Kisah Unik di Balik Merek Bentoel: Dari Mimpi Ubi Hingga Raksasa Global

Table of Contents
Kisah Raja Rokok Indonesia, Ganti Nama Produk usai Mimpi
Kisah Unik di Balik Merek Bentoel: Dari Mimpi Ubi Hingga Raksasa Global

VGI.CO.ID - Pernah terpikir nggak, sih, kalau sebuah kesuksesan bisnis bernilai miliaran dolar bisa berawal dari bunga tidur alias mimpi? Di Indonesia, hal ini benar-benar terjadi pada salah satu merek rokok paling legendaris, Bentoel. Siapa sangka kalau nama besar yang sudah kita kenal puluhan tahun ini lahir setelah sang pendirinya mendapatkan sebuah penglihatan saat tertidur lelap di area pemakaman keramat. Bukan cuma soal mistis, ini adalah perjalanan panjang sebuah usaha lokal yang berhasil menembus pasar internasional meski jalannya nggak selalu mulus.

Cerita ini dimulai dari seorang pria kelahiran Bojonegoro bernama Ong Hok Liong. Sekitar tahun 1930-an, Ong bersama rekannya, Tjoa Sioe Bian, memutuskan untuk mengadu nasib dengan membangun pabrik rokok di Malang, Jawa Timur. Saat itu, mereka nggak langsung pakai nama Bentoel, lho. Pabrik kecil tersebut awalnya diberi nama yang agak kebarat-baratan, yaitu Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong. Seiring berjalannya waktu, dalam buku Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya (2011), Rudy Badil mencatat kalau perusahaan ini sempat berganti nama lagi menjadi Hien An Kongsie.

Ziarah yang Mengubah Nasib di Gunung Kawi

Pada masa awal produksinya, produk mereka sebenarnya sudah cukup beragam.

Kamu mungkin belum pernah dengar merek rokok tjap Burung, tjap Klabang, atau Djeroek Manis, tapi itulah produk andalan Ong kala itu.

Sayangnya, penjualan merek-merek tersebut terasa biasa saja.

Sampai akhirnya di tahun 1951, perusahaan berganti nama jadi NV Pertjetakan Liem An.

Namun, titik balik yang sesungguhnya baru terjadi tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1954.

Waktu itu, Ong Hok Liong sedang melakukan ziarah ke makam Mbah Djunggo yang berlokasi di lereng Gunung Kawi.

Saat beristirahat dan tertidur di dekat area pemakaman, Ong bermimpi melihat ubi talas yang sangat jelas.

Bingung dengan arti mimpinya, dia pun bertanya kepada juru kunci makam di sana.

Menurut sang juru kunci, mimpi itu adalah petunjuk gaib dari Mbah Djunggo agar Ong segera mengganti nama pabrik rokoknya.

Tanpa pikir panjang, Ong memilih nama "Bentoel", yang merupakan istilah bahasa Jawa untuk ubi talas.

Penulisannya sendiri masih memakai ejaan lama, sesuai zamannya sebelum ada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Masa Kejayaan dan Menjadi Raksasa Nasional

Percaya atau nggak, setelah berganti nama menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel, bisnis Ong langsung melejit drastis.

Bentoel bukan lagi sekadar pabrik rokok rumahan, melainkan berubah menjadi kekuatan ekonomi baru di tanah air.

Bayangkan saja, sebelum memasuki era 1960-an, perusahaan ini sudah mampu menyerap tenaga kerja hingga 3.000 orang.

Sebuah angka yang sangat fantastis untuk ukuran perusahaan lokal saat itu.

Kesuksesan ini bahkan diakui oleh pengamat sejarah. George Quinn dalam bukunya Bandit Saints of Java (2019) menuliskan kalau saat Ong Hok Liong tutup usia pada tahun 1967, ia sudah menyandang status sebagai multi-jutawan. Bentoel sendiri telah bertransformasi menjadi produsen rokok pribumi terbesar kedua di seluruh penjuru Indonesia. Nama ubi talas yang tadinya cuma muncul di mimpi, ternyata benar-benar membawa rezeki nomplok bagi keluarga besar Ong.

Badai Utang yang Mengguncang Perusahaan

Tapi ya, namanya dunia bisnis, pasti ada pasang surutnya.

Memasuki dekade berikutnya, Bentoel mulai menghadapi masalah keuangan yang cukup serius.

Mereka terjebak dalam pusaran utang yang luar biasa besar.

Awalnya, Bentoel kesulitan melunasi pinjaman ke BRI dan Bank Bumi Daya yang mencapai angka US$170 juta.

Kondisi makin parah karena beban utang ke kreditor asing juga membengkak, hingga total kewajiban perusahaan menyentuh angka US$350 juta.

Karena nggak sanggup membayar, keluarga Ong akhirnya harus merelakan 70% saham mereka untuk dijual.

Saat itu, terjadi perebutan sengit untuk mendapatkan aset berharga ini.

Nama-nama besar ikut bersaing, termasuk Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto.

Namun, pada akhirnya kemenangan jatuh ke tangan Peter Sondakh melalui Rajawali Wira Bhakti Utama yang berhasil mengambil alih kepemilikan mayoritas perusahaan.

Transformasi Menuju Era Modern

Setelah pergantian kepemilikan, struktur perusahaan kembali dibongkar.

Pada tahun 1997, aset-aset Bentoel dipindahkan ke entitas baru yang dinamakan PT Bentoel Prima, sementara perusahaan lama PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel resmi dibubarkan.

Langkah ini diambil untuk menyehatkan kembali bisnis yang sempat goyang tersebut.

Perubahan nggak berhenti di situ, karena pada tahun 2000, namanya kembali berubah menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk setelah melantai di bursa saham.

Kini, wajah Bentoel sudah jauh berbeda.

Merek yang lahir dari mimpi di kaki Gunung Kawi ini sekarang menjadi bagian dari jaringan global.

British American Tobacco (BAT) saat ini memegang kendali penuh dengan kepemilikan saham mencapai 92,48%, sedangkan sisanya dimiliki oleh masyarakat umum.

Meskipun kepemilikannya sudah bukan lagi di tangan keluarga Ong, nama Bentoel tetap berdiri kokoh sebagai salah satu bukti sejarah panjang industri kretek di Indonesia.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapa pendiri asli perusahaan rokok Bentoel?

Bentoel didirikan oleh Ong Hok Liong bersama rekannya Tjoa Sioe Bian pada tahun 1930-an di Malang, Jawa Timur.

Kenapa nama rokoknya menggunakan kata 'Bentoel'?

Nama 'Bentoel' (ubi talas) dipilih setelah Ong Hok Liong bermimpi melihat ubi tersebut saat berziarah di makam Mbah Djunggo, Gunung Kawi, pada tahun 1954.

Apa nama perusahaan Bentoel sebelum menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk?

Sebelumnya perusahaan ini pernah bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong, Hien An Kongsie, NV Pertjetakan Liem An, PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel, dan PT Bentoel Prima.

Siapa pemegang saham mayoritas Bentoel saat ini?

Saat ini, mayoritas saham Bentoel (sekitar 92,48%) dipegang oleh British American Tobacco (BAT).



Ditulis oleh: Melati Kusuma

Posting Komentar