Mengenal Geng Legendaris Penguasa Ekonomi Indonesia Sebelum Era Sembilan Naga

Table of Contents
Kisah Gang of 4 Penguasa Bisnis di Indonesia, Ini Sosoknya
Mengenal Geng Legendaris Penguasa Ekonomi Indonesia Sebelum Era Sembilan Naga

VGI.CO.ID - Pernah dengar istilah '9 Naga'? Di zaman sekarang, julukan itu sering banget dikaitkan dengan deretan pengusaha paling tajir yang konon mengendalikan roda ekonomi kita. Tapi, kamu tahu nggak sih kalau jauh sebelum istilah itu populer, Indonesia punya kelompok penguasa ekonomi yang nggak kalah sakti? Orang-orang menyebut mereka 'Gang of Four' atau 'Empat Sekawan'. Mereka inilah arsitek di balik raksasa bisnis yang produknya mungkin sedang kamu konsumsi sekarang, mulai dari mi instan sampai belanjaan di minimarket pojok jalan.

Geng legendaris ini bukan sembarang kumpul-kumpul.

Mereka terdiri dari empat tokoh besar: Sudono Salim (Liem Sioe Liong), Djuhar Sutanto (Liem Oen Kian), Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono.

Kombinasi keempatnya terbukti sangat maut di era Orde Baru.

Lewat bendera Salim Group, mereka nggak cuma jualan satu atau dua barang, tapi membangun gurita bisnis yang memegang kendali atas banyak sektor krusial.

Tapi, tahukah kamu kalau pertemuan mereka itu sebenarnya terjadi secara tidak sengaja sekitar tahun 1968?

Sebelum jadi akrab, mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing dan nggak saling kenal, lho!

Pertemuan Tak Terduga di Rumah Jenderal

Cerita persahabatan yang mengubah sejarah ekonomi Indonesia ini bermula dari sebuah kejadian unik di tahun 1963.

Saat itu, Sudono Salim sudah mulai dikenal sebagai pedagang ekspor-impor yang cukup gesit.

Nah, suatu hari Salim dipanggil oleh Soeharto (yang kala itu masih berpangkat Jenderal) ke rumahnya di kawasan Menteng.

Di sanalah dia bertemu dengan Sudwikatmono atau yang akrab dipanggil Dwi.

Lucunya, saat itu Dwi sedang bertugas piket menjaga rumah Soeharto, karena dia memang masih punya hubungan saudara sepupu dengan sang Jenderal.

Menurut catatan sejarah dalam buku Liem Sioe Liong's Salim Group karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, Salim sempat ngobrol serius dengan Soeharto selama satu jam. Begitu mau pulang, tiba-tiba Salim nyamperin Dwi dan nyuruh dia datang ke kantor Salim di Jalan Asemka besok pagi. Siapa sangka, undangan singkat itu bakal jadi titik balik kehidupan Dwi selamanya. Dia yang tadinya cuma 'penjaga rumah' biasa, tiba-tiba diajak masuk ke dunia bisnis kelas kakap.

Dapat Rezeki Nomplok Layaknya Durian Runtuh

Besoknya, Dwi beneran datang ke kantor 'Om Liem' (panggilan akrab Salim).

Di sana, dia langsung ditawari posisi untuk gabung ke bisnis Salim.

Alasannya simpel tapi kuat: Pak Harto sendiri yang kasih rekomendasi nama Dwi.

Tawaran yang diberikan pun nggak main-main.

Dwi ditawari gaji tiap bulan sebesar Rp1 juta plus jatah saham di perusahaan.

Bayangkan, sebelumnya gaji Dwi cuma Rp400 perak!

Jelas saja dia kaget setengah mati dapat tawaran yang nilainya ribuan kali lipat dari penghasilan lamanya.

Tapi, ada alasan strategis di balik penunjukan Dwi ini.

Di masa itu, Sudono Salim belum resmi menyandang status Warga Negara Indonesia (WNI).

Karena status kewarganegaraan itu, Salim susah banget kalau mau urus administrasi atau pinjam modal ke bank.

Di sinilah peran Dwi jadi sangat krusial.

Soeharto sengaja naruh Dwi di sana sebagai 'jaminan' sekaligus perwakilan lokal.

Dwi akhirnya masuk ke PT Hanurata, perusahaan milik yayasan Soeharto, dengan kepemilikan saham 10 persen.

Sejak saat itulah, duet Salim dan Dwi makin solid dan nggak terpisahkan.

Lahirnya Formasi Lengkap Empat Sekawan

Setelah duet Salim-Dwi jalan, formasi 'Gang of Four' makin lengkap dengan hadirnya Djuhar Sutanto.

Tahun 1966, ada perusahaan bernama Kongsi Bintang Lima yang lagi pecah kongsi.

Djuhar yang punya peran penting di sana akhirnya dikenalin ke Salim oleh Soeharto.

Ternyata, Salim dan Djuhar punya visi bisnis yang klop banget.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1968, barulah Ibrahim Risjad ikut bergabung.

Risjad tadinya adalah karyawan di CV Waringin, perusahaan perdagangan yang nantinya diambil alih oleh Salim dan Djuhar.

CV Waringin inilah yang jadi cikal bakal kekuatan mereka.

Awalnya, mereka fokus di perdagangan komoditas primer kayak kopi dan karet remah di Sumatra.

Karena Salim dan Djuhar belum jadi WNI waktu itu, semua urusan surat-menyurat dan administrasi resmi menggunakan nama Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad.

Inilah alasan kenapa mereka disebut 'Empat Sekawan'.

Masing-masing punya peran: ada yang pegang modal dan strategi, ada yang jadi wajah resmi perusahaan di depan hukum negara.

Membangun Gurita Bisnis yang Menguasai Pasar

Begitu status WNI Salim dan Djuhar beres, ditambah lagi Soeharto resmi jadi Presiden, bisnis mereka langsung 'tancap gas' tanpa rem.

Proyek besar pertama mereka adalah PT Bogasari yang menguasai pasar tepung terigu.

Setelah itu, ekspansi mereka makin gila-gilaan lewat Salim Group.

Kamu pasti familiar dengan nama-nama kayak Indocement untuk urusan semen, Indomilk buat susu, sampai Indofood yang bikin mi instan sejuta umat.

Belum lagi urusan otomotif lewat Indomobil dan tempat belanja harian kita di Indomaret.

Bisa dibilang, hampir semua aspek kebutuhan hidup rakyat Indonesia saat itu ada campur tangan dari 'Gang of Four'.

Dukungan penuh dari pemerintah masa itu bikin jalan mereka makin mulus buat jadi raja pasar.

Meskipun akhirnya masing-masing dari mereka punya kerajaan bisnis sendiri, pondasi yang mereka bangun di Salim Group tetap jadi legenda yang sulit ditandingi hingga hari ini.

Tanpa pertemuan nggak sengaja di rumah Menteng itu, mungkin peta ekonomi Indonesia sekarang bakal beda banget ceritanya, ya!



Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapa saja anggota Gang of Four penguasa bisnis Indonesia?

Anggota Gang of Four atau Empat Sekawan terdiri dari Sudono Salim (Liem Sioe Liong), Djuhar Sutanto (Liem Oen Kian), Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono.

Apa nama perusahaan utama yang dikelola oleh Gang of Four?

Perusahaan utama yang menjadi payung bisnis mereka adalah Salim Group, yang membawahi brand besar seperti Indofood, Bogasari, Indocement, dan Indomaret.

Bagaimana awal mula pertemuan Sudono Salim dan Sudwikatmono?

Mereka bertemu pertama kali di tahun 1963 di kediaman Soeharto di Menteng, di mana Sudwikatmono saat itu sedang bertugas menjaga rumah saudara sepupunya tersebut.

Mengapa Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad sangat penting bagi Salim di awal bisnis?

Karena Sudono Salim dan Djuhar Sutanto saat itu belum menjadi WNI, sehingga mereka membutuhkan Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad untuk mengurus administrasi hukum dan pinjaman bank.



Ditulis oleh: Melati Kusuma

Posting Komentar