Kesaksian Mencekam Warga Tehran Saat Serangan Udara Dahsyat Melanda Ibu Kota Iran

Table of Contents
‘If they don’t stop, Tehran will turn into Gaza’: Iranians describe night of terror
Kesaksian Mencekam Warga Tehran Saat Serangan Udara Dahsyat Melanda Ibu Kota Iran

VGI.CO.ID - Ibu kota Iran, Tehran, dilanda gelombang serangan udara beruntun yang memicu kepanikan luar biasa di tengah warga sipil. Penduduk menggambarkan malam tersebut sebagai pengeboman terdahsyat yang pernah terjadi selama enam hari masa peperangan.

Kelelahan dan ketakutan menyelimuti warga saat rentetan ledakan mengguncang berbagai sudut kota sepanjang malam. Pesan-pesan yang berhasil dikirimkan ke luar negeri mengungkap gambaran nyata dari situasi mencekam di lapangan.

Kesaksian dari Jantung Ibu Kota

Zahra, seorang guru di pusat Tehran, menyatakan kekhawatiran mendalam bagi keselamatan sesama warga sipil yang kini dalam bahaya. Ia merasa rakyat terjebak di antara tekanan rezim domestik dan serangan kekuatan asing yang menghancurkan.

"Jika mereka tidak berhenti sekarang, Tehran akan berubah menjadi Gaza," ungkap Farzad, seorang pria berusia 36 tahun yang memilih melarikan diri. Ia kini mampu membedakan suara jet tempur, pertahanan udara, dan jejak rudal hipersonik di langit malam.

Farzad menambahkan bahwa situasi ini sangat menyedihkan karena tidak ada yang benar-benar peduli pada nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Baik pendukung maupun penentang rezim memiliki alasan berbeda untuk tetap merasa terjebak dalam tragedi ini.

Blokade Informasi dan Ketakutan Warga

Kesaksian dari Jantung Ibu Kota

Pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet hampir total, sehingga informasi yang muncul ke dunia luar menjadi sangat terbatas. Laporan yang muncul hanya berasal dari koneksi proksi dan panggilan telepon singkat kepada kerabat di luar negeri.

Seorang reporter di Tehran Timur menceritakan pengalamannya terbangun oleh ledakan dahsyat yang membuat seluruh jendela rumahnya bergetar hebat. Ia sempat mengira langit-langit rumah akan runtuh dan dirinya akan tewas di bawah reruntuhan kota tercintanya.

Saeed, seorang mahasiswa Universitas Tehran, melayangkan permohonan melalui pesan singkat terkait rencana perlindungan keselamatan bagi warga sipil. Ia sangat terpukul dengan intensitas serangan pagi ini yang dirasa jauh lebih berat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Dilema Masyarakat di Persimpangan Konflik

Di Tehran Barat, seorang mantan tahanan politik menyoroti posisi sulit rakyat yang berada di persimpangan sejarah yang mematikan. Rakyat merasa terancam oleh pemerintah sendiri yang dianggap menyulut api konflik, sekaligus oleh serangan militer asing.

Laporan dari lapangan juga menyebutkan penggunaan pesawat pengebom B-2 dalam serangan yang menargetkan wilayah pusat kota. Serangan tersebut membuat warga merasa sangat dekat dengan kematian di tengah suasana kota yang kian hancur.

Seorang aktivis hak asasi manusia mencatat adanya anomali dalam persepsi masyarakat akar rumput terkait dampak pengeboman tersebut. Banyak warga yang sudah terlalu menderita merasa bahwa kehancuran militer adalah satu-satunya jalan untuk melemahkan kekuasaan pemerintah.

Hingga Jumat pagi, suasana Tehran dilaporkan sangat sepi dengan banyak keluarga yang berusaha mencari jalan keluar dari ibu kota. Hanya sedikit toko kelontong yang masih beroperasi di lingkungan yang masih bisa dihubungi oleh pihak luar.



Ditulis oleh: Rudi Hartono

Posting Komentar