Mengapa Raksasa Sawit Ramai-Ramai Bantah Tuduhan Penyebab Kabut Asap Singapura?

Table of Contents
Golden Agri hingga Wilmar Angkat Bicara soal Kebakaran Lahan di RI
Mengapa Raksasa Sawit Ramai-Ramai Bantah Tuduhan Penyebab Kabut Asap Singapura?

VGI.CO.ID - Pernah nggak sih kamu merasa sesak napas gara-gara asap kiriman? Nah, belakangan ini masalah kabut asap lintas negara atau yang sering disebut transboundary haze kembali bikin gerah negara tetangga, terutama Singapura. Gara-gara masalah ini, otoritas bursa di sana, Singapore Exchange Regulation (SGX RegCo), nggak tinggal diam. Mereka langsung minta penjelasan tegas ke beberapa emiten besar yang operasionalnya ada di Indonesia. Mereka pengen tahu, sejauh mana sih keterkaitan perusahaan-perusahaan ini dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bikin langit jadi abu-abu.

Nggak pakai lama, perusahaan-perusahaan raksasa kelapa sawit ini pun langsung angkat bicara.

Mulai dari Golden Agri-Resources sampai Wilmar International, semuanya kompak memberikan klarifikasi.

Intinya, mereka membantah kalau jadi biang kerok kebakaran tersebut.

Mereka mengklaim sudah punya aturan main yang sangat ketat soal lingkungan.

Jadi, kalau ada asap yang menyeberang ke negara tetangga, mereka merasa itu bukan berasal dari aktivitas pembukaan lahan yang mereka lakukan secara sengaja.

Komitmen Lama Golden Agri dan Wilmar: Bukan Pemain Baru Soal Lingkungan

Mari kita bedah satu-satu. Golden Agri-Resources, salah satu pemain besar di industri ini, menegaskan kalau mereka nggak punya info apa pun yang menunjukkan operasional mereka jadi penyebab asap. Mereka ini ternyata sudah punya rekam jejak yang cukup panjang soal urusan anti-bakar. Bayangkan saja, kebijakan tanpa pembakaran atau zero burning policy sudah mereka jalankan sejak tahun 1997. Nggak cuma itu, sejak 2010, mereka juga sudah punya aturan no peat policy alias dilarang keras mengutak-atik lahan gambut. Aturan ini nggak cuma buat mereka sendiri, tapi juga wajib ditaati sama semua pemasok yang kerja sama dengan mereka.

Setali tiga uang dengan Golden Agri, Wilmar International juga nggak mau kalah. Mereka sudah menerapkan larangan bakar-bakar lahan sejak tahun 2006 di seluruh wilayah kerjanya. Mau itu buat buka lahan baru, persiapan tanam, sampai pengembangan area, penggunaan api itu haram hukumnya bagi mereka. Bahkan, lewat keterbukaan informasi ke bursa SGX pada Minggu, 18 Oktober 2026, Wilmar bilang kalau mereka udah nggak nanam sawit baru di Indonesia sejak 2013. Sekarang, kegiatan mereka cuma fokus buat tanam ulang (replanting) di lahan yang sudah ada, itu pun pakai alat berat mekanis, bukan dibakar.

Canggihnya Pemantauan: Pakai Satelit NASA dan NOAA

Lalu, gimana dengan PT Salim Ivomas Pratama? Anak usaha Indofood ini punya cara yang lumayan canggih buat jaga-jaga. Selain tetap konsisten sama aturan dilarang bakar dan pakai cara mekanis buat bersihin lahan yang nggak produktif, mereka juga memantau kondisi lapangan dari langit. Mereka menggunakan data satelit milik Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) dan juga satelit NASA yang terkenal itu. Dengan teknologi ini, mereka bisa memantau titik-titik panas atau hotspot secara real-time.

Jadi, kalau ada potensi api yang muncul di area perkebunan, mereka bisa langsung gercep (gerak cepat) buat merespons.

Menurut klaim mereka, kejadian karhutla yang belakangan heboh ini nggak memberikan dampak yang besar alias nggak ada dampak material terhadap bisnis maupun kelangsungan operasional perusahaan.

Semuanya masih berjalan normal seperti biasa meski ada isu lingkungan yang melanda.

Fenomena El Niño dan "Asap Kiriman" Tetangga

Kalau kita geser ke emiten lain seperti First Resources dan Bumitama Agri, mereka punya penjelasan yang sedikit berbeda tapi masuk akal.

Mereka mengaitkan kebakaran yang terjadi tahun ini dengan fenomena El Niño yang bikin cuaca jadi panas ekstrem dan kering kerontang.

Dalam pernyataannya di Bursa Singapura, First Resources bilang kalau banyak kasus kebakaran sebenarnya mulai dari luar wilayah perusahaan mereka.

Masalahnya, api itu merambat masuk ke area konsesi mereka.

Kadang-kadang, apinya sudah terlalu gede dan menyebar cepat banget, jadi susah dikendalikan meski tim pemadam mereka sudah berjuang mati-matian.

Lim Gunawan Hariyanto, bos besar Bumitama Agri, juga menegaskan hal yang serupa.

Berdasarkan investigasi awal mereka, belum ada bukti kalau operasional grup mereka yang jadi pemicu awal api.

Meski begitu, nama mereka sempat terseret dalam laporan Greenpeace yang rilis tanggal 5 Oktober.

Laporan itu menyebutkan beberapa perusahaan, termasuk First Borneo Plantations, punya keterkaitan dengan pemilik lahan yang dinilai berkontribusi terhadap kabut asap tahun ini.

Inilah yang kemudian memicu respons keras dari pemerintah Singapura.

Singapura Nggak Main-Main: Tujuh Perusahaan Masuk Radar

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, sepertinya sudah habis kesabaran.

Beliau menyatakan kalau Singapura bakal kirim surat peringatan atau pemberitahuan tindakan pencegahan kepada tujuh perusahaan di Indonesia.

Langkah ini diambil setelah Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) melakukan penyelidikan mendalam.

Singapura merasa tujuh perusahaan ini harus bertanggung jawab atas polusi udara yang bikin warga mereka nggak nyaman.

Tentu saja, ini jadi babak baru dalam hubungan diplomasi lingkungan antara Indonesia dan Singapura.

Di satu sisi, perusahaan sawit sudah membeberkan semua bukti dan kebijakan anti-bakar mereka.

Di sisi lain, data satelit dan fakta di lapangan menunjukkan asap masih terus mengepul.

Sekarang, bola panasnya ada di tangan regulator untuk membuktikan siapa yang sebenarnya lalai.

Buat kita yang memantau, ini jadi pengingat penting kalau urusan lingkungan itu dampaknya bisa lintas batas negara dan memengaruhi reputasi bisnis di kancah internasional.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu kebijakan zero burning policy yang dimention perusahaan?

Kebijakan zero burning adalah aturan internal perusahaan yang melarang keras pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar, dan mewajibkan penggunaan cara mekanis (alat berat).

Mengapa SGX Singapura ikut campur dalam masalah kebakaran di Indonesia?

Karena banyak perusahaan sawit besar tersebut mencatatkan sahamnya di Bursa Singapura (SGX).

Sebagai regulator, SGX wajib memastikan emiten mereka mematuhi standar ESG (Environmental, Social, and Governance).

Siapa saja perusahaan yang dimintai klarifikasi oleh Singapura?

Beberapa di antaranya adalah Golden Agri-Resources, Wilmar International, PT Salim Ivomas Pratama, First Resources, dan Bumitama Agri.

Apa peran satelit NASA dan NOAA dalam kasus ini?

Satelit tersebut digunakan perusahaan untuk memantau titik panas (hotspot) di lahan mereka secara akurat guna mendeteksi kebakaran sejak dini.



Ditulis oleh: Ahmad Fauzi

Posting Komentar