Aksi Borong Saham Asia: Mengapa Microsoft Berjaya Sementara Google Justru Terkapar?

Table of Contents
Bursa Asia Menguat, Investor Cermati Kinerja Big Tech dan The Fed
Aksi Borong Saham Asia: Mengapa Microsoft Berjaya Sementara Google Justru Terkapar?

VGI.CO.ID - Halo, para pemburu cuan! Kalau kamu baru saja membuka aplikasi trading hari ini, Kamis (29/10/2026), mungkin kamu bakal melihat banyak warna hijau yang menyegarkan mata di layar bursa Asia. Ya, pagi ini mayoritas pasar saham di kawasan kita memang lagi bersemangat. Tapi, jangan senang dulu, karena di balik angka-angka yang menghijau itu, ada drama besar yang melibatkan raksasa teknologi dunia dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang bikin para investor harus ekstra waspada.

Kita mulai dari angka-angkanya dulu ya.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 tampil cukup perkasa dengan kenaikan lebih dari 0,58 persen.

Sementara itu, indeks Topix cenderung jalan di tempat alias datar.

Bergeser ke arah Korea Selatan, indeks Kospi juga ikutan naik tipis 0,11 persen saat bel pembukaan berbunyi.

Sayangnya, nasib kurang beruntung dialami oleh indeks saham kecil mereka, Kosdaq, yang justru terpeleset jatuh 0,97 persen.

Di sisi lain, Australia lewat indeks S&P/ASX 200 ikut berpesta dengan penguatan sebesar 0,51 persen.

Seru banget, kan?

Duel Raksasa Tech: Microsoft yang Wangi vs Google yang Pusing

Nah, kamu pasti penasaran kenapa pasar Asia bisa bergerak seperti itu. Jawabannya ada di laporan keuangan perusahaan raksasa alias Big Tech di AS yang baru saja dirilis. Microsoft sukses jadi bintang lapangan setelah jam perdagangan reguler berakhir. Saham mereka melonjak 3 persen! Apa rahasianya? Ternyata bisnis cloud mereka, Azure, tumbuh sangat pesat. Hal ini bikin Microsoft berhasil mengantongi pendapatan dan laba yang melampaui ekspektasi para analis di kuartal pertama tahun fiskal 2027. Data dari LSEG mengonfirmasi kalau performa mereka memang jempolan.

Tapi, cerita berbeda datang dari sang pesaing, Alphabet (induk perusahaan Google).

Saham mereka justru anjlok parah hingga 9 persen.

Waduh!

Ternyata laba per saham dan pendapatan mereka di kuartal ketiga 2026 nggak sanggup memenuhi harapan pasar.

Yang bikin investor makin deg-degan adalah catatan arus kas bebas mereka yang minus sebesar US$9,07 miliar.

Padahal, Alphabet masih nekat merencanakan belanja modal besar-besaran di kisaran US$195 miliar sampai US$205 miliar sepanjang tahun 2026.

Kontras banget ya sama Microsoft?

The Fed Masih Malu-Malu Kucing Soal Suku Bunga

Selain drama dari Silicon Valley, mata dunia juga tertuju pada gedung Federal Reserve.

Dalam pertemuan hari Rabu kemarin, bank sentral AS ini memutuskan untuk nggak mengubah suku bunga acuan mereka, alias tetap di angka 3,75% sampai 4%.

Langkah ini sebenarnya sudah ditebak banyak orang setelah sebelumnya mereka sempat menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September.

Jadi, nggak ada kejutan yang terlalu ekstrem di sini.

Meski begitu, para bos di The Fed masih bilang kalau inflasi di sana tetap tinggi atau istilah kerennya remains elevated. Mereka memilih untuk bermain aman dan nggak mau buru-buru ambil langkah selanjutnya sebelum punya data ekonomi yang lengkap. Daniel Siluk dari Janus Henderson Investors menilai keputusan ini sedikit condong ke arah dovish, tapi lebih tepat disebut gaya "tunggu dan lihat". Intinya, peluang untuk pengetatan moneter di masa depan masih terbuka lebar kalau memang datanya nanti memburuk.

Nasib Saham AI dan Chip yang Sempat Tertekan

Kalau kamu pengamat saham-saham kecerdasan buatan (AI), kamu pasti tahu kalau sektor ini sempat babak belur selama bulan Oktober.

Saham-saham yang ada di iShares Semiconductor ETF (SOXX) dan Roundhill Memory ETF (DRAM) benar-benar diuji mentalnya.

Tapi, ada kabar baik!

Belakangan ini sektor semikonduktor mulai bangkit lagi.

Pada perdagangan reguler hari Rabu (28/10/2026), saham-saham ini jadi tenaga tambahan buat bursa AS.

Lihat saja Micron Technology yang terbang hampir 6 persen, diikuti Broadcom yang naik lebih dari 2 persen. Alhasil, indeks S&P 500 bisa menguat selama tiga hari berturut-turut, dan Nasdaq yang penuh dengan saham teknologi ikut terkerek naik 0,3 persen. Ini membuktikan kalau antusiasme investor terhadap teknologi masa depan masih ada, meski jalannya kadang-kadang bergelombang kayak naik roller coaster.

Apa yang Harus Kita Pantau Selanjutnya?

Jangan keburu tutup aplikasi investasimu, karena hari Kamis ini masih banyak data penting yang bakal dirilis.

Investor lagi menunggu angka inflasi pilihan The Fed, yaitu indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk bulan September.

Selain itu, ada juga data PDB kuartal ketiga dan jumlah orang yang mengajukan klaim pengangguran mingguan di AS.

Semua data ini bakal jadi bahan pertimbangan buat langkah pasar ke depannya.

Di sisi lain, laporan keuangan dari perusahaan besar seperti Caterpillar dan Eli Lilly juga siap terbit sebelum bursa reguler dibuka.

Dan yang paling ditunggu-tunggu setelah pasar ditutup nanti adalah laporan keuangan dari Amazon dan Intel.

Apakah mereka bakal senasib dengan Microsoft yang berjaya, atau malah terpuruk seperti Google?

Kita lihat saja nanti!

Tetap waspada dan jangan lupa kelola risiko investasimu dengan bijak, ya.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Kenapa saham Google (Alphabet) turun drastis?

Saham Alphabet merosot 9% karena pendapatan dan laba kuartal III-2026 tidak mencapai target pasar, serta adanya laporan arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar.

Berapa suku bunga acuan The Fed sekarang?

The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75% hingga 4% dalam pertemuan terbaru pada Oktober 2026.

Bagaimana performa indeks Nikkei di Jepang hari ini?

Indeks Nikkei 225 Jepang mencatat kenaikan lebih dari 0,58% pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026.

Apa saja data ekonomi yang dinanti investor pekan ini?

Investor menantikan rilis indeks harga PCE September, data awal PDB kuartal III, klaim pengangguran mingguan AS, serta laporan keuangan Amazon dan Intel.



Ditulis oleh: Sekar Ayu

Posting Komentar