Lonjakan Cedera E-Bike dan E-Scooter: Peringatan Keras dari Tenaga Medis
VGI.CO.ID - Musim hangat telah tiba, namun bersamaan dengan itu, ruang gawat darurat (ER) di berbagai wilayah melaporkan adanya lonjakan drastis dalam jumlah pasien yang mengalami cedera akibat penggunaan sepeda listrik (e-bike) dan skuter listrik (e-scooter). Para dokter dan tenaga medis kini menghadapi parade kasus yang mengkhawatirkan, mulai dari patah tulang selangka, pergelangan kaki yang hancur, hingga luka parut dan laserasi yang memerlukan penanganan jahitan intensif.
Bagi para komuter dewasa, e-bike dan e-scooter memang menawarkan alternatif transportasi yang nyaman dan hemat biaya dibandingkan menggunakan mobil pribadi. Namun, meningkatnya popularitas kendaraan ini di kalangan anak-anak dan remaja kini menarik perhatian serius terkait keselamatan publik, karena banyak insiden yang terjadi justru melibatkan pengendara yang masih di bawah umur.
Bahaya yang Diabaikan oleh Pengendara Muda
Shannon DuJack, manajer perawat di departemen gawat darurat Ellis Medicine, menyatakan bahwa banyak anak menganggap kendaraan listrik ini hanyalah sepeda biasa yang tidak memiliki risiko tinggi. Karena kurangnya kesadaran akan bahaya yang mengintai, para remaja seringkali tidak memikirkan risiko keselamatan, yang diperparah dengan kecenderungan mereka untuk mudah teralihkan perhatiannya saat berada di jalan raya.
Dr. Gregory Wu, seorang dokter perawatan kritis dan darurat di Albany Medical Center, menekankan bahwa kendaraan ini bukanlah mainan dan orang tua harus sangat berhati-hati sebelum memberikannya kepada anak-anak. Hal senada diungkapkan oleh Dr. Eric Aronowitz, seorang ahli bedah ortopedi spesialis kedokteran olahraga di OrthoNY’s Injury Clinics, yang melihat lonjakan kasus patah tulang, keseleo, dan ketegangan otot setelah pasien terjatuh dan mencoba menahan benturan dengan tangan mereka.
Dr. Aronowitz menambahkan bahwa pengendara baru dan remaja sangat rentan karena mereka sering kali tidak memahami kecepatan, jarak pengereman, dan waktu reaksi yang diperlukan untuk menghindari kecelakaan. Albany Med bahkan mencatat peningkatan kasus gegar otak selama setahun terakhir, yang sering kali dialami oleh pengendara yang tidak menggunakan helm saat melaju dengan kecepatan tinggi yang jauh melampaui sepeda konvensional.
Kebingungan Regulasi dan Risiko Pasar Daring
Di bawah hukum negara bagian New York, terdapat aturan yang jelas bahwa siapa pun yang mengoperasikan e-bike atau e-scooter di tempat umum harus berusia minimal 16 tahun. Namun, karena industri ini masih minim regulasi, banyak perangkat listrik yang dipasarkan untuk anak-anak justru mengaburkan batas antara mainan dan alat transportasi, sehingga membingungkan para orang tua mengenai aspek legalitasnya.
New York sendiri telah mengadopsi klasifikasi tiga tingkat untuk e-bike: Kelas 1 dengan motor yang bekerja saat dikayuh hingga kecepatan 20 mph, Kelas 2 dengan throttle hingga 20 mph, dan Kelas 3 yang memberikan pedal-assist hingga 25 mph. Masalah muncul ketika banyak e-bike dan skuter yang beredar di pasar tidak termasuk dalam sistem klasifikasi ini, atau bahkan memiliki motor yang mampu mencapai 40 mph tanpa dikayuh, yang secara hukum diperlakukan seperti sepeda motor.
Ed Brennan, direktur keselamatan sepeda asisten untuk New York Bicycling Coalition, menjelaskan bahwa banyak orang tua membeli perangkat ini karena tekanan teman sebaya tanpa memahami implikasi hukumnya. Banyak perangkat yang dijual secara daring sebagai "e-bike" sebenarnya ilegal menurut aturan negara bagian karena melampaui batasan daya 750 watt, dan sayangnya, pasar daring sering gagal menyertakan label atau dokumentasi yang mengedukasi konsumen mengenai spesifikasi produk yang mereka beli.
Langkah Preventif dan Peran Edukasi
Untuk menanggulangi masalah ini, New York Bicycling Coalition telah menyelenggarakan forum edukasi di Glens Falls dan Kingston untuk membantu pemerintah daerah dan kepolisian menavigasi lanskap transportasi yang semakin kompleks ini. Fokus mereka saat ini adalah memberikan pemahaman mendalam kepada pihak berwenang dan masyarakat mengenai berbagai jenis perangkat listrik yang kini beredar luas di jalanan umum.
Brennan juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam mengedukasi siswa mengenai keselamatan e-bike dan skuter, mengingat kurikulum keselamatan sepeda saat ini seringkali datang terlambat. Meskipun sekolah diwajibkan mengajarkan topik keselamatan, termasuk pentingnya penggunaan helm, banyak institusi yang belum melaksanakannya secara konsisten atau menyeluruh bagi para siswa.
Para ahli sangat mendorong peningkatan kesadaran akan pencegahan, termasuk anjuran bagi pengendara untuk selalu waspada terhadap lingkungan sekitar dan menggunakan perlengkapan reflektif yang sangat terlihat di samping helm. Mengingat anak-anak seringkali kekurangan kesadaran situasional, kontrol impuls, dan ketangkasan yang diperlukan untuk mengoperasikan perangkat listrik dalam lalu lintas, para ahli merekomendasikan untuk menjauhkan anak-anak dari jalan raya jika memungkinkan.
Bagi orang tua yang tetap memilih untuk membelikan e-bike atau skuter untuk anak mereka, disarankan untuk datang langsung ke toko sepeda lokal alih-alih melakukan pembelian daring. Hal ini memungkinkan pembeli untuk mengajukan pertanyaan, melakukan uji coba, dan mendapatkan bimbingan mengenai apa yang legal dan aman untuk digunakan di jalanan umum.
DuJack menutup dengan peringatan keras bagi semua pengguna kendaraan listrik: tetaplah waspada, kenali peralatan Anda dengan baik, dan sadari potensi kerusakan atau cedera serius yang dapat ditimbulkannya. Kesadaran dan tanggung jawab adalah kunci utama untuk mencegah tragedi yang lebih besar di masa depan.

Posting Komentar