Waspada! Jenis Makanan Lezat Ini Ternyata Bisa Memicu Kanker Mulut

Table of Contents
Daftar Makanan yang Berisiko Memicu Kanker Mulut, Hati-Hati!
Waspada! Jenis Makanan Lezat Ini Ternyata Bisa Memicu Kanker Mulut

VGI.CO.ID - Pernah nggak sih kamu kepikiran kalau apa yang kamu kunyah hari ini bisa menentukan kesehatan kamu di masa depan? Ternyata, pilihan menu makan siang kita nggak cuma soal rasa kenyang aja, lho. Menurut laporan dari Jakarta, CNBC Indonesia, pola makan dan kebiasaan kita sehari-hari dalam memilih asupan nutrisi punya peran besar terhadap risiko terkena kanker. Memang sih, faktor genetik atau paparan zat berbahaya di lingkungan juga berpengaruh, tapi apa yang masuk ke mulut kita justru seringkali jadi pemicu yang jarang disadari, terutama untuk kasus kanker mulut.

Mengutip informasi dari laman Eating Well, beberapa riset mendalam mulai menunjukkan kalau makanan ultra-proses nggak cuma buruk buat berat badan, tapi juga buat sel-sel tubuh kita. Makanan yang penuh pengawet, pemanis buatan, dan garam tinggi bisa bikin tubuh mengalami peradangan kronis. Nah, kondisi peradangan inilah yang jadi pintu masuk bagi sel-sel abnormal untuk tumbuh secara liar di area mulut kamu. Jadi, penting banget nih buat mulai lebih teliti lagi sebelum jajan sembarangan.

Daging Olahan: Kenikmatan yang Menyimpan Risiko

Siapa yang nggak suka bacon renyah atau sosis bakar?

Sayangnya, makanan-makanan enak ini masuk dalam daftar merah.

Kelly F.

Moyer, M.D., seorang ahli THT sekaligus asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, menjelaskan kalau jenis makanan tertentu bisa bikin lingkungan di dalam mulut kita jadi tempat yang pas buat kanker berkembang.

Beliau menyebutkan kalau daging olahan seperti bacon, sosis, daging deli, hingga hot dog adalah kelompok makanan yang memicu peradangan tinggi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Alessandro Villa, D.D.S., Ph.D., M.P.H., yang menjabat sebagai Kepala Bagian Kedokteran Mulut di Herbert Wertheim Cancer Institute, Florida Selatan.

Beliau menekankan kalau ada hubungan kuat antara konsumsi daging olahan dengan meningkatnya risiko kanker rongga mulut dan orofaring.

Bahkan, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) sudah memberikan label karsinogen Grup 1 untuk daging olahan.

Artinya, buktinya sudah cukup kuat kalau makanan ini bisa memicu kanker pada manusia.

Duh, ngeri juga ya!

Bahaya Tersembunyi di Balik Pengawet dan Cara Masak

Kenapa sih daging olahan itu berbahaya?

Salah satu alasannya adalah kandungan nitrat dan nitrit.

Menurut Tejal Parekh, seorang ahli diet onkologi, kedua zat kimia ini sengaja ditambahkan ke daging supaya lebih awet dan warnanya tetap menarik.

Namun, di dalam tubuh, mereka bisa berubah jadi senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik.

Penelitian pun secara konsisten menghubungkan zat-zat ini dengan berbagai jenis kanker, nggak cuma di mulut, tapi juga merambah ke payudara hingga prostat.

Selain bahan kimianya, cara kita memasak juga berpengaruh besar, lho.

Kalau kamu hobi masak daging sampai sangat kering di wajan panas atau membakar sosis di atas panggangan api yang menyambar-nyambar, kamu harus ekstra hati-hati.

Kelly F.

Moyer mengingatkan bahwa suhu tinggi saat memasak bisa menghasilkan zat bernama hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA).

Zat-zat ini jahat banget karena bisa langsung merusak DNA dalam sel tubuh kita dan memicu stres oksidatif.

Keseimbangan Bakteri di Mulut yang Terganggu

Kamu mungkin belum tahu kalau mulut kita itu sebenarnya rumah buat lebih dari 700 jenis bakteri. Banyak di antaranya adalah bakteri baik yang bertugas menjaga kesehatan kita. Tapi, kalau pola makan kita buruk—terutama kalau terlalu banyak makan makanan ultra-proses—keseimbangan bakteri ini bisa hancur. Moyer menyebut kondisi ketidakseimbangan ini sebagai disbiosis. Ketika mikrobioma mulut terganggu, peradangan bakal sering terjadi dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi sel kanker untuk muncul.

Peradangan tingkat rendah yang terus-menerus ini bikin tubuh kita capek dan akhirnya kehilangan kemampuan buat memperbaiki sel-sel yang rusak.

Bayangkan kalau setiap hari kita "membombardir" mulut dengan makanan yang bikin radang, lama-lama benteng pertahanan tubuh kita bakal jebol juga.

Itulah kenapa menjaga pola makan bukan cuma soal penampilan, tapi soal menjaga ekosistem mikro di dalam mulut kita agar tetap seimbang.

Jangan Abaikan Gejala Kecil di Mulut

Seringkali kanker mulut telat dideteksi karena gejalanya dianggap sepele, seperti sariawan biasa.

Ammar Sukari, M.D., ahli onkologi medis dari Barbara Ann Karmanos Cancer Institute, menyarankan kita untuk segera periksa ke dokter kalau menemukan tanda-tanda mencurigakan.

Misalnya, sariawan yang nggak kunjung sembuh lebih dari dua sampai tiga minggu, atau ada bercak merah dan putih yang nggak jelas asalnya di lidah atau gusi.

Jangan tunggu sampai parah ya!

Selain sariawan, waspadai juga kalau ada benjolan atau pembengkakan yang nggak hilang-hilang di area pipi, bibir, atau bawah rahang.

Begitu juga kalau kamu merasa ada bagian di mulut yang tiba-tiba mati rasa atau nyeri tanpa alasan.

Ingat, deteksi dini itu kunci utama!

Peluang untuk sembuh bakal jauh lebih tinggi kalau kita cepat tanggap menangani perubahan-perubahan kecil di tubuh kita sendiri.

Langkah Nyata Mengurangi Risiko

Terus, apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Tenang, belum terlambat kok buat berubah.

Langkah paling gampang adalah dengan mulai memperbanyak makan buah dan sayuran segar.

Kandungan antioksidan di dalamnya bisa membantu menangkal kerusakan sel.

Selain itu, coba deh kurangi jatah makan daging olahan dan makanan ultra-proses secara bertahap.

Nggak harus berhenti total sekaligus, tapi mulai batasi frekuensinya agar tubuh punya waktu untuk pulih.

Terakhir, jangan lupa buat rutin cek kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.

Dokter gigi seringkali jadi orang pertama yang bisa melihat ada yang nggak beres di mulut kita sebelum gejalanya terasa sakit.

Dengan kombinasi pola makan sehat dan pemeriksaan rutin, kamu sudah melakukan investasi besar buat masa depan yang lebih sehat.

Yuk, mulai lebih sayang sama mulut sendiri dari sekarang!



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa saja jenis daging olahan yang paling berisiko?

Berdasarkan penjelasan para ahli, daging olahan seperti bacon, sosis, ham, hot dog, dan daging deli memiliki risiko tertinggi karena mengandung pengawet nitrat dan sering diolah dengan suhu tinggi.

Kenapa memasak dengan suhu tinggi bisa memicu kanker?

Suhu tinggi saat memanggang atau membakar daging menghasilkan zat kimia PAH dan HAA yang dapat merusak DNA manusia secara langsung dan memicu sel abnormal.

Berapa lama sariawan dianggap berbahaya?

Jika Anda mengalami sariawan yang tidak kunjung sembuh dalam waktu dua hingga tiga minggu, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan medis untuk deteksi dini.

Apa itu disbiosis dalam kesehatan mulut?

Disbiosis adalah kondisi ketidakseimbangan mikrobioma atau bakteri di dalam mulut yang dipicu oleh pola makan buruk, yang kemudian dapat memicu peradangan kronis.



Ditulis oleh: Lestari Ningrum

Posting Komentar