Banjir Bandang Solok: 183 Jiwa Mengungsi, 1.000+ Personel Kerja Tanpa Henti
VGI.CO.ID - Kabupaten Solok, Sumatera Barat, masih berjuang keras memulihkan kondisi pasca-banjir bandang yang menghantam sejumlah wilayah. Dampak bencana ini terbilang masif — tidak hanya merusak infrastruktur jalan dan jembatan, tetapi juga menimbun aliran sungai dengan material batu dan lumpur tebal. Pemerintah pusat dan daerah kini mengerahkan lebih dari 1.000 personel lintas instansi untuk mempercepat pemulihan, sementara ratusan warga masih mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.
Sungai Batang Baliang dan Koto Gaek Dikeruk Dua Kilometer
Salah satu pekerjaan paling mendesak saat ini adalah mengembalikan fungsi dua sungai utama — Sungai Batang Baliang dan Sungai Koto Gaek — yang tersumbat material akibat luapan banjir.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V mengerahkan empat unit alat berat untuk mengeruk sedimen sepanjang dua kilometer.
Target penyelesaian pekerjaan ini adalah dua minggu ke depan.
Batu-batu berukuran besar yang berhasil diangkat dari dasar sungai tidak dibuang begitu saja.
Material tersebut dialokasikan untuk memperkuat struktur tebing dan tanggul penahan di sekitar aliran.
Sementara itu, di bagian hilir, pemasangan bronjong menjadi langkah antisipasi untuk mengatasi masalah sedimentasi yang berpotensi menyempitkan jalur air di masa mendatang.
26 Alat Berat Kerja di Jalur Nasional Padang-Solok
Pemulihan tidak terbatas pada area sungai.
Badan Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat juga mengambil peran besar dalam membersihkan jalur nasional Padang-Solok, khususnya di kawasan Arosuka Km 36+600.
Sebanyak 26 alat berat beserta kendaraan pendukung dikerahkan untuk menyingkirkan tumpukan batu, lumpur, dan material lain yang menutupi ruas jalan.
Selama proses pembersihan berlangsung, lalu lintas dikelola dengan sistem buka-tutup guna menjaga keselamatan pengguna jalan.
Petugas juga melakukan penyemprotan pada permukaan dan bahu jalan untuk mengurangi lumpur licin yang membahayakan kendaraan.
Dua unit mesin pemecah batu dioperasikan secara paralel agar material berdimensi besar bisa dihancurkan dan lebih mudah dipindahkan.
Jembatan yang tersumbat material pun tak luput dari penanganan — pembersihan dilakukan agar aliran air dapat kembali normal.
Supervisi Nasional Pastikan Progres Pembersihan Jembatan
Kemajuan di lapangan mendapat perhatian langsung dari Tim Supervisi Posko Nasional Satgas Penanganan Pasca Bencana (PRR) Pascabencana Sumatera.
Tim yang beranggotakan Wakil Bupati Solok serta perwakilan instansi teknis ini turun ke lapangan untuk memastikan pembersihan jembatan berjalan sesuai rencana.
"Jembatan yang tersumbat dibersihkan baik di Jembatan Arosuka maupun di jalan poros," ujar Ketua Tim Monev Khusus, Kombes Pol.
Dennie Andreas Dharmawan, dalam keterangan tertulis yang dirilis Sabtu (26/09/2026).
Pernyataan ini menegaskan bahwa penanganan difokuskan pada titik-titik strategis yang menjadi urat nadi konektivitas masyarakat.
Desain Sabo Dam Siap Rancang, Upaya Jangka Panjang Antisipasi Banjir
Pemerintah tidak sekadar merespons kerusakan yang sudah terjadi.
Rencana mitigasi jangka panjang juga mulai disusun untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa depan.
BWS Sumatera V berencana menyusun desain teknis sabo dam — struktur penahan sedimentasi yang dipasang di kawasan hulu sungai.
Tim Supervisi PRR merekomendasikan agar Posko Nasional turut mengawal proses penyusunan desain ini hingga siap masuk tahap konstruksi.
Kebutuhan akan infrastruktur semacam ini memang mendesak mengingat topografi Solok yang curam di bagian hulu membuat wilayah tersebut rentan terhadap banjir bandang setiap musim hujan tiba.
411 Jiwa Terdampak, 53 Keluarga Masih di Pengungsian
Dampak kemanusiaan dari bencana ini tidak kalah seriusnya.
Data per 24 September 2026 mencatat sebanyak 411 jiwa terkena dampak langsung.
Sebanyak 53 keluarga atau 183 jiwa masih menetap di posko pengungsian.
Populasi pengungsi ini terdiri atas 38 lansia, 39 balita, enam bayi, serta tiga ibu hamil — kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam hal perawatan dan nutrisi.
Karena jaringan perpipaan air bersih terputus, Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPBPK) Sumatera Barat mengerahkan tiga mobil tangki ke lokasi pengungsian.
Bantuan logistik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah disalurkan, dan posko utama kembali mendata kebutuhan mendesak seperti perlengkapan bayi, peralatan memasak, serta alat kebersihan.
Pendampingan kesehatan dan psikososial bagi kelompok rentan juga dilakukan secara paralel.
Operasi SAR Perluas Pencarian Korban Hilang hingga Delapan Kilometer
Satu warga dilaporkan masih hilang setelah bencana.
Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian dengan memperluas radius penyisiran hingga delapan kilometer.
Pencarian mengombinasikan tiga metode: penggunaan alat berat, anjing pelacak, serta drone termal untuk memetakan area yang sulit dijangkau secara manual.
Selain misi kemanusiaan, pembersihan juga menyasar kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok.
Sebanyak 11 kantor dinas terdampak timbunan lumpur, dan pemulihannya menjadi prioritas agar pelayanan publik bisa segera beroperasi normal kembali.
Lebih dari 1.000 Personel Dikerahkan dalam Empat Sektor
Koordinasi lintas instansi menjadi kunci operasi pemulihan ini.
Total personel yang dikerahkan melampaui 1.000 orang, dibagi ke dalam empat sektor kerja berdasarkan kebutuhan di masing-masing lokasi.
Pembagian sektor ini memungkinkan pekerjaan berjalan paralel — dari normalisasi sungai, pembersihan jalan nasional, penanganan pengungsi, hingga pemulihan fasilitas pemerintahan — tanpa saling tumpang tindih.
Dengan kombinasi operasi darat, pengawasan ketat dari tim supervisi nasional, serta rencana mitigasi jangka panjang, masyarakat Solok optimistis pemulihan bisa berjalan sesuai target.
Namun, tantangan besar masih menanti — terutama terkait pencarian korban hilang dan percepatan desain sabo dam agar wilayah hulu lebih terlindung dari ancaman banjir bandang di masa mendatang.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa jumlah warga yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Solok?
Berdasarkan data per 24 September 2026, sebanyak 411 jiwa terdampak langsung.
Di antara mereka, 53 keluarga atau 183 jiwa masih berada di pengungsian, termasuk 38 lansia, 39 balita, enam bayi, dan tiga ibu hamil.
Sungai mana saja yang sedang dinormalisasi di Kabupaten Solok?
Pengerukan dilakukan di dua sungai, yakni Sungai Batang Baliang dan Sungai Koto Gaek, dengan total panjang sekitar dua kilometer.
Pekerjaan ini ditargetkan selesai dalam dua minggu.
Siapa saja yang terlibat dalam operasi pemulihan pasca-banjir bandang?
Lebih dari 1.000 personel lintas instansi dikerahkan, dibagi ke dalam empat sektor kerja.
Instansi yang terlibat antara lain BWS Sumatera V, BPJN Sumatera Barat, BPBPK Sumatera Barat, BNPB, Tim SAR gabungan, serta Tim Supervisi Posko Nasional Satgas PRR Pascabencana Sumatera.
Apa upaya mitigasi jangka panjang yang direncanakan untuk mencegah banjir bandang berulang?
BWS Sumatera V merencanakan penyusunan desain teknis sabo dam di kawasan hulu sungai.
Tim Supervisi PRR merekomendasikan pengawalan oleh Posko Nasional agar desain ini dapat terealisasi hingga tahap konstruksi.
Apakah masih ada korban yang belum ditemukan?
Ya, satu warga masih dilaporkan hilang.
Tim SAR gabungan memperluas pencarian hingga delapan kilometer dengan menggunakan alat berat, anjing pelacak, dan drone termal.
Ditulis oleh: Melati Kusuma
Posting Komentar