Insiden Pesawat CASA di Bandara Hasanuddin Seusai Sukhoi Tergelincir

Table of Contents
Sehari Seusai Sukhoi, Pesawat CASA Alami Insiden di Bandara Sultan Hasanuddin
Insiden Pesawat CASA di Bandara Hasanuddin Seusai Sukhoi Tergelincir

VGI.CO.ID - Sebuah pesawat jenis CASA dilaporkan mengalami insiden darurat saat beroperasi di landasan pacu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada hari Selasa (25/8/2026) siang. Peristiwa mengejutkan di bandara terbesar di kawasan Indonesia Timur ini terjadi hanya berselang satu hari setelah tergelincirnya jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 milik TNI Angkatan Udara di area runway yang sama.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, pesawat bermotor baling-baling jenis CASA tersebut mengalami kendala operasional tepat pada pukul 11.20 Wita saat hendak melakukan manuver di landasan. Rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan posisi badan pesawat yang terhenti di tepian runway dengan kondisi dikelilingi oleh sejumlah kendaraan operasional bandara.

Sesaat setelah menerima laporan gangguan, otoritas bandara langsung mengerahkan beberapa unit mobil pemadam kebakaran, armada ambulans, serta kendaraan taktis penarik menuju lokasi kejadian. Petugas penyelamat dengan cepat melakukan isolasi di sekitar area terdampak guna memastikan situasi tetap terkendali dan meminimalkan potensi bahaya kebakaran.

Kepala Penerangan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Letnan Kolonel Yudha Pramono, membenarkan adanya insiden yang menimpa pesawat jenis CASA tersebut pada jam operasional siang hari. Namun, dirinya menegaskan kepada awak media bahwa armada udara yang mengalami permasalahan teknis tersebut bukanlah pesawat militer milik jajaran TNI AU.

Proses Penanganan dan Respons Otoritas Bandara

Hingga saat ini, proses evakuasi badan pesawat CASA beserta investigasi menyeluruh mengenai penyebab utama insiden masih berlangsung secara intensif oleh pihak otoritas gabungan. Letnan Kolonel Yudha Pramono menambahkan bahwa keterangan pers yang lebih rinci dan resmi akan segera dirilis setelah seluruh rangkaian proses pemeriksaan teknis di lapangan selesai dilaksanakan.

Sementara itu, Branch Communication and CSR Department Head Angkasa Pura Indonesia Bandara Sultan Hasanuddin, Taufan Yudhistira, mengimbau awak media untuk memberikan waktu kepada tim teknis dalam mengumpulkan fakta lapangan. Dirinya menekankan pentingnya menunggu rilis resmi dari pihak manajemen bandara agar informasi yang beredar di tengah masyarakat tidak menimbulkan kepanikan atau spekulasi liar.

Insiden beruntun yang terjadi dalam kurun waktu 24 jam terakhir ini tentu menjadi perhatian serius bagi dunia penerbangan nasional, khususnya otoritas pengelola Bandara Sultan Hasanuddin. Kejadian ini terus menambah catatan insiden penerbangan di gerbang udara utama Sulawesi Selatan tersebut, yang menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan bandara.

Meskipun kedua insiden tersebut terjadi di area militer dan tepian landasan pacu, arus lalu lintas penerbangan sipil di Bandara Sultan Hasanuddin diklaim tetap berjalan relatif normal dengan pengawasan ketat. Manajemen Angkasa Pura Indonesia terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia untuk memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat komersial tidak terganggu secara signifikan.

Proses Penanganan dan Respons Otoritas Bandara

Evaluasi Insiden Jet Tempur Sukhoi Su-30 MK2 Sehari Sebelumnya

Sebelum insiden CASA terjadi, publik dikejutkan oleh tergelincirnya jet tempur canggih Sukhoi Su-30 MK2 pada hari Senin (24/8/2026) menjelang tengah hari. Pesawat tempur andalan pertahanan udara Indonesia tersebut tergelincir melintasi ujung landasan pacu hingga berhenti pada jarak sekitar 20 meter saja dari jalan poros utama trans-Sulawesi menuju Kota Makassar.

Dalam beberapa dokumentasi video yang beredar di masyarakat, terlihat kepulan asap putih tebal membubung tinggi disertai kobaran api kecil di bagian belakang jet tempur sesaat setelah terhenti di rumput. Petugas penyelamat dari Lanud Sultan Hasanuddin langsung bergerak cepat menyemprotkan cairan pemadam api guna mencegah terjadinya ledakan pada tangki bahan bakar pesawat.

Di tengah kepulan asap tersebut, sang pilot tampak berusaha dengan sigap keluar dari ruang kokpit demi menyelamatkan diri sementara parasut pengereman darurat pesawat terlihat masih terbentang lebar di tanah. Beruntung, sistem kedaruratan bekerja dengan baik sehingga pilot dan seluruh kru pendukung di darat dilaporkan selamat tanpa mengalami cedera fisik.

Investigasi Kegagalan Sistem Pengereman Jet Tempur TNI AU

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau), Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, merilis pernyataan tertulis pada Senin sore untuk menjelaskan detail teknis insiden Sukhoi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa jet tempur legendaris berkursi ganda itu sebenarnya tengah melaksanakan tahapan uji terbang pasca-menyelesaikan pemeliharaan tingkat berat atau overhaul.

Dalam simulasi lepas landas di landasan pacu tersebut, sistem pengereman Sukhoi tiba-tiba mengalami kendala teknis mendadak sehingga tidak dapat berfungsi secara maksimal untuk memperlambat laju pesawat. Akibat malafungsi pengereman ini, jet tempur bermesin ganda tersebut meluncur bablas sejauh 30 meter melewati batas aman ujung landasan pacu Bandara Hasanuddin.

Setelah dipastikan aman dari potensi bahaya susulan, pesawat tempur tersebut kemudian ditarik kembali menuju hanggar pemeliharaan untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum diizinkan terbang kembali. Berdasarkan catatan pertahanan, Lanud Sultan Hasanuddin sendiri mengoperasikan armada jet tempur Sukhoi jenis Su-27 dan Su-30 yang ditempatkan di bawah Skuadron Udara 11 Wing 5.

Sebagai hub transportasi udara paling vital di kawasan timur Indonesia, keandalan infrastruktur dan keselamatan operasional di Bandara Sultan Hasanuddin memegang peranan krusial bagi konektivitas nasional. Evaluasi komprehensif dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi serta internal TNI AU sangat dinantikan guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Posting Komentar