Penjual Shopee Mengaku Saldo Rp6,3 Miliar Tertahan dan Tidak Bisa Cair
VGI.CO.ID - Seorang penjual pakaian asal Pekalongan bernama Adi sedang memperjuangkan nasib toko daringnya setelah dana usaha senilai Rp6,3 miliar tertahan secara sepihak di platform Shopee. Kasus penangguhan dana yang tidak kunjung selesai sejak akhir tahun 2025 ini bahkan berujung pada pemblokiran akses akun penjual miliknya sejak Juni 2026.
Hambatan keuangan ini awalnya mulai dirasakan oleh Adi pada bulan Desember 2025 setelah ia melakukan pengiriman barang dagangan dengan total nilai transaksi mencapai Rp90 juta. Namun, dari keseluruhan transaksi tersebut, sistem Shopee hanya mencairkan saldo sebesar Rp24,5 juta ke rekening bank miliknya tanpa alasan yang jelas.
Sejak saat itu, kendala penarikan dana terus berulang sehingga mengakibatkan akumulasi omzet harian yang seharusnya menjadi hak Adi terus menumpuk di dalam sistem dompet penjual. Adi mengungkapkan kepada Bloomberg Technoz bahwa hambatan penarikan dana yang berlarut-larut ini menjadi awal mula dari kendala arus kas bisnis konveksi pakaian miliknya.
Respons Awal Customer Service Shopee Terkait Kendala Sistem
Saat pertama kali melaporkan masalah ini, petugas layanan pelanggan Shopee menginformasikan bahwa sistem e-commerce mereka sedang membutuhkan waktu untuk memproses verifikasi transaksi. Sayangnya, janji tersebut tidak terbukti karena ketika memasuki bulan Januari hingga Februari 2026, uang miliaran rupiah tersebut tetap mengendap dan tidak bisa dipindahkan.
Adi menjelaskan bahwa pihak Shopee sering memberikan estimasi waktu pencairan pada siang hari, tetapi setiap harinya proses transfer tersebut hampir selalu gagal terlaksana. Padahal, seluruh pesanan pelanggan dari bulan-bulan sebelumnya telah selesai dikirimkan sehingga saldo penjualan seharusnya sudah otomatis dilepaskan oleh sistem.
Karena keluhan terus diajukan, layanan pelanggan Shopee kemudian mengimbau Adi untuk tidak menarik saldo tokonya dalam nominal besar demi menghindari terjadinya gangguan sistem. Sebagai jalan keluar sementara, pihak Shopee menyarankan agar ia memindahkan dana usaha tersebut secara bertahap menggunakan fitur dompet digital ShopeePay.
Kendala Batas Transaksi ShopeePay dan Kegagalan Transfer Bank BNI
Metode pemindahan dana melalui ShopeePay rupanya tidak efektif karena Adi hanya berhasil mencairkan uang hingga batas maksimal akumulasi bulanan sebesar Rp80 juta. Aturan platform yang membatasi penarikan ShopeePay maksimal Rp40 juta per bulan membuat sisa uang miliaran rupiah lainnya tetap tidak bisa dipindahkan ke rekening bank pribadinya.
Upaya alternatif untuk memindahkan uang langsung ke rekening bank BNI juga mengalami kegagalan total saat ia mencoba menarik nominal Rp500 juta. Transaksi penarikan yang dilakukan pada tanggal 4 dan 5 Mei 2026 tersebut sama sekali tidak memengaruhi mutasi rekening meskipun status di aplikasi menunjukkan sedang diproses.
Adi mencatat bahwa penarikan dana sebesar Rp500 juta pada pukul 11.14 WIB di tanggal 4 Mei 2026 tersebut menggantung tanpa kejelasan status kiriman. Selanjutnya, pengajuan penarikan dana dengan nominal fantastis sebesar Rp1 miliar pada 26 Mei 2026 juga batal otomatis dan saldonya kembali ke sistem Shopee.
Ketika dikonfirmasi, pihak layanan pelanggan beralasan bahwa sistem internal mereka belum siap untuk memproses penarikan dana penjual dalam jumlah yang sangat besar. Adi merasa bingung dengan respons kontradiktif tersebut mengingat instruksi penarikan bertahap sebelumnya justru disarankan langsung oleh petugas customer service mereka sendiri.
Aksi Nekat Mendatangi Kantor Pusat Shopee di Jakarta
Merasa penanganannya diulur-ulur tanpa ada kepastian tertulis, Adi memutuskan bertolak dari Pekalongan menuju kantor pusat Shopee di Gama Tower, Jakarta, pada 4 Juni 2026. Perjalanan jauh ini ia tempuh demi mendapatkan penjelasan langsung mengenai nasib dana usahanya yang telah macet selama berbulan-bulan di platform tersebut.
Pada hari yang sama saat berada di kantor pusat, Adi mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan berupa lima kali percobaan masuk ilegal ke akun tokonya. Khawatir akun bisnisnya diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab, ia bergegas mengganti kata sandi akunnya pada tanggal 6 Juni 2026 sekitar pukul 10.00 WIB.
Namun, tindakan pengamanan mandiri tersebut malah membuat sistem mengeluarkan akunnya secara otomatis sehingga ia tidak bisa masuk kembali menggunakan metode apa pun. Semua upaya masuk menggunakan nomor telepon seluler, alamat surat elektronik, hingga verifikasi lainnya selalu ditolak dan dinyatakan tidak valid oleh sistem Shopee.
Penolakan Klaim Saldo di Gama Tower dan Dampak Sosial
Saat berkonsultasi tatap muka dengan membawa bukti fisik cetak transaksi toko, petugas customer service di Gama Tower justru memberikan jawaban yang mengejutkan Adi. Petugas di lokasi tersebut mengklaim bahwa saldo di dalam akun tokonya tidak ada, padahal catatan terakhir sebelum keluar paksa menunjukkan angka Rp6,3 miliar.
Pertemuan langsung tersebut tidak menghasilkan jalan keluar yang bersahabat karena sikap petugas pelayanan dinilai Adi sangat tidak kooperatif dan cenderung defensif. Kondisi ini membuat Adi merasa sangat stres dan tertekan karena harus berhadapan dengan ketidakpastian nasib uang operasional yang nilainya sangat fantastis.
Hilangnya akses ke akun penjual secara otomatis juga membuat seluruh etalase produk baju milik toko Adi hilang dari daftar pencarian aplikasi Shopee. Hal ini menghentikan total aktivitas penjualan harian dan menutup peluang Adi untuk memulihkan modal usaha yang telah ia tanamkan.
Dampak dari pembekuan sepihak ini kini meluas karena Adi mulai mendapatkan tekanan serta tuntutan pengembalian modal dari para investor luar yang mendanai bisnisnya. Ia mengaku sangat terbebani secara mental dan finansial karena tidak bisa mempertanggungjawabkan kendala sistemik ini kepada pihak-pihak yang telah memercayakan modal kepadanya.
Adi berharap pihak Shopee bersedia membantu memulihkan akses masuk ke akunnya dan mencairkan dana tersebut secara bertahap meskipun harus dilakukan secara manual. Jika akses dan pencairan dana modal ini terus ditangguhkan, ia mengkhawatirkan kerugian finansial yang dialami keluarganya serta para investor akan membengkak tanpa kendali.

Posting Komentar