Donald Trump Ancam Deklarasikan Selat Hormuz sebagai Wilayah Amerika Serikat

Table of Contents
Trump threatens to declare strait of Hormuz ‘territory of the United States’
Donald Trump Ancam Deklarasikan Selat Hormuz sebagai Wilayah Amerika Serikat

VGI.CO.ID - Donald Trump baru-baru ini melontarkan ancaman keras untuk mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai "wilayah Amerika Serikat" di tengah upaya pemerintahannya yang sedang berjuang mengakhiri perang dengan Iran. Pernyataan kontroversial ini muncul saat ketegangan geopolitik mencapai titik didih, menyisakan keraguan mengenai apakah ini merupakan pergeseran kebijakan resmi pemerintah AS.

Pernyataan Trump di Long Island

Dalam pidatonya di sebuah akademi kepolisian di Long Island, New York, pada hari Jumat, Trump menyatakan niatnya untuk segera menetapkan jalur air tersebut sebagai wilayah AS. Selat Hormuz sendiri merupakan titik vital bagi perdagangan global, di mana sekitar seperlima dari pasokan minyak lintas laut dunia biasanya melintas melalui perairan tersebut.

Komentar ini disampaikan saat pembicaraan damai dengan Iran berada dalam jalan buntu pasca negosiasi yang gagal. Tehran hingga saat ini bersikeras menolak untuk membuka kembali selat tersebut, yang praktis telah tertutup sejak AS dan Israel memulai perang melawan Iran pada bulan Februari.

Hampir enam bulan perang berlangsung, tidak ada indikasi kuat bahwa negosiasi akan segera membuahkan perdamaian yang diharapkan. Pejabat Iran terus menantang tuntutan Trump, sementara AS terus memblokir pelayaran dan pelabuhan Iran dalam beberapa bulan terakhir demi memberikan tekanan ekonomi kepada Tehran.

Ketegangan dan Kontrol Blokade

Trump menegaskan dalam pidatonya bahwa setelah AS berhasil mengalahkan Iran, ia akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Ia berargumen bahwa pada dasarnya AS telah memiliki kontrol melalui blokade, sehingga tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali atas izin mereka.

Namun, keseriusan dari pernyataan Trump ini dan apakah hal tersebut menandakan posisi kebijakan baru bagi pemerintahannya, masih belum jelas. Para pengamat internasional kini tengah memantau apakah retorika ini akan diterjemahkan menjadi tindakan hukum atau militer yang nyata.

Menanggapi hal ini melalui platform X, Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, menyatakan bahwa Tehran tidak akan terintimidasi oleh ancaman atau unjuk kekuatan oleh AS. Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka atau ditutup di bawah otoritas kedaulatan Iran.

Respons Diplomasi dan Kondisi Perundingan

Pernyataan Trump di Long Island

Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pada hari Sabtu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengungkapkan bahwa Iran belum memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dengan AS. Pesan-pesan yang dipertukarkan melalui Qatar dan Pakistan dinilai oleh Iran tidak mencerminkan proses negosiasi formal, seperti yang dilaporkan oleh Reuters.

Araqchi menyampaikan kepada media Iran, Shahrara News, bahwa diskusi terpisah dengan Oman saat ini difokuskan pada penentuan rute laut melalui Selat Hormuz. Sementara itu, AS diwajibkan memenuhi sejumlah kondisi tertentu agar pelayaran komersial dapat kembali beroperasi melalui jalur air tersebut.

Sebelumnya, Trump sempat mengklaim di Truth Social bahwa AS memiliki "total kendali" atas selat tersebut dan menegaskan niatnya untuk terus mempertahankan posisi tersebut. Klaim ini diucapkan meskipun Selat Hormuz secara hukum internasional merupakan perairan yang dapat dinavigasi dan berbatasan langsung dengan Iran serta Oman.

Dampak Ekonomi bagi Warga Amerika

Harga bahan bakar telah melonjak tajam sejak dimulainya perang, yang memaksa warga Amerika pekerja untuk membayar biaya lebih mahal di pompa bensin. Situasi ekonomi domestik ini menjadi beban politik yang signifikan bagi pemerintahan Trump di tengah konflik internasional yang berkepanjangan.

Meski demikian, pada hari Jumat, Trump berargumen bahwa warga Amerika yang harus membayar lebih untuk bensin harus memahami konteks besarnya. Ia menyatakan bahwa pengorbanan tersebut dilakukan agar sebuah negara yang dianggap "sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir.

Trump menambahkan bahwa bagi dia, meskipun harga bensin mencapai $4 per galon, itu adalah langkah yang benar dan ia tidak akan pernah meminta maaf atas keputusannya. Baginya, mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir adalah prioritas utama yang melampaui dampak ekonomi jangka pendek bagi warga Amerika.

Posisi Tegas Iran

Selama enam bulan terakhir, pemerintahan Trump berulang kali mengklaim kemenangan dalam perang tersebut dengan menyatakan bahwa rezim Iran sedang memohon kesepakatan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Tehran tetap teguh pada pendirian dan tuntutannya.

Iran menegaskan, seperti yang disampaikan baru-baru ini pada hari Sabtu, bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz kecuali AS memperbaiki perilakunya. Tuntutan Tehran mencakup kompensasi penuh atas kerusakan perang, pencabutan sanksi, dan pelepasan aset yang dibekukan secara tanpa syarat.

Posting Komentar