Strategi Bima Arya Bangun Kepercayaan Rakyat Lewat Peran Humas Baru

Table of Contents
Jembatani Kebijakan Pemerintah, Wamendagri Bima Perkuat Peran Humas
Strategi Bima Arya Bangun Kepercayaan Rakyat Lewat Peran Humas Baru

VGI.CO.ID - Pernah nggak sih kamu merasa kalau omongan pemerintah itu susah dimengerti atau terasa jauh dari kehidupan kita sehari-hari? Nah, ternyata masalah "nyambung nggak nyambung" ini jadi perhatian serius bagi Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto. Di tengah hiruk-pikuk informasi digital, Bima Arya mengingatkan kalau peran Hubungan Masyarakat alias Humas bukan cuma sekadar bikin rilis berita atau unggah foto di media sosial. Lebih dari itu, mereka adalah jembatan hidup yang menentukan apakah sebuah kebijakan bakal didukung warga atau malah dicuekin.

Bertempat di Jakarta, dalam laporan yang dikutip pada Minggu (18/10/2026), Bima Arya blak-blakan soal tantangan komunikasi publik di masa sekarang. Menurutnya, masalah utama yang kita hadapi adalah bagaimana instansi pemerintah bisa benar-benar punya ikatan atau related dengan masyarakat. Ia menekankan bahwa percuma pemerintah bikin program hebat kalau orang-orang di lapangan nggak merasa kalau itu buat mereka. Kuncinya, kata Bima, adalah tetap terhubung dengan kenyataan yang ada di tengah-tengah warga, bukan cuma sibuk dengan data di atas meja.

Bukan Sekadar Jago Komunikasi, Tapi Harus Bisa Dipercaya

Dalam sebuah acara keren bertajuk "Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia", Bima Arya menjelaskan kalau komunikasi publik itu nggak boleh searah.

Kita nggak bisa cuma "ngomong" tapi nggak mau "mendengar".

Ia berpendapat kalau informasi soal arah kebijakan dan manfaat pembangunan baru bisa sampai ke hati masyarakat kalau penyampainya paham apa yang sebenarnya dibutuhkan orang-orang.

Jadi, humas itu harus punya telinga yang tajam buat menyerap aspirasi sebelum mereka mulai bicara.

Satu hal yang paling ditekankan oleh mantan Wali Kota Bogor ini adalah soal trust atau kepercayaan. Kamu pasti setuju kan, kalau sekali kita nggak percaya sama seseorang, mau dia ngomong sejujur apa pun pasti bakal kita ragukan? Nah, Bima bilang kalau kepercayaan publik itu fondasi yang nggak bisa ditawar. Cara bangunnya? Lewat konsistensi. Apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan itu harus sejalan. Nggak boleh ada beda antara janji manis di podium dengan aksi nyata di lapangan.

Dunia Ini Lebih Luas dari Sekadar Layar Gadget

Meskipun sekarang zamannya serba digital, Bima Arya mengingatkan kita semua supaya jangan sampai terjebak dalam "gelembung" layar HP.

Memang benar media sosial itu penting banget buat komunikasi dua arah secara cepat.

Tapi, interaksi langsung seperti dialog, silaturahmi, dan membangun jejaring secara fisik itu punya kekuatan yang nggak bisa digantikan oleh algoritma apa pun.

Ia ingin para praktisi humas berani keluar dari zona nyaman, turun ke jalan, dan ngobrol langsung sama warga untuk memperkuat hubungan emosional.

"Bagaimana caranya? Dialog, komunikasi, silaturahmi, networking, jejaring, dan lain-lain. Karena dunia ini tidak hanya selebar layar gadget kita," tutur Bima dengan penuh semangat. Kalimat ini jadi pengingat buat kita semua bahwa sentuhan manusiawi (human touch) tetap menjadi senjata paling ampuh dalam diplomasi dan komunikasi. Dengan cara ini, humas pemerintah nggak lagi dipandang sebagai robot pembaca teks, tapi sebagai kawan diskusi yang asyik bagi masyarakat.

Menghidupkan Narasi Kebangsaan Lewat Cerita Nyata

Selain soal teknis komunikasi, Bima Arya juga mendorong penguatan narasi kebangsaan.

Tapi tenang, ini bukan soal hafalan teks proklamasi atau pidato kaku yang membosankan.

Bima ingin narasi ini diisi dengan kisah-kisah inspiratif dari tokoh-tokoh daerah di seluruh Indonesia.

Menurutnya, banyak banget sosok inspiratif di pelosok negeri yang keteladanannya bisa jadi bahan bakar buat menumbuhkan semangat kebersamaan dan identitas nasional kita.

Dengan membagikan kisah nyata yang menyentuh, pesan pemerintah nggak akan lagi jadi retorika kosong.

Narasi-narasi positif ini diharapkan bisa jadi sumber inspirasi yang nggak ada habisnya buat masyarakat.

Intinya, pemerintah pengen kita semua merasa memiliki bangsa ini lewat cerita-cerita keberhasilan kecil maupun besar yang terjadi di sekitar kita.

Jadi, humas punya tugas mulia untuk menenun kepercayaan itu kembali, satu demi satu, hingga menjadi kekuatan besar yang menggerakkan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Ke depannya, tantangan humas pemerintah tentu bakal makin berat seiring dengan cepatnya perubahan zaman. Namun, dengan prinsip leading by example yang disampaikan Bima Arya, harapannya ada standar baru dalam berkomunikasi. Bukan cuma soal siapa yang paling keras suaranya di internet, tapi siapa yang paling konsisten tindakannya dan paling tulus dalam mendengarkan rakyat. Yuk, kita pantau terus bagaimana perubahan ini bakal berdampak pada kebijakan-kebijakan yang menyentuh hidup kita sehari-hari!



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa peran utama Humas pemerintah menurut Bima Arya?

Menurut Bima Arya, Humas berperan sebagai jembatan untuk menyampaikan arah kebijakan, tujuan program, dan manfaat pembangunan agar dipahami masyarakat secara relevan dan tepat sasaran.

Mengapa kepercayaan publik (trust) sangat ditekankan?

Kepercayaan adalah fondasi utama.

Bima menjelaskan bahwa trust dibangun melalui konsistensi antara nilai, ucapan, dan perbuatan, serta pemberian teladan nyata (leading by example).

Bagaimana cara Humas menyerap aspirasi masyarakat menurut Wamendagri?

Melalui komunikasi dua arah yang seimbang antara pemanfaatan media digital dan interaksi langsung seperti dialog, silaturahmi, serta networking di lapangan.

Apa yang dimaksud dengan menghidupkan narasi kebangsaan?

Artinya menyampaikan kisah-kisah inspiratif dan keteladanan tokoh bangsa dari berbagai daerah sebagai sumber motivasi, bukan sekadar menggunakan retorika belaka.



Ditulis oleh: Rendi Prakoso

Posting Komentar