Setu Asih Pulo Depok: Revitalisasi Rp36,9 Miliar yang Picu Banjir Warga

Table of Contents
Cantik tapi Berisiko, Setu Asih Pulo Jadi Lokasi Favorit Olahraga yang Picu Banjir Warga 2026
Setu Asih Pulo Depok: Revitalisasi Rp36,9 Miliar yang Picu Banjir Warga

VGI.CO.ID - Setu Asih Pulo yang berlokasi di Depok kini tampil dengan wajah baru yang lebih tertata dan asri, menarik minat banyak warga lokal untuk berkunjung. Kawasan ini telah menjelma menjadi tempat favorit bagi masyarakat sekitar untuk melepas penat di tengah hiruk-pikuk perkotaan, berkat pepohonan hijau yang rindang dan kualitas udara yang relatif bersih dari polusi.

Namun, di balik keindahan visual dan kenyamanan yang ditawarkan untuk aktivitas olahraga seperti jogging dan bersepeda, keberadaan setu ini justru menyimpan masalah serius yang dikeluhkan oleh penduduk setempat. Fasilitas publik yang semakin rapi dan estetis tersebut kini diduga kuat menjadi pemicu banjir yang merendam permukiman penduduk di sekitarnya, sebuah ironi yang menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Wajah Baru Setu Asih Pulo: Estetika yang Memanjakan Mata

Secara visual, pengunjung dapat dengan mudah menemukan lokasi ini karena adanya papan nama besar berwarna merah yang menempel mencolok pada pagar batu. Area setu juga telah dipagari dengan besi berwarna kuning yang kokoh, serta dilengkapi dengan jalur pejalan kaki berbahan batu paving yang tampak modern dan estetis.

Perubahan fisik ini memang memberikan kesan kawasan yang terawat dan ramah pengunjung, menciptakan ruang publik yang sebelumnya mungkin tidak terjamah. Namun, di balik keindahan fisik tersebut, muncul dampak lingkungan yang merugikan warga, di mana proyek revitalisasi yang seharusnya membawa perbaikan justru dinilai tidak mempertimbangkan fungsi ekologis dan pengelolaan air secara menyeluruh.

Anggaran Fantastis dan Pertanyaan Publik Terkait Dana APBN

Berdasarkan informasi yang terhimpun dari akun media sosial Kementerian Pekerjaan Umum, proyek peremajaan Setu Asih Pulo ini menelan biaya yang bisa dibilang fantastis. Total dana yang dialokasikan mencapai Rp 36,9 miliar yang bersumber dari APBN tahun 2022, sebuah angka yang diharapkan masyarakat mampu memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan.

Pelaksanaan proyek ini berada di bawah kendali Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Bendungan dari BBWS Ciliwung Cisadane. Meskipun biayanya sangat besar, hasilnya dianggap belum mampu mengatasi masalah lingkungan yang ada, bahkan memunculkan keraguan mengenai efektivitas penggunaan anggaran tersebut di mata warga.

Pengakuan Muhammad Hasan: Perjuangan yang Berujung Kekecewaan

Muhammad Hasan, pria berusia 62 tahun yang bertindak sebagai pengawas setu, menceritakan perjuangannya mengusulkan revitalisasi ini kepada pemerintah. Proses pengajuan proposal ke pemerintah pusat tersebut setidaknya memakan waktu hingga tiga tahun sebelum akhirnya disetujui, sebuah penantian yang cukup panjang bagi warga.

Awalnya, Hasan memiliki niat tulus untuk mengatasi masalah gulma dan gangga panjang yang menutupi permukaan air setu yang mengganggu ekosistem. Lewat dana pemerintah pusat dan bantuan komunitas, masalah tanaman air tersebut memang berhasil diatasi dengan sangat baik, memberikan harapan baru bagi kawasan ini.

Sayangnya, keberhasilan pembersihan alga ini berbanding terbalik dengan kualitas pembangunan infrastruktur fisik yang dilakukan kemudian. Hasan secara tegas menilai proyek tersebut terlalu fokus pada estetika permukaan saja, seperti pemasangan pagar dan paving, tanpa memikirkan fungsi dasar infrastruktur.

Kegagalan Teknis: Drainase yang Terabaikan

Keseimbangan ekosistem dan sistem drainase yang krusial justru tampak terabaikan dalam pengerjaan proyek tersebut oleh pihak kontraktor. Akibatnya, fungsi utama setu sebagai penampung air tidak berjalan optimal saat curah hujan tinggi melanda kawasan tersebut, yang justru mengancam keselamatan warga.

Hasan mengungkapkan keheranannya terhadap alokasi anggaran yang mencapai puluhan miliar tersebut, karena menurut pengamatannya di lapangan, ia merasa pekerjaan yang dilakukan mungkin hanya menghabiskan dana sekitar Rp 7 miliar saja. Terdapat kesenjangan yang cukup jauh antara anggaran yang turun dengan realisasi pekerjaan yang terlihat di lapangan, memicu spekulasi di tengah warga.

Satu hal yang paling disayangkan adalah pembangunan saluran air menuju Perumahan Maharaja yang tidak tuntas pengerjaannya. Pengerjaan drainase tersebut terhenti hanya pada jarak 100 meter, sehingga alirannya menjadi buntu dan tidak tersambung dengan sistem pembuangan air utama.

Selain tidak tuntas, kedalaman saluran air yang baru dibangun juga dianggap sangat tidak memadai oleh warga setempat. Hasan menyebutkan bahwa di beberapa titik, kedalaman saluran tersebut bahkan kurang dari setengah meter saja, sehingga kapasitas penampungan air sangat terbatas.

Wajah Baru Setu Asih Pulo: Estetika yang Memanjakan Mata

Kondisi ini menyebabkan air mudah meluap ketika hujan deras turun dan langsung membanjiri permukiman, khususnya di wilayah RT 5. Hal ini memicu keresahan yang mendalam karena warga yang sebelumnya aman justru harus menghadapi ancaman banjir rutin setiap kali hujan mengguyur kota.

Diabaikannya Saran Warga dan Kecurigaan Penyelewengan

Sebagai orang yang paham kondisi lapangan, Hasan mengaku sudah menunjukkan titik-titik mana saja yang perlu dinormalisasi secara mendesak. Ia bahkan sudah membawa pihak pelaksana untuk mendokumentasikan sistem drainase pemukiman yang kritis agar segera mendapatkan penanganan.

Namun, instruksi dan saran yang ia berikan seolah tidak didengarkan karena pengerjaan tetap dilakukan secara setengah-setengah. Hasan merasa kecewa karena setelah proyek selesai, warga justru menjadi korban luapan air yang masuk ke rumah-rumah mereka.

Warga juga merasa terbebani karena harus membiayai sendiri fasilitas keamanan seperti pos penjagaan dan lampu penerangan di sekitar setu. Padahal dengan anggaran puluhan miliar, pembangunan fisik seperti tanggul penahan longsor atau bronjong dirasa masih sangat minim dan tidak memadai.

Hasan bahkan tidak menampik adanya kecurigaan mengenai penyelewengan anggaran selama proses pengerjaan berlangsung di lapangan. Hal ini didasari oleh ketimpangan yang mencolok antara nilai kontrak proyek yang besar dengan kualitas serta volume pekerjaan yang ada di lapangan.

Aturan Baru dan Dinamika Sosial di Setu Asih Pulo

Seiring dengan wajah baru setu, pengelola menerapkan aturan ketat bagi pengunjung yang datang untuk menjaga ketertiban. Salah satu aturan yang cukup mencolok adalah larangan memancing di seluruh area setu demi faktor keamanan pengunjung lain yang beraktivitas di sana.

Pihak pengelola khawatir kail pancing dapat membahayakan warga yang sedang berolahraga atau berjalan-jalan di jalur jogging. Di sisi lain, sektor UMKM mulai tumbuh di sekitar lokasi, meski keberlangsungan usaha mereka masih sangat bergantung pada kondisi cuaca yang sering berubah.

Permasalahan Birokrasi dan Pemeliharaan Rutin

Beberapa kendala dan perubahan aturan di kawasan Setu Asih Pulo kini menjadi perhatian serius, mulai dari larangan memancing hingga masalah teknis. Permasalahan sedimen dan tumpukan sampah seringkali tidak terangkut tepat waktu, menimbulkan kesan kawasan yang kurang terawat meskipun sudah direvitalisasi.

Keterlambatan armada pengangkut dari dinas terkait yang bisa memakan waktu berbulan-bulan sering menjadi keluhan utama. Selain itu, terdapat adanya gesekan di lapangan terkait "biaya operasional" tambahan bagi petugas kebersihan yang membuat warga merasa tidak nyaman.

Masalah pemeliharaan rutin seperti pengangkutan sedimen dan sampah seringkali terhambat oleh urusan birokrasi yang sangat rumit. Hal ini diperparah dengan adanya praktik pungutan liar atau "uang kopi" yang melibatkan biaya parkir warga di sekitar setu, sebuah tindakan yang mencederai pelayanan publik.

Hasan menceritakan bahwa sering terjadi aksi saling menyalahkan antara pihak lapangan dan dinas terkait saat sampah menumpuk. Masalah ini menyebabkan lingkungan setu terkadang menjadi kumuh akibat limbah yang tidak kunjung dibersihkan oleh armada PUPR, merusak citra kawasan wisata lokal tersebut.

Menanti Solusi Pemerintah untuk Setu Asih Pulo

Dilema birokrasi dan masalah teknis ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kota Depok dan instansi terkait untuk segera diselesaikan. Warga berharap agar fungsi setu sebagai pengendali banjir segera diperbaiki dengan pengerjaan yang benar-benar solutif tanpa mengesampingkan kenyamanan ruang publik bagi pengunjung.

Ke depannya, transparansi dalam penggunaan anggaran dan keterlibatan warga dalam perencanaan proyek infrastruktur menjadi sangat krusial. Hanya dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, pelaksana proyek, dan masyarakat setempat, Setu Asih Pulo dapat benar-benar menjadi aset berharga bagi Depok, bukan justru menjadi sumber masalah baru.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa penyebab utama banjir di sekitar Setu Asih Pulo menurut warga?

Menurut warga dan pengawas setu, banjir disebabkan oleh sistem drainase yang tidak tuntas dan kedalaman saluran air yang tidak memadai setelah revitalisasi. Proyek tersebut dinilai terlalu fokus pada estetika dan mengabaikan fungsi ekologis serta pengelolaan air yang krusial.

Berapa biaya yang dihabiskan untuk proyek revitalisasi Setu Asih Pulo?

Proyek revitalisasi ini menelan dana fantastis sebesar Rp 36,9 miliar yang bersumber dari APBN tahun 2022, di bawah kendali SNVT Pembangunan Bendungan dari BBWS Ciliwung Cisadane.

Siapa Muhammad Hasan dan apa perannya dalam kasus Setu Asih Pulo?

Muhammad Hasan adalah pria berusia 62 tahun yang bertindak sebagai pengawas setu. Ia merupakan sosok yang mengusulkan revitalisasi ini untuk mengatasi masalah gulma dan alga, namun ia merasa kecewa karena hasil akhir pembangunan fisik tidak sesuai dengan ekspektasi dan justru memperburuk masalah banjir bagi warga sekitar.

Mengapa ada aturan larangan memancing di kawasan Setu Asih Pulo?

Aturan larangan memancing diterapkan untuk alasan keamanan pengunjung. Pihak pengelola khawatir kail pancing dapat membahayakan warga lain yang sedang berolahraga atau berjalan-jalan di jalur jogging yang telah dipercantik.

Apa saja kendala utama dalam pemeliharaan Setu Asih Pulo saat ini?

Kendala utama meliputi birokrasi yang rumit, keterlambatan armada pengangkut sampah, praktik pungutan liar atau 'uang kopi' untuk petugas kebersihan, serta aksi saling lempar tanggung jawab antara pihak lapangan dan dinas terkait saat sampah dan sedimen menumpuk.

Posting Komentar