation (UMNO) memiliki sekitar 3,5 juta anggota, sedangkan PKR pimpinan Anwar mengklaim satu juta anggota. Rafizi menegaskan bahwa partainya akan tetap berada di luar aliansi politik yang ada untuk menjaga independensi perjuangan mereka.

Strategi Pemilu dan Target Kursi Bersama

Partai Bersama baru saja melakukan debut elektoralnya pada pemilu negara bagian Johor bulan Juli lalu dengan meraih sekitar 3 hingga 6 persen suara di kursi yang diperebutkan. Kini, fokus partai beralih ke pemilu negara bagian Malacca yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Bersama berencana untuk memperebutkan 15 dari 28 kursi yang tersedia di Malacca sebagai ujian politik berikutnya sebelum melangkah ke tingkat nasional. Untuk pemilu parlemen federal yang dijadwalkan pada Februari 2028, partai ini menargetkan untuk bertarung di setidaknya 30 dari 222 kursi parlemen.

Manifesto Ekonomi dan Kritik Terhadap Reformasi Anwar

Bersama membawa 12 poin agenda utama yang berfokus pada kesejahteraan ekonomi rakyat, termasuk target pertumbuhan upah minimum tahunan sebesar 5 persen. Selain itu, mereka juga mengusulkan pembatasan pekerja migran maksimal 5 persen dari total tenaga kerja serta pengalihan wewenang pengangkatan pejabat penting dari Perdana Menteri ke Parlemen.

Akademisi dari International Islamic University Malaysia, Syaza Farhana Mohamad Shukri, menilai bahwa Bersama berbagi ceruk ideologi kiri-tengah yang sama dengan koalisi Pakatan Harapan milik Anwar Ibrahim. Namun, perbedaan utama terletak pada kemauan politik yang kuat untuk benar-benar mengeksekusi agenda reformasi tersebut secara nyata.

Lahirnya Parti Bersama Malaysia sebagai Kekuatan Baru

Rekam Jejak Rafizi Ramli: Dari Whistleblower Hingga Menteri

Sebelum mendirikan partai baru, Rafizi dikenal luas sebagai insinyur dan akuntan yang pernah bekerja di perusahaan minyak negara, PETRONAS. Namanya melambung di panggung politik nasional setelah mengungkap skandal korupsi besar seperti penyalahgunaan dana National Feedlot Corp dan audit kasus 1MDB.

Ia juga mendirikan Invoke, sebuah lembaga analisis data pemilih yang berperan besar membantu kemenangan bersejarah koalisi Pakatan Harapan pada pemilu tahun 2018. Kiprah politiknya berlanjut hingga ia menjabat sebagai Deputi Presiden PKR pada 2022 dan ditunjuk menjadi Menteri Ekonomi Malaysia.

Keretakan Hubungan dengan Anwar Ibrahim

Ketegangan antara Rafizi dan Anwar mulai mencuat akibat perbedaan pandangan mengenai arah dan kecepatan implementasi reformasi pemerintahan. Puncaknya terjadi pada Mei 2025 ketika Rafizi kalah dalam pemilihan ulang kursi Deputi Presiden PKR dari putri Anwar Ibrahim sendiri.

Pasca kekalahan tersebut, Rafizi bersama mantan menteri Nik Nazmi Nik Ahmad memutuskan keluar dari PKR dan meninggalkan kursi parlemen demi mendirikan Bersama. Rafizi menilai kredibilitas anti-korupsi pemerintahan Anwar telah tercoreng oleh berbagai kontroversi internal, termasuk yang melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi Malaysia (MACC).

Teror Pribadi dan Masa Depan Politik Malaysia

Keputusan politik Rafizi harus dibayar mahal dengan adanya insiden penyerangan menggunakan jarum suntik terhadap putranya di depan sebuah pusat perbelanjaan. Ia menduga serangan keji tersebut merupakan upaya intimidasi dari kelompok tertentu untuk membungkam suaranya terkait sebuah skandal besar.

Meskipun Anwar Ibrahim telah mengecam keras serangan itu dan berjanji melakukan penyelidikan cepat, Rafizi merasa belum ada perkembangan berarti dari kasus tersebut. Kekecewaan ini memperlebar jarak emosional di antara kedua tokoh yang telah saling mengenal sejak Rafizi berusia 17 tahun.

Prospek Bersama di Tengah Polarisasi Pemilih

Rafizi melihat peluang besar pada kelompok pemilih kelas menengah dan terpelajar Melayu yang mulai jenuh dengan polarisasi politik rasial saat ini. Menurutnya, pemilih yang merasa kecewa dengan kinerja ekonomi pemerintah akan terus mencari alternatif baru yang lebih konkret.

Pengamat politik Kamles Kumar dari Asia Group Advisors berpendapat bahwa keengganan Bersama untuk berkoalisi dapat membatasi pengaruh kekuasaan mereka secara langsung. Ia memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, keberadaan Bersama akan lebih bersifat disruptif daripada transformatif bagi lanskap politik Malaysia.

Posting Komentar