Dampak Serangan Houthi: Mengapa Kantor di Kingdom Centre Riyadh Mendadak Kosong?

Table of Contents
Gedung Ikonik Arab Ditutup usai Serangan Houthi, Pekerja Diminta WFH
Dampak Serangan Houthi: Mengapa Kantor di Kingdom Centre Riyadh Mendadak Kosong?

VGI.CO.ID - Pernah bayangkan nggak, lagi asyik kerja di salah satu gedung paling mewah di dunia, tiba-tiba dapat email yang isinya dilarang masuk kantor? Nah, kondisi inilah yang lagi dirasakan sama ribuan karyawan di Riyadh, Arab Saudi. Bangunan paling ikonik di sana, Kingdom Centre, baru saja memutuskan buat menutup area perkantoran mereka. Alasannya? Keamanan. Setelah ada serangan dari kelompok Houthi yang menyasar bandara setempat pekan lalu, pihak pengelola nggak mau ambil risiko besar.

Kebijakan ini bukan cuma imbauan biasa, lho.

Dalam pesan elektronik yang disebar pada hari Minggu, 18 Oktober 2026, manajemen gedung menegaskan kalau semua karyawan kantor wajib bekerja dari rumah alias WFH.

Peraturan ini berlaku secepatnya dan belum tahu sampai kapan bakal berakhir.

"Harap diperhatikan pengaturan kerja jarak jauh wajib untuk semua karyawan kantor di Kingdom Centre," tulis manajemen dalam email yang juga dikutip oleh France 24.

Jadi, buat sementara waktu, meja-meja di gedung 99 lantai itu bakal sepi dari aktivitas rutin.

Raksasa Keuangan Dunia Ikut Terdampak

Kalau kamu belum tahu seberapa penting gedung ini, Kingdom Centre itu bukan cuma sekadar menara tinggi dengan lubang unik di atasnya.

Gedung ini adalah markas bagi banyak 'pemain besar' di dunia ekonomi.

Di sana ada raksasa jasa keuangan seperti Merrill Lynch, konsultan manajemen kelas dunia McKinsey, sampai kantor Dana Moneter Internasional (IMF).

Bisa dibilang, kalau gedung ini tutup, pusat saraf ekonomi di Riyadh sedikit banyak terganggu.

Bayangkan saja, para analis keuangan dan konsultan top dunia sekarang harus koordinasi lewat Zoom atau Teams dari rumah masing-masing.

Meski area perkantoran ditutup total demi keamanan, ada satu hal yang unik: area mall yang ada di bagian bawah gedung ternyata tetap dibuka untuk umum.

Sepertinya pihak pengelola masih mencoba menjaga nadi ekonomi ritel tetap berdenyut, sambil tetap waspada dengan situasi keamanan di lantai-lantai atas.

Tragedi di Bandara yang Mengubah Segalanya

Kenapa sih sampai harus segitunya?

Ternyata pemicunya adalah serangan besar yang terjadi di bandara internasional Riyadh minggu lalu.

Serangan yang dilancarkan kelompok Houthi itu bukan cuma bikin jadwal penerbangan kacau, tapi juga memakan korban jiwa.

Tercatat ada 13 orang yang meninggal dunia dalam peristiwa tragis tersebut.

Wajar banget kalau akhirnya pemerintah dan pengelola gedung-gedung vital di Riyadh langsung pasang mode siaga satu.

Kondisi di lapangan memang makin tegang.

Selain serangan di bandara, ada laporan lain dari wilayah Najran yang berbatasan langsung dengan Yaman.

Dua orang pilot helikopter dikabarkan meninggal dunia di sana.

Kalau dari versi koalisi, yang diwakili oleh juru bicara Turki, Al-Malki, helikopter pengintai jenis AH-6i milik Kementerian Garda Nasional itu jatuh murni karena kendala teknis.

Tapi, di sisi lain, pihak Houthi sempat mengklaim kalau mereka berhasil menembak jatuh helikopter Apache di area yang sama.

Mana yang benar?

Yang jelas, nyawa sudah melayang dan ini bikin suasana makin panas.

Dukungan dari Negara Tetangga

Melihat situasi Arab Saudi yang lagi digempur, negara-negara tetangga nggak tinggal diam.

Salah satunya adalah Mesir.

Presiden Abdel Fattah al-Sisi kabarnya sudah mulai bergerak dengan meminta para anggota parlemen di negaranya untuk memberikan lampu hijau terkait dukungan bagi Arab Saudi.

Mesir sepertinya ingin memastikan kalau sekutu dekatnya itu nggak sendirian dalam menghadapi ancaman serangan dari kelompok Houthi.

Langkah al-Sisi ini menunjukkan kalau konflik ini bukan lagi urusan dalam negeri satu negara saja, tapi sudah menyangkut stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Kalau Arab Saudi terus-terusan diserang, dampaknya bisa lari ke harga minyak dunia dan keamanan jalur perdagangan internasional.

Jadi, dukungan militer atau politik dari negara sekuat Mesir tentu sangat berarti buat stabilitas di sana.

Apa yang Harus Kita Perhatikan Selanjutnya?

Sampai sekarang, kita masih menunggu kapan situasi bakal normal kembali.

Apakah para pekerja di Kingdom Centre bakal segera balik ke meja mereka, atau justru WFH ini bakal jadi permanen dalam waktu yang lama?

Semua bergantung pada bagaimana ketegangan dengan Houthi ini mereda.

Untuk kamu yang punya investasi atau urusan bisnis yang berkaitan dengan perusahaan di sana, sebaiknya terus pantau perkembangan berita ini.

Keamanan memang nggak bisa ditawar, apalagi kalau menyangkut nyawa orang banyak dan simbol negara seperti Kingdom Centre.

Untuk sementara, mari kita berharap situasi di Riyadh segera kondusif dan nggak ada lagi korban yang jatuh dari kedua belah pihak.

Tetap waspada dan pastikan sumber berita yang kamu baca itu valid ya!



Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa Kingdom Centre di Riyadh ditutup?

Area perkantoran di Kingdom Centre ditutup karena alasan keamanan menyusul serangan kelompok Houthi di bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang.

Apakah seluruh bagian gedung Kingdom Centre ditutup?

Tidak.

Meskipun area kantor di lantai atas ditutup dan karyawan diwajibkan WFH, area mall di bagian bawah gedung tetap dibuka untuk umum.

Siapa saja penyewa besar di gedung tersebut?

Kingdom Centre dihuni oleh banyak perusahaan global terkemuka, termasuk Merrill Lynch, McKinsey, dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Apa yang terjadi di wilayah Najran baru-baru ini?

Dua pilot helikopter meninggal dunia akibat jatuhnya helikopter AH-6i.

Pihak koalisi menyebutkan penyebabnya adalah kerusakan teknis, namun pihak Houthi mengklaim telah menembak jatuh helikopter tersebut.



Ditulis oleh: Aditya Pratama

Posting Komentar