Gas Seret Bikin Pabrik Menjerit, Ini Tantangan Berat Kejar Ekonomi Delapan Persen
VGI.CO.ID - Pernah nggak sih kamu bayangin kalau dapur di rumah tiba-tiba nggak bisa dipakai masak gara-gara gas habis, padahal lagi banyak pesanan katering? Kurang lebih begitulah perasaan para pelaku industri kita saat ini. Bedanya, skala mereka jauh lebih raksasa dan dampaknya bisa bikin ekonomi satu negara goyang. Kabar terbaru dari lantai industri menyebutkan kalau sektor manufaktur kita lagi kena "darurat gas". Bayangkan saja, jatah bahan bakar yang seharusnya mengalir lancar buat mesin-mesin pabrik justru disunat habis-habisan. Kalau kondisi ini dibiarkan terus, target pertumbuhan ekonomi yang ambisius itu bisa-bisa cuma jadi angan-angan di atas kertas saja.
Masalah utama yang bikin pening kepala para pengusaha ini adalah pembatasan pasokan gas bumi untuk program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Menurut Yustinus Gunawan, yang menjabat sebagai Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), tekanan yang mereka alami sudah masuk level mengkhawatirkan.
Bayangkan, pasokan yang mereka terima sekarang dipangkas sampai cuma tersisa sekitar 40% hingga 45% dari total kebutuhan normal.
Dengan kata lain, pabrik-pabrik ini disuruh lari maraton tapi cuma dikasih jatah minum setengah gelas.
Nggak heran kalau Yustinus bilang kondisi ini sangat mengancam kelangsungan produksi dan kemampuan mereka buat memenuhi janji ke pelanggan.
Industri Keramik yang Paling Kena Getahnya
Salah satu sektor yang paling merana akibat krisis ini adalah industri keramik.
Kamu tahu sendiri kan, bikin keramik itu butuh panas yang stabil dan terus-menerus.
Kalau gasnya loyo, ya produksinya ikut memble.
Edy Suyanto, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), buka-bukaan soal kondisi di lapangan.
Gara-gara gangguan pasokan gas ini, tingkat utilisasi produksi keramik nasional merosot tajam sampai ke bawah angka 70%.
Ini bukan cuma soal angka di laporan keuangan saja, tapi soal nasib manusia yang bekerja di dalamnya.
Dampak sosialnya mulai terasa nyata dan bikin kita sedih.
Edy menyebutkan kalau saat ini sudah ada sekitar 1.500 karyawan yang terpaksa dirumahkan.
Masalahnya, status "dirumahkan" ini bisa berubah jadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) permanen kalau pasokan gas nggak segera normal kembali.
Bayangkan ada ribuan kepala keluarga yang nasibnya sekarang lagi digantung gara-gara urusan pipa gas.
Ini jelas jadi sinyal merah buat pemerintah kalau mau menjaga daya beli masyarakat tetap stabil di tengah situasi ekonomi global yang nggak menentu.
Butuh "Wasit" yang Tegas untuk Urusan Gas
Persoalan gas industri ini sebenarnya bukan barang baru, tapi kayak lagu lama yang diputar berulang-ulang.
Hal ini bikin Saleh Husin, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Perindustrian sekaligus mantan Menteri Perindustrian periode 2014-2016, angkat bicara.
Menurutnya, kita nggak bisa terus-menerus terjebak dalam masalah yang sama setiap tahun.
Harus ada solusi yang lebih sistematis dan jangka panjang supaya daya saing industri kita nggak makin tertinggal dari negara tetangga.
Salah satu ide yang dilempar Saleh Husin adalah pembentukan sebuah badan khusus atau otoritas tertentu yang punya tugas spesifik buat mengelola pemenuhan gas industri nasional.
Tujuannya jelas: supaya ada yang fokus menjamin pasokan energi buat sektor manufaktur.
Tanpa adanya kepastian energi, jangan harap deh investor mau datang dan bangun pabrik di sini.
Kepastian itu harganya mahal, dan di dunia industri, gas bukan cuma soal bahan bakar, tapi soal napas keberlangsungan bisnis itu sendiri.
Mengejar Target Ekonomi Delapan Persen
Kita semua tahu kalau pemerintah punya mimpi besar buat menggenjot pertumbuhan ekonomi sampai ke angka 8%.
Tapi, coba kita pakai logika sederhana saja.
Mana mungkin mesin ekonomi bisa lari kencang kalau bahan bakarnya saja dibatasi?
Dalam sebuah diskusi hangat bertajuk Industry Forum 2026 di CNBC Indonesia pada Senin, 12 Oktober 2026, Maria Katarina bersama para tokoh industri tadi membahas tuntas kaitan antara gas dan PDB.
Kesimpulannya cukup telak: industri siap mendukung pertumbuhan ekonomi di atas 6% atau bahkan menuju target 8%, asalkan syarat utamanya dipenuhi, yaitu berikan mereka gas yang cukup!
Industri manufaktur itu adalah tulang punggung PDB kita.
Kalau tulang punggungnya lagi sakit gara-gara kurang nutrisi gas, ya seluruh badan ekonomi bakal ikut lemas.
Para pengusaha ini sebenarnya nggak minta yang aneh-aneh, mereka cuma pengen pembatasan pasokan itu dicabut.
Mereka ingin bekerja maksimal, mempekerjakan kembali orang-orang yang dirumahkan, dan mengekspor produk-produk unggulan kita ke luar negeri.
Semua itu butuh energi yang stabil dan harga yang kompetitif.
Apa yang Harus Kita Pantau Selanjutnya?
Sekarang bolanya ada di tangan pemerintah.
Apakah aspirasi dari FIPGB, ASAKI, dan Kadin ini bakal didengar dan dieksekusi dalam waktu dekat?
Publik tentu berharap ada langkah nyata sebelum angka PHK makin membengkak.
Kita juga perlu memantau apakah rencana pembentukan badan khusus pengelola gas industri bakal benar-benar diseriusi atau cuma jadi wacana di meja diskusi saja.
Ingat, waktu terus berjalan dan industri nggak bisa menunggu terlalu lama dalam ketidakpastian.
Ke depannya, ketersediaan energi bakal jadi penentu apakah Indonesia bisa naik kelas jadi negara maju atau cuma jalan di tempat.
Gas bumi adalah kunci transisi energi yang sangat penting buat pabrik-pabrik kita.
Jadi, kalau kita memang serius mau ekonomi tumbuh melesat, urusan gas industri ini nggak boleh dianggap remeh lagi.
Yuk, kita kawal bareng-bareng supaya industri kita bisa kembali bergairah dan ribuan pekerja bisa kembali mencari nafkah dengan tenang!
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu program HGBT yang sedang bermasalah?
HGBT adalah singkatan dari Harga Gas Bumi Tertentu, sebuah kebijakan pemerintah untuk memberikan harga gas yang lebih terjangkau bagi sektor industri tertentu agar lebih kompetitif.
Mengapa industri keramik sangat terdampak oleh pembatasan gas?
Industri keramik sangat bergantung pada gas bumi untuk proses pembakaran di oven raksasa (kiln) yang harus menyala terus-menerus dengan suhu stabil untuk menjaga kualitas produk.
Berapa banyak karyawan yang terdampak krisis gas ini?
Berdasarkan data dari ASAKI, sekitar 1.500 karyawan telah dirumahkan dan berisiko terkena PHK jika pasokan gas tidak segera membaik.
Apa solusi yang diusulkan oleh Kadin Indonesia?
Saleh Husin dari Kadin mengusulkan pembentukan badan atau otoritas khusus untuk mengelola pemenuhan gas industri nasional demi menjamin kepastian pasokan.
Ditulis oleh: Cahya Ningsih

Posting Komentar