PSI Sebut Budi Arie Adu Domba Jokowi dan Prabowo Subianto
VGI.CO.ID - Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap pernyataan kontroversial yang disampaikan oleh Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, mengenai potensi adanya fenomena "percepatan sejarah" dalam dinamika politik nasional. Tanggapan keras ini mencuat setelah beredarnya sebuah rekaman video di media sosial yang memperlihatkan Budi Arie menyuarakan pandangannya terkait kemungkinan terjadinya perubahan situasi politik sebelum Pemilu 2029 tepat di samping Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Bestari Barus menilai bahwa lontaran opini yang disampaikan oleh mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut berpotensi merusak keharmonisan hubungan baik yang selama ini terjalin erat antara Joko Widodo dengan Presiden Prabowo Subianto. Pihak PSI memandang manuver politik ini bukan sekadar analisis biasa, melainkan sebuah tindakan yang mengarah pada upaya adu domba di antara kedua tokoh sentral bangsa demi keuntungan kelompok tertentu.
Detik-Detik Pernyataan Budi Arie Soal 'Patahan Sejarah' di Samping Jokowi
Dalam cuplikan video yang viral di berbagai platform media sosial tersebut, Budi Arie Setiadi tampak duduk dengan santai tepat di sebelah Joko Widodo dalam suatu forum silaturahmi relawan. Mantan menteri tersebut secara blak-blakan mengaku telah membisikkan firasat politiknya kepada Jokowi bahwa roda sejarah kekuasaan di Indonesia bisa berputar jauh lebih cepat dari jadwal Pemilu 2029 yang direncanakan.
Budi Arie mengungkapkan bahwa insting aktivisnya menangkap adanya tanda-tanda ketidaknormalan atau anomali sosial yang kini sedang berkembang di tengah-tengah lapisan masyarakat Indonesia. Ia pun mengajak rekan-rekan sesama relawan pendukung untuk mulai memikirkan berbagai skenario alternatif alih-alih hanya berpatokan pada tahapan pemilu konvensional yang sudah diatur oleh konstitusi negara.
Sebagai contoh konkret dari anomali tersebut, Budi Arie menyoroti rangkaian aksi demonstrasi tandingan yang marak terjadi di beberapa daerah konflik sosial seperti di Pati serta Madura baru-baru ini. Ia bahkan menyamakan tensi dan gesekan horizontal masyarakat saat ini dengan kemunculan kelompok pengamanan swakarsa atau Pam Swakarsa pada masa menjelang kejatuhan orde baru tahun 1998 silam.
Lebih jauh lagi, Ketua Umum Projo tersebut mengaitkan potensi patahan sejarah ini dengan gejolak situasi sosial dan ekonomi global maupun domestik yang dinilainya belum sepenuhnya membuat masyarakat merasa bahagia. Ia memberikan analogi historis saat pemilu tahun 1997 secara tidak terduga harus dipercepat menjadi pemilu tahun 1999 akibat krisis moneter dahsyat yang melanda wilayah Asia Tenggara saat itu.
Reaksi Keras PSI dan Tudingan Kepentingan Pribadi
DPP PSI menyayangkan momentum pernyataan Budi Arie yang diluncurkan saat proses transisi kepemimpinan nasional berjalan dengan sangat mulus dan hubungan antartokoh sedang dalam kondisi sangat kondusif. Bestari Barus secara blak-blakan menuding bahwa wacana provokatif tersebut murni didorong oleh syahwat politik pribadi Budi Arie yang berupaya mencari panggung baru di tengah dinamika kekuasaan saat ini.
Ia mensinyalir adanya rasa frustrasi yang mendalam pada diri Budi Arie setelah dirinya tidak lagi mendapatkan kursi empuk di jajaran menteri kabinet pemerintahan yang baru. Selain kehilangan posisi strategis di pemerintahan, kekecewaan tersebut ditengarai bertambah parah karena sejumlah upaya Budi Arie untuk berlabuh ke beberapa partai politik besar pendukung pemerintah mengalami penolakan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun PSI, Budi Arie sempat mencoba melamar untuk bergabung dengan partai politik pimpinan Prabowo Subianto namun lamaran politik tersebut secara tegas ditolak. Nasib serupa juga dialami ketika yang bersangkutan mencoba mendekati PSI, di mana pengurus harian partai berlambang mawar tersebut telah membulatkan suara untuk tidak menerima kehadirannya di jajaran kader.
Akibat serangkaian penolakan dari berbagai koalisi partai politik tersebut, Bestari bahkan menyamakan perilaku politik Budi Arie seperti seorang "gelandangan politik" yang kehilangan arah perjuangan. Ia menilai tindakan melempar bola panas mengenai isu percepatan suksesi kepemimpinan nasional ke ruang publik hanya akan merusak reputasi politik yang bersangkutan di mata para pengamat.
Membaca Gestur Ketidaksetujuan Jokowi dan Komitmen Dua Periode
Bestari Barus meminta agar Budi Arie lebih berani bersikap ksatria dengan menyampaikan pandangan politik personalnya secara mandiri tanpa harus meminjam wibawa Joko Widodo yang kebetulan sedang duduk di sisinya. Ia menyarankan agar opini mengenai potensi krisis nasional tersebut disalurkan melalui media alternatif seperti siaran langsung atau siniar pribadi tanpa harus melibatkan kehadiran tokoh bangsa.
Apabila mencermati rekaman video tersebut secara saksama, Bestari meyakini bahwa gestur tubuh serta ekspresi wajah Joko Widodo sebenarnya memperlihatkan tanda ketidaksetujuan yang sangat jelas terhadap narasi yang diusung Budi Arie. Menurutnya, Jokowi justru tampak sangat kecewa karena agenda silaturahmi yang bernuansa kekeluargaan tersebut disusupi oleh penyampaian unek-unek pribadi yang berpotensi memicu kegaduhan baru.
PSI kembali mempertegas bahwa komitmen Joko Widodo dalam mendukung keberlangsungan pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersifat mutlak. Bestari mengingatkan bahwa Jokowi secara lisan telah memerintahkan jajaran pengurus PSI di seluruh pelosok tanah air untuk mengawal kesuksesan kabinet baru hingga dua periode kepemimpinan.
Oleh sebab itu, segala bentuk provokasi atau propaganda yang mencoba menggambarkan seolah-olah kondisi keamanan dan politik dalam negeri sedang berada dalam ambang kekacauan dinilai tidak berdasar pada realitas objektif. PSI meminta Budi Arie untuk tidak menyamakan nasib karir politik pribadinya yang sedang meredup dengan stabilitas nasional yang saat ini justru sedang berjalan ke arah positif.
Ancaman Adu Domba di Balik Agenda Pertemuan Relawan
Bagi PSI, tindakan memprovokasi publik dengan narasi patahan sejarah ini tidak bisa dikategorikan sebagai kritik membangun melainkan upaya adu domba antartokoh nasional secara terencana. Agenda pertemuan rutin antara Joko Widodo dengan berbagai elemen relawan yang biasanya digunakan untuk merumuskan kontribusi pembangunan kini tercemar oleh ambisi politik perorangan yang tidak produktif.
Terdapat kecurigaan kuat dari internal PSI bahwa manuver yang dilakukan oleh Ketua Umum Projo ini digerakkan oleh agenda politik tersembunyi yang melibatkan kekuatan oposisi eksternal lainnya. Mereka diduga sengaja memanfaatkan momentum konsolidasi relawan untuk menaburkan benih keraguan di kalangan pendukung pemerintah mengenai prospek masa depan kepemimpinan nasional.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak negatif dari pernyataan tersebut, PSI mengimbau seluruh barisan relawan pendukung Jokowi dan Prabowo agar tetap solid serta tidak mudah terombang-ambing oleh spekulasi murahan. Kerja sama yang sinergis antara seluruh pendukung kedua tokoh tersebut merupakan pilar utama dalam memastikan berjalannya program pembangunan nasional tanpa hambatan politik yang berarti.
Partai Solidaritas Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi benteng pertahanan politik bagi keutuhan koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran dari segala bentuk gangguan internal maupun eksternal. Dengan menjaga kondusivitas iklim politik tanah air, diharapkan seluruh program strategis pemerintah dapat diselesaikan secara maksimal demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Posting Komentar