Gawat! Langit Amazon Menghitam Akibat El Niño, Indonesia Juga Harus Waspada

Table of Contents
Senasib dengan RI, Kabut Asap juga Selimuti Negara Ini
Gawat! Langit Amazon Menghitam Akibat El Niño, Indonesia Juga Harus Waspada

VGI.CO.ID - Halo sobat pembaca! Pernah nggak sih kamu ngerasa napas sesak karena kabut asap yang nggak kunjung hilang? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Ternyata, nun jauh di sana, saudara-saudara kita di wilayah Amazon, Brasil, lagi ngalamin hal yang persis banget sama yang sering kita hadapi di Indonesia. Kabar terbaru dari citra satelit NASA per tanggal 12 Oktober 2026 nunjukin pemandangan yang bikin merinding: asap tebal menyelimuti jantung hutan hujan terbesar di dunia itu. Fenomena ini bukan cuma soal pohon yang tumbang, tapi soal udara yang kita hirup bareng-bareng di planet ini.

Kondisi di sana bener-bener lagi nggak oke.

Bayangin aja, di Manaus, salah satu kota paling gede di kawasan Amazon, udara udah masuk kategori bahaya.

Konsentrasi debu halus yang ukurannya super kecil alias PM2.5 di sana udah nembus angka 135 mikrogram per meter kubik.

Angka ini jauh di atas batas aman, lho!

Efeknya?

Kehidupan kota seolah berhenti total.

Sekolah-sekolah terpaksa libur, acara olahraga dibatalin, dan kegiatan publik dilarang demi keselamatan warga.

Rasanya kayak dejavu ya, mirip banget sama suasana kalau daerah kita lagi dikepung asap karhutla.

Teori Domino: Kenapa Indonesia dan Brasil Bisa Senasib?

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa hubungannya kebakaran di Brasil sama kita di Indonesia?

Nah, Douglas Morton, seorang ilmuwan jempolan dari Goddard Space Flight Center NASA, punya penjelasan yang menarik sekaligus ngeri.

Dia nyebut fenomena ini sebagai "efek domino." Menurut pemantauan timnya, rangkaian bencana ini sebenernya sudah dimulai dari wilayah kita dulu.

Kebakaran tropis itu kayak satu paket yang saling nyambung di berbagai belahan dunia.

Morton bilang kalau domino pertama udah jatuh di Indonesia sejak Agustus 2026 kemarin.

Nah, sekarang di bulan Oktober, giliran domino kedua—yaitu Amazon—yang ikutan tumbang.

Di Brasil, titik apinya paling parah kelihatan di negara bagian Pará dan Amazonas.

Data ini dia sampaikan secara resmi pada Senin, 19 Oktober 2026.

Jadi, apa yang terjadi di sini dan di sana sebenernya adalah bagian dari pola iklim global yang lagi nggak stabil.

Kita bener-bener senasib dalam urusan asap ini.

El Niño dan Rekor Kekeringan yang Bikin Geleng Kepala

Kenapa sih apinya susah banget padam?

Jawabannya ada pada fenomena El Niño yang tahun ini emang lagi galak-galaknya.

Kondisi alam di Amazon sekarang lagi kering kerontang, bikin hutan jadi gampang banget kesulut api.

Data dari Institut Meteorologi Nasional Brasil nunjukin angka yang bikin kita melongo: curah hujan di Manaus pada bulan Agustus kemarin merosot tajam sampai 95% di bawah normal.

Belum sempat narik napas, di bulan September curah hujannya masih minus 60% dari biasanya.

Hutan yang biasanya lembap dan hijau kini berubah jadi tumpukan kayu kering yang siap meledak kapan aja.

Kalau di Indonesia sendiri, kebakaran hebat sudah kita rasain sejak Agustus 2026.

Bahkan sampai Oktober ini, ratusan rumah dilaporkan hancur karena amukan api, sementara asap pekat masih betah nangkring di langit banyak pulau kita.

Pola kayak gini sebenernya bukan barang baru; Morton nyatet kalau kejadian serupa pernah muncul di periode 2015-2016 dan sempat balik lagi di tahun 2023.

Manusia Jadi Pemicu Utama, Alam Cuma Korban

Kita nggak bisa cuma nyalahin cuaca panas, lho.

Fakta di lapangan nunjukin kalau sebagian besar kebakaran di Amazon itu pemicunya adalah aktivitas manusia.

Tahu nggak berapa persen api yang muncul karena sambaran petir secara alami?

Ternyata nggak sampai 1%!

Sisanya?

Ya, ulah kita-kita juga.

Awalnya mungkin cuma pengen buka lahan buat tani atau ngurus padang rumput buat ternak dengan cara dibakar.

Tapi karena angin kencang dan hutan yang lagi kering-keringnya, api itu lepas kendali dan melahap vegetasi hutan yang luasnya nggak main-main.

Peneliti dari University of Maryland, Shane Coffield, yang juga kerja bareng NASA, nemuin fakta yang nggak kalah bikin kaget.

Di wilayah Santarém aja, diperkirakan ada sekitar 50 sampai 70 kebakaran yang statusnya udah nggak terkendali.

Yang lebih ngeri lagi, sistem pemantauan satelit FIRMS yang biasanya canggih itu ternyata kecolongan.

Analisis Coffield nemuin kalau jumlah kebakaran sebenernya 40% lebih banyak dari yang terdeteksi satelit.

Kenapa bisa begitu?

Ternyata asap yang terlalu tebal, awan, dan rimbunnya kanopi pohon bikin satelit susah ngelihat apa yang sebenernya terjadi di bawah sana.

Waspada! Ancaman Belum Berakhir di Akhir Tahun

Jangan senang dulu, karena tantangan ke depan masih berat.

Morton udah ngasih peringatan dini kalau gelombang kebakaran berikutnya berpotensi pindah ke wilayah utara.

Antara November sampai Desember nanti, daerah kayak Roraima, Pará bagian utara, sampai Amapá di Brasil perlu waspada tinggi.

Nggak cuma Brasil, negara tetangganya kayak Venezuela, Guyana, dan Suriname juga masuk dalam zona merah ancaman kebakaran hutan ini.

Intensitas El Niño tahun ini bener-bener jadi alarm buat kita semua.

Pesan dari para ahli cuma satu: jangan sekali-kali nyalain api buat buka lahan dalam kondisi kayak gini.

Rasanya emang frustrasi banget ya kalau ngelihat kejadian ini terus berulang, tapi pencegahan di tangan manusia adalah satu-satunya cara yang kita punya sekarang.

Yuk, lebih peduli lagi sama lingkungan, karena kalau hutan udah hilang dan udara udah beracun, nggak ada lagi tempat buat sembunyi dari asap.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu partikel PM2.5 yang disebut dalam berita?

PM2.5 adalah partikel udara yang berukuran sangat kecil (kurang dari 2,5 mikrometer).

Karena ukurannya yang mikro, partikel ini sangat berbahaya karena bisa masuk ke aliran darah dan paru-paru manusia.

Seberapa parah kekeringan di Amazon saat ini?

Sangat ekstrem.

Curah hujan di wilayah Manaus tercatat 95% di bawah normal pada Agustus dan 60% di bawah normal pada September 2026.

Apa pemicu utama kebakaran hutan di Amazon?

Lebih dari 99% kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan pertanian.

Sambaran petir alami hanya menyumbang kurang dari 1% kejadian.

Mengapa satelit kadang gagal mendeteksi semua titik api?

Satelit seringkali terhalang oleh asap yang sangat tebal, tutupan awan, atau kanopi pohon yang rapat, sehingga jumlah kebakaran sebenarnya bisa 40% lebih banyak dari yang terlihat di data pemantauan.



Ditulis oleh: Sri Wahyuni

Posting Komentar