Harga Pakan Melambung Tinggi, Bisnis Ayam Rakyat Terancam Berhenti Total
VGI.CO.ID - Pernahkah Anda membayangkan piring makan kita tanpa kehadiran ayam goreng atau semur ayam? Kabar kurang sedap datang dari dunia peternakan tanah air. Saat ini, para peternak ayam broiler mandiri sedang berada di titik nadir. Jika kondisi pasar tidak segera membaik, dalam waktu sekitar dua bulan saja, kita mungkin akan melihat banyak dari mereka yang terpaksa menutup kandangnya secara permanen. Masalahnya klasik tapi mematikan: biaya operasional terus membumbung tinggi, sementara harga jual ayam di tingkat peternak justru terjun bebas.
Berdasarkan data yang dihimpun pada Minggu, 18 Oktober 2026, situasi di lapangan memang terlihat sangat mengkhawatirkan. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengungkapkan sebuah fakta pahit. Harga ayam hidup atau yang sering disebut live bird di tingkat peternak sempat menyentuh angka Rp20.000 hingga Rp20.500 saja per kilogramnya. Angka ini tentu sangat jauh dari harapan, mengingat segala jerih payah dan biaya yang sudah mereka keluarkan untuk membesarkan ayam-ayam tersebut dari bibit hingga siap panen.
Jurang Lebar Antara Biaya Pakan dan Harga Jual
Kenapa sih kondisi ini disebut kritis?
Bayangkan saja, di saat harga jual ayam sedang lesu, harga pakan justru tidak mau kompromi.
Saat ini, biaya untuk membeli makanan ternak sudah bertengger di kisaran Rp9.700 sampai Rp10.000 untuk setiap kilogramnya.
Parahnya lagi, tren ini diprediksi masih punya peluang untuk terus naik.
Selisih yang tipis ini membuat napas para peternak semakin sesak karena margin keuntungan yang seharusnya ada malah berubah jadi tumpukan utang.
Asep Saepudin, salah satu anggota dari Permindo, memaparkan betapa beratnya tekanan yang dirasakan oleh rekan-rekan sejawatnya.
Menurut Asep, kenaikan harga pakan adalah faktor utama yang membuat para peternak mandiri seperti kehilangan pegangan.
Apalagi, pemulihan harga jual ayam di pasar tidak kunjung terjadi secara signifikan.
Beliau secara tegas menyebutkan bahwa kenaikan biaya pakan ini adalah momok yang paling menakutkan bagi keberlangsungan usaha mereka saat ini.
Kerugian Nyata di Setiap Ekor Ayam
Kalau kita hitung-hitungan secara kasar namun akurat, setiap satu ekor ayam yang dijual ternyata menyumbang kerugian yang cukup dalam.
Asep memperkirakan bahwa saat ini peternak harus menanggung rugi sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per ekornya.
Coba kalikan jika satu peternak memiliki ribuan ekor ayam dalam satu siklus produksi.
Kerugian kumulatif ini tentu menguras habis modal yang mereka miliki.
Dampak jangka panjangnya sudah jelas: modal untuk memulai siklus produksi berikutnya sudah tidak ada lagi alias ludes terbakar rugi.
"Jika kondisi yang menyiksa ini dibiarkan terus tanpa ada intervensi, dua bulan lagi semua peternak mandiri bisa gulung tikar," ungkap Asep dalam keterangannya yang dikutip dari CNBC Indonesia.
Pernyataan ini bukan sekadar gertakan, melainkan alarm bahaya bagi ketahanan pangan kita.
Permindo, yang menaungi sekitar 180 anggota peternak mandiri, kini hanya bisa berharap ada langkah nyata dari pemangku kebijakan agar sektor ini tidak benar-benar hancur.
Masalah Bahan Baku dan Kelangkaan Jagung
Usut punya usut, mahalnya harga pakan ini juga dipicu oleh sulitnya mendapatkan bahan baku utama, yaitu jagung.
Saat ini, harga jagung di pasaran dilaporkan sudah menembus angka Rp8.400 per kilogram.
Masalahnya bukan cuma di harga, tapi barangnya pun susah dicari alias langka.
Kondisi kelangkaan ini otomatis memicu efek domino yang menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) pakan ternak.
Jika pemerintah tidak segera menjamin ketersediaan jagung dengan harga yang masuk akal dan kualitas standar industri, maka kualitas pakan ayam pun berisiko ikut menurun.
Selain soal jagung, Permindo juga menyoroti peran para peternak integrasi yang punya pengaruh besar dalam menentukan arah harga pasar.
Asep Saepudin menyarankan agar para pemain besar ini ikut menyesuaikan harga jual ayam hidup mereka.
Tujuannya satu, agar tercipta ekosistem harga yang lebih sehat bagi semua pihak, termasuk bagi para peternak kecil mandiri yang tidak memiliki modal sebesar perusahaan besar.
Solusi yang Diharapkan Peternak
Lalu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh para peternak ini agar mereka bisa selamat dari kebangkrutan?
Permindo sudah menyiapkan beberapa usulan konkret.
Pertama, mereka meminta agar harga pakan bisa ditekan kembali ke kisaran Rp8.000 hingga Rp8.500 per kilogram.
Kedua, mereka berharap pemerintah bisa menjaga agar harga jual ayam hidup minimal berada di angka Rp24.000 per kilogram.
Angka ini dinilai paling rasional untuk menutup modal produksi dan memberikan sedikit napas bagi peternak untuk menyambung hidup.
Langkah-langkah pengendalian harga ini dianggap sangat mendesak.
Tanpa adanya kebijakan yang berpihak pada peternak rakyat, dominasi pasar akan semakin timpang.
Kita tentu tidak ingin melihat industri protein hewani kita hanya dikuasai oleh segelintir korporasi besar, sementara peternak mandiri yang sudah turun-temurun menjaga pasokan ayam nasional harus hilang ditelan keadaan.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah dan pelaku industri besar untuk segera bertindak sebelum waktu dua bulan itu benar-benar habis.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa peternak ayam mandiri terancam bangkrut?
Hal ini disebabkan oleh ketimpangan antara harga pakan yang mahal (mencapai Rp10.000/kg) dengan harga jual ayam hidup yang sangat rendah (sekitar Rp20.000/kg).
Berapa kerugian yang dialami peternak saat ini?
Setiap ekor ayam yang diproduksi diperkirakan menyebabkan kerugian sebesar Rp4.000 hingga Rp5.000 bagi peternak.
Apa peran jagung dalam krisis ini?
Jagung adalah bahan baku utama pakan.
Harganya yang naik hingga Rp8.400/kg serta stoknya yang langka memicu kenaikan harga pakan secara keseluruhan.
Berapa harga ideal yang diusulkan oleh Permindo?
Permindo mengusulkan harga pakan turun ke Rp8.000-Rp8.500/kg dan harga jual ayam hidup minimal dijaga di angka Rp24.000/kg.
Ditulis oleh: Cahya Ningsih

Posting Komentar