Yen Pimpin Asia Tendang Dolar, Rupiah - Ringgit Perkasa, Won Jatuh
VGI.CO.ID - Mata uang Asia terpantau kompak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (10/7/2026). Pergerakan positif ini terjadi seiring dengan pelemahan indeks dolar AS di pasar keuangan global yang terus berlanjut.
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.15 WIB, sembilan dari sepuluh mata uang utama Asia berhasil mencatatkan penguatan signifikan. Hanya ada satu mata uang regional yang gagal memanfaatkan momentum pelemahan greenback pada pagi hari ini.
Rupiah dan Yen Memimpin Penguatan Mata Uang Asia
Nilai tukar rupiah terpantau bergerak di zona hijau dengan mencatatkan penguatan sebesar 0,11% ke posisi Rp18.050/US$. Meskipun mengalami penguatan, posisi mata uang Garuda ini terpantau masih tertahan di atas level psikologis Rp18.000/US$.
Apresiasi paling tajam pada perdagangan pagi ini dipimpin oleh yen Jepang yang melonjak hingga 0,55% ke posisi JPY 161,46/US$. Sementara itu, ringgit Malaysia menyusul di posisi kedua dengan kenaikan sebesar 0,32% ke level MYR 4,061/US$.
Kinerja positif juga diikuti oleh baht Thailand yang menguat 0,24% ke THB 33,26/US$ serta dolar Taiwan yang naik 0,22% ke TWD 32,077/US$. Di sisi lain, yuan China berhasil terapresiasi sebesar 0,19% dan menempati posisi CNY 6,779/US$.
Dolar Singapura dan peso Filipina menunjukkan performa serupa dengan sama-sama menguat sebesar 0,16% ke SGD 1,289/US$ dan PHP 61,520/US$. Dong Vietnam juga berhasil membukukan penguatan tipis sebesar 0,02% ke level VND 26.284/US$.
Di tengah tren penguatan ini, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang terpuruk di zona merah. Mata uang Negeri Ginseng tersebut melemah sebesar 0,04% dan terdepresiasi ke posisi KRW 1.505,78/US$.
Sentimen Global dan Pelemahan Indeks Dolar AS
Pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,18% ke posisi 100,725 pagi ini menjadi motor penggerak utama bagi penguatan mata uang regional. Kejatuhan indeks ini telah berlangsung selama dua hari beruntun akibat sentimen geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Ketegangan militer di Timur Tengah kembali membara setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur militer AS di wilayah Teluk. Langkah represif ini diambil setelah AS menyerang wilayah pesisir selatan serta provinsi timur Iran beberapa waktu lalu.
Konflik bersenjata yang kembali memanas ini secara langsung mengancam kesepakatan gencatan senjata bilateral yang baru berjalan selama tiga pekan. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi potensi disrupsi pasokan energi global jika konflik ini terus meluas.
Anehnya, harga minyak mentah global justru berbalik melemah signifikan dari level tertinggi barunya akhir-akhir ini. Minyak mentah standar AS merosot sebesar 2,65% ke US$71,57 per barel, sementara Brent tergelincir sebesar 2,95% ke level US$75,72 per barel.
Penurunan harga komoditas energi ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar bahwa lonjakan inflasi jangka panjang akan menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Investor kini cenderung menahan diri untuk melakukan transaksi besar sembari memantau perkembangan situasi makroekonomi terbaru.
Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed dan Data Tenaga Kerja
Direktur Pengelolaan Risiko Valas dan Logam Mulia di Silver Gold Bull, Erik Bregar, menyebut bahwa pasar keuangan saat ini diliputi kebingungan yang cukup tinggi. Menurut analisanya, pergerakan harga yang cenderung mendatar mengindikasikan bahwa para pelaku pasar masih bersikap wait and see.
Ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) dilaporkan mulai sedikit mereda berdasarkan CME FedWatch Tool. Probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan 28-29 Juli kini turun menjadi 26,2% saja.
Sementara untuk pertemuan FOMC bulan September, peluang kenaikan suku bunga tercatat sebesar 61,7% atau turun dari posisi sebelumnya di angka 66,6%. Kendati demikian, angka probabilitas tersebut masih dinilai lebih tinggi jika dibandingkan dengan pekan lalu yang hanya sebesar 54,1%.
Risalah pertemuan The Fed pada 16-17 Juni lalu di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menunjukkan kekhawatiran inflasi yang mendalam. Sejumlah anggota komite kebijakan bahkan melihat adanya urgensi yang kuat untuk segera menaikkan suku bunga acuan.
Sebaliknya, Presiden The Fed New York John Williams menyatakan pada hari Kamis bahwa ia tidak melihat adanya potensi lonjakan harga energi yang berkelanjutan. Pandangan moderat ini sedikit menenangkan pasar di tengah eskalasi konflik geopolitik yang tengah terjadi di Timur Tengah.
Dari sektor riil, laporan klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat tercatat mengalami penurunan sebanyak 2.000 menjadi 215.000 klaim. Angka realisasi yang lebih rendah dari ekspektasi awal para ekonom sebesar 218.000 ini menegaskan bahwa pasar tenaga kerja AS masih solid.

Posting Komentar