Kesaksian Abbas Araghchi: Detik-Detik Serangan Udara yang Menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran

Table of Contents
Iran’s foreign minister describes moment of attack that killed Khamenei | Iran | The Guardian
Kesaksian Abbas Araghchi: Detik-Detik Serangan Udara yang Menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran

VGI.CO.ID - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, akhirnya memberikan kesaksian mendalam mengenai serangan udara Amerika Serikat-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa tragis yang terjadi pada hari pertama perang ini telah mengubah dinamika keamanan dan politik di Timur Tengah secara drastis.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan jurnalis Iran, Javad Mogouyi, Araghchi menceritakan bagaimana dirinya berhasil selamat setelah ditarik dari reruntuhan gedung kepemimpinan yang hancur. Sejak peristiwa berdarah tersebut, ia mengaku terus berpindah-pindah lokasi di ibu kota Tehran dengan menggunakan mobil untuk menghindari target serangan berikutnya.

Celah Keamanan dan Intelijen yang Fatal

Araghchi mengonfirmasi bahwa Israel dan Amerika Serikat memiliki intelijen yang sangat akurat mengenai keberadaan Khamenei dan pejabat senior lainnya saat serangan terjadi. Informasi intelijen yang presisi ini memungkinkan pihak penyerang untuk menargetkan pusat kepemimpinan Iran dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.

Serangan gabungan tersebut dimulai tak lama setelah pukul 9 pagi ketika para pejabat tinggi berkumpul untuk serangkaian rapat penting. Pertemuan tersebut melibatkan kementerian intelijen, dewan strategis kebijakan luar negeri, serta dewan pertahanan negara yang krusial.

Araghchi secara tegas menyoroti bahwa Israel memiliki akses intelijen yang mendetail tentang agenda pertemuan tersebut, yang mengindikasikan adanya celah keamanan serius. Menurutnya, kegagalan perlindungan data dan informasi ini adalah masalah fundamental yang harus segera diperbaiki oleh otoritas keamanan Iran.

Detik-Detik Kelangsungan Hidup di Bawah Puing

Araghchi sedang melaporkan situasi kepada wakil kepala staf Khamenei, Ali Asghar Hijazi, ketika bangunan tersebut diguncang oleh tiga ledakan beruntun dalam hitungan detik. Bagian gedung tempat kantor Hijazi berada terkena serangan langsung hingga menyebabkan kehancuran total pada sisi kiri bangunan.

Sekretaris Hijazi tewas seketika di tempat kejadian, namun Araghchi dan Hijazi berhasil selamat dari kekuatan penuh ledakan tersebut. Mereka berjuang keluar melalui tumpukan puing-puing kayu, besi, dan beton di tengah jeritan minta tolong dan aliran air yang menyembur dari pipa yang pecah.

Celah Keamanan dan Intelijen yang Fatal

Setelah berhasil keluar dari reruntuhan, Araghchi segera dilarikan ke kementerian luar negeri oleh seorang warga yang melintas karena mobil dinasnya telah hancur. Selama tiga hari berikutnya, ia terputus dari semua akses komunikasi dan berupaya mencari informasi mengenai pejabat lain yang selamat atau dinyatakan syahid.

Strategi Bertahan dan Pesan dari Kepemimpinan Baru

Araghchi mengungkapkan bahwa ia belum bertemu dengan pemimpin baru negara tersebut, yakni putra Khamenei, Mojtaba Khamenei. Meski begitu, ia menegaskan bahwa penunjukan tersebut mengirimkan pesan yang sangat penting kepada dunia bahwa tidak akan ada perubahan dalam kebijakan dan cita-cita rezim.

Iran sebenarnya telah mengantisipasi kemungkinan serangan semacam ini dengan menyiapkan rencana darurat yang disebut sebagai "Code 110". Rencana ini merujuk pada klausul konstitusi Iran yang mengatur kewenangan penuh Pemimpin Tertinggi dalam situasi kritis, termasuk rencana menutup Selat Hormuz.

Dinamika Diplomasi dan Retaliasi Regional

Meski sempat meragukan efektivitas negosiasi dengan Amerika Serikat awal tahun ini, Araghchi tetap melanjutkan perundingan demi menunjukkan itikad diplomasi. Ia menekankan bahwa langkah ini krusial agar tidak ada pihak internasional yang dapat menyalahkan Iran atas kegagalan upaya perdamaian tersebut.

Iran kini telah memberikan peringatan keras kepada pemerintah negara tetangga bahwa setiap serangan akan dibalas dengan tindakan tegas terhadap target-target di kawasan. Araghchi secara spesifik menyatakan bahwa fasilitas nuklir dan pangkalan militer asing yang ada di wilayah sekitar akan menjadi target utama retaliasi.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa peringatan kepada pemerintah Turki berhasil menggagalkan rencana Amerika Serikat untuk memicu pemberontakan Kurdi dari Irak ke Iran. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dilaporkan telah mengambil posisi tegas setelah berkomunikasi dengan pihak Amerika mengenai masalah ini.

Menanggapi pilihan antara diplomasi atau perang, Araghchi menegaskan prinsip dasar negaranya dalam menghadapi krisis saat ini. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan berperang kecuali jika biaya untuk tidak bertindak dianggap lebih tinggi daripada biaya peperangan itu sendiri.

Posting Komentar