Kampanye Likud Netanyahu Samakan Wali Kota New York dengan Pemimpin Iran dan Hezbollah

Table of Contents
Netanyahu party campaign billboard likens Mamdani to leaders of Iran and Hezbollah
Kampanye Likud Netanyahu Samakan Wali Kota New York dengan Pemimpin Iran dan Hezbollah

VGI.CO.ID - Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu baru saja meluncurkan langkah provokatif melalui baliho kampanye di pusat kota Tel Aviv. Baliho tersebut menarik perhatian publik karena secara eksplisit menyamakan Wali Kota New York, Zohran Mamdani, dengan para pemimpin musuh politik dan ideologis Israel, termasuk tokoh dari Iran dan Hezbollah.

Visual dalam baliho tersebut menampilkan Zohran Mamdani yang disandingkan dengan Presiden Turki Recep Tayyip ErdoÄŸan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, dan kepala kelompok militan Hezbollah, Naim Qassem. Langkah ini menjadi babak terbaru dalam ketegangan yang semakin memanas antara Perdana Menteri Israel tersebut dan pemerintah kota New York.

Motivasi Politik di Balik Baliho Kontroversial

Poster kampanye tersebut menampilkan logo partai sayap kanan Likud dengan pesan yang cukup lugas dan bernada peringatan bagi para pemilih. Pesan tertulis di baliho tersebut berbunyi, “Mereka ingin Netanyahu kalah… Jangan biarkan mereka menang,” sebagai upaya untuk mengonsolidasikan basis pemilih.

Benjamin Netanyahu saat ini telah memasuki mode kampanye intensif demi mempertahankan koalisi sayap kanannya tetap berkuasa di pemerintahan. Langkah ini diambil setelah Knesset, parlemen Israel, resmi dibubarkan pada bulan Juli sebelum pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Oktober, pemilu pertama sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.

Akar Perseteruan Mamdani dan Netanyahu

Perselisihan antara kedua tokoh ini bermula dari sikap kritis Mamdani terhadap perang Israel di Gaza sejak awal masa kampanye wali kotanya. Namun, intensitas perang kata-kata antara keduanya meningkat drastis bulan lalu ketika Mamdani secara terbuka menyebut pemimpin Israel tersebut sebagai “penjahat perang” yang seharusnya “berada di Den Haag”.

Selain retorika keras tersebut, Wali Kota New York ini juga mendesak otoritas Amerika Serikat untuk menegakkan surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) terhadap Netanyahu. Desakan ini muncul menjelang rencana kehadiran Netanyahu dalam agenda Majelis Umum PBB di New York pada bulan September.

Respon Netanyahu dan Dinamika Politik AS

Motivasi Politik di Balik Baliho Kontroversial

Menanggapi serangan verbal tersebut, Netanyahu membalas dengan menuduh Mamdani telah “menghasut kebencian” dan memecah belah berbagai kelompok agama di dalam kotanya sendiri. Ia juga menyatakan kekhawatirannya bahwa dukungan bipartisan yang selama ini terjaga bagi Israel di Amerika Serikat kini berada dalam risiko akibat posisi progresif Demokrat yang selaras dengan Mamdani.

Meskipun Netanyahu mengkhawatirkan pergeseran dukungan tersebut, data survei terbaru di Amerika Serikat menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Survei tersebut mengungkapkan bahwa Zohran Mamdani justru memiliki tingkat popularitas yang lebih tinggi di kalangan warga Yahudi Amerika dibandingkan dengan Benjamin Netanyahu.

Kontroversi Meluas ke Isu Global

Serangan terhadap Mamdani ini terjadi tak lama setelah Perdana Menteri Israel tersebut melontarkan pernyataan kontroversial lainnya mengenai Inggris dalam sebuah wawancara podcast. Netanyahu menggambarkan Inggris sebagai “republik Islam Inggris” dalam komentar yang disampaikan selama wawancara untuk radio militer Israel minggu ini.

Komentar tersebut dinilai banyak pihak telah memainkan kiasan Islamofobia sayap kanan yang umum mengenai populasi Muslim di Inggris. Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan mendeskripsikan negara tersebut sebagai “republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir”.

Stagnasi Perundingan Gencatan Senjata

Netanyahu, yang koalisinya saat ini tertinggal dalam jajak pendapat, secara aktif membagikan foto baliho tersebut di akun media sosialnya pada hari Minggu. Unggahan tersebut disertai dengan video yang menampilkan komentar Mamdani saat menyebut Netanyahu sebagai penjahat perang untuk memperkuat narasi kampanyenya.

Perseteruan antara kedua tokoh ini terjadi di tengah stagnasi perundingan kesepakatan gencatan senjata Gaza antara Amerika Serikat dan Israel. Menantu sekaligus utusan Donald Trump, Jared Kushner, diketahui telah melakukan pertemuan selama tiga jam dengan Netanyahu pada hari Senin, namun tidak membuahkan terobosan berarti.

Ketegangan ini semakin diperumit oleh posisi Israel yang tetap menolak untuk menarik pasukannya dari jalur Gaza hingga Hamas setuju untuk melucuti senjata terlebih dahulu. Hingga saat ini, Zohran Mamdani belum memberikan tanggapan publik terkait pencantuman dirinya dalam materi kampanye pemilihan Netanyahu tersebut.

Posting Komentar