Kontroversi SAVAK dan Pendukung Sayap Kanan: Reza Pahlavi Terjepit
VGI.CO.ID - Reza Pahlavi, putra dari mendiang Shah Iran, kini berada dalam posisi yang sulit akibat dukungan kelompok sayap kanan yang mengagungkan SAVAK, polisi rahasia yang pernah ditakuti di era kekuasaan ayahnya. Meskipun Pahlavi telah berusaha menjaga jarak dari kelompok tersebut, glorifikasi terhadap simbol represif masa lalu ini secara signifikan merusak citra dirinya sebagai calon pemimpin transisi demokrasi.
Selama beberapa dekade, SAVAK dianggap sebagai simbol represi paling dibenci yang menjaga kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi hingga akhirnya ia digulingkan dalam revolusi tahun 1979. Kini, Reza Pahlavi yang berusia 65 tahun dan berbasis di Washington, harus menghadapi kenyataan bahwa sebagian pendukungnya justru menganggap SAVAK sebagai lambang perjuangan untuk mengembalikan monarki ke takhta Iran.
Dilema Demokrasi dan Bayang-Bayang Otoriter
Pahlavi, yang telah meninggalkan Iran selama 48 tahun, memposisikan dirinya sebagai sosok unik yang mampu memimpin transisi menuju demokrasi di tengah krisis yang melanda teokrasi Islam saat ini. Ambisi politiknya semakin mencuat setelah demonstran di Iran meneriakkan namanya dan slogan “javid shah” dalam serangkaian protes massal yang sempat melanda negara tersebut Januari lalu.
Namun, kredibilitasnya kini dipertanyakan oleh mantan sekutunya sendiri akibat perilaku pendukung yang dianggap berhaluan “fasis” dan kerap mengenakan simbol SAVAK dalam unjuk rasa. Organisasi yang pernah dilatih oleh AS dan Israel ini secara luas dikenal sebagai instrumen despotisme yang menyiksa dan memata-matai lawan politik rezim lama, sehingga glorifikasinya dianggap mencederai nilai-nilai liberal yang diklaim diusung Pahlavi.
Menanggapi kritik yang menuntutnya bersuara, Pahlavi akhirnya mengeluarkan pernyataan video yang dianggap canggung dan menyebut masalah ini sebagai isu yang “relatif mendesak”. Ia menyatakan ketidaktahuannya mengenai asal-usul sentimen tersebut dan enggan melakukan analisis sejarah, namun mengakui bahwa isu ini memberikan celah bagi lawan untuk menyerang gerakannya.
Konfrontasi dengan Media dan Ancaman Kekerasan
Kritik tajam terhadap Pahlavi juga mencakup sikap intoleransi dan kecenderungan otoriter yang ditunjukkan oleh beberapa pengikutnya di panggung internasional. Dalam sebuah reli di Munich pada bulan Maret, seorang pendukung terlihat membentangkan spanduk dengan slogan “satu bangsa, satu bendera, satu pemimpin” yang secara jelas menyerupai retorika Nazi pimpinan Hitler.
Lebih jauh lagi, para pengikut fanatik Pahlavi juga kerap menyerang jurnalis, termasuk insiden verbal terhadap jurnalis CNN kelahiran Iran, Christiane Amanpour, yang menyebut Pahlavi sebagai “calon takhta” dalam sebuah wawancara. Pahlavi sendiri seringkali menunjukkan sikap konfrontatif dalam interaksi personal dengan media, termasuk saat memotong pembicaraan jurnalis wanita di Berlin pada bulan April lalu.
Tragedi Masood Masjoody dan Masa Depan Politik
Suasana ketakutan semakin terasa setelah ditemukannya jenazah Masood Masjoody, mantan pendukung Pahlavi yang tinggal di Kanada, di Vancouver pada bulan Maret tahun ini. Investigasi mengungkapkan bahwa Masjoody dibunuh, dan dua aktivis anti-rezim telah didakwa atas pembunuhan tingkat pertama, meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan langsung dari pihak Pahlavi.
Beberapa pengamat, termasuk Alireza Nader, seorang analis urusan Iran di Washington, menilai Pahlavi telah mentoleransi ekstremis sayap kanan di antara pendukungnya. Nader, yang dulunya merupakan sekutu dekat, mengungkapkan bahwa Pahlavi kini lebih menyerupai sosok populis sayap kanan yang pro-Israel dan pro-MAGA, berbeda jauh dengan sosok liberal yang ia kenal di masa lalu.
Vali Nasr, seorang profesor hubungan internasional di Johns Hopkins University, bahkan menyamakan situasi Pahlavi dengan kisah Puyi dalam film The Last Emperor. Menurut Nasr, Pahlavi semakin terisolasi dan tidak relevan karena ia dianggap sebagai kolaborator musuh asing yang berusaha menghancurkan Iran, yang justru menyulitkan posisinya di mata masyarakat Iran di dalam negeri.
Akhirnya, masa depan politik Reza Pahlavi kini berada di persimpangan jalan antara mempertahankan dukungan dari basis sayap kanan yang kontroversial atau kembali ke akar liberal yang ia klaim untuk memimpin Iran masa depan. Dengan tantangan besar terkait kredibilitas dan dukungan domestik yang minim, ia harus berjuang keras untuk melepaskan diri dari citra yang diciptakan oleh pendukung radikalnya tersebut.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu SAVAK dan mengapa hubungannya dengan Pahlavi menjadi kontroversial?
SAVAK adalah polisi rahasia Iran di masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi (ayah Reza Pahlavi) yang terkenal karena taktik represif, penyiksaan, dan sensor media. Hubungannya menjadi kontroversial karena sebagian pendukung Reza Pahlavi saat ini justru mengagungkan organisasi tersebut, yang bertentangan dengan klaim Pahlavi bahwa ia memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia.
Mengapa Reza Pahlavi dianggap memiliki kecenderungan sayap kanan?
Para pengamat, termasuk mantan sekutu Pahlavi, mencatat bahwa ia mulai mengadopsi persona yang lebih konfrontatif, pro-Israel, dan dekat dengan gerakan politik sayap kanan (seperti MAGA di AS). Hal ini terlihat dari kehadirannya di konferensi konservatif dan retorika yang digunakan oleh pengikutnya yang dianggap mirip dengan slogan-slogan fasis.
Apa yang dimaksud dengan perbandingan Pahlavi dengan 'The Last Emperor'?
Vali Nasr, seorang akademisi hubungan internasional, membandingkan Pahlavi dengan Puyi (kaisar terakhir Tiongkok) yang bekerja sama dengan penjajah asing untuk merebut kembali takhtanya. Analogi ini digunakan untuk menggambarkan ketidakefektifan Pahlavi yang bergantung pada kekuatan asing (AS dan Israel) sementara kehilangan koneksi dan dukungan riil dari rakyat di dalam Iran.
Apa dampak insiden Masood Masjoody terhadap citra Pahlavi?
Kematian Masood Masjoody, seorang mantan pendukung yang kritis terhadap Pahlavi, menciptakan atmosfer ketakutan dan permusuhan. Meskipun tidak ada bukti keterlibatan langsung Pahlavi, insiden ini menambah tuduhan bahwa kamp Pahlavi menciptakan lingkungan yang intoleran dan berbahaya bagi para pengkritiknya.
Posting Komentar