Tragedi Kemanusiaan di Lebanon: 500.000 Warga Beirut Mengungsi Hindari Bom Israel

Table of Contents
‘The memories stay behind’: hundreds of thousands flee the Israeli bombs in Beirut
Tragedi Kemanusiaan di Lebanon: 500.000 Warga Beirut Mengungsi Hindari Bom Israel

VGI.CO.ID - Serangan udara Israel yang meluas di pinggiran selatan Beirut telah memaksa lebih dari 500.000 warga Lebanon meninggalkan rumah mereka dalam sekejap. Perintah evakuasi massal ini segera mengubah wilayah yang dulunya padat menjadi kota hantu yang dipenuhi puing-puing dan kobaran api.

Pada hari Jumat, militer Israel mengeluarkan perintah perpindahan terbesar yang mencakup area strategis seluas Manhattan bagian bawah. Penduduk diinstruksikan untuk segera mengosongkan pinggiran selatan Beirut serta seluruh wilayah di selatan Sungai Litani yang mencakup 10% luas negara tersebut.

Eksodus Massal dan Kenangan yang Tertinggal

Ribuan orang terpaksa meninggalkan kendaraan mereka di tengah kemacetan dan berjalan kaki menuju pantai demi menghindari bom yang terus berjatuhan. Ali Hamdan, seorang ayah dari lingkungan Haret Hreik, mengungkapkan kesedihannya saat harus meninggalkan segala kenangan indah di dalam rumahnya.

“Seseorang yang pergi hanya bisa membawa sedikit pakaian dan mungkin sebuah kasur saja,” tutur Ali Hamdan dengan nada getir kepada wartawan. Ia memutuskan untuk membawa keluarganya lebih awal ke desa di utara Beirut guna menghindari dampak serangan yang semakin brutal.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat setidaknya 217 orang tewas dan 798 lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan pada hari Jumat tersebut. Sebanyak 26 serangan udara menghantam ibu kota, mengakibatkan bangunan-bangunan tinggi rata dengan tanah dan kaca-kaca jendela toko hancur berantakan.

Eksodus Massal dan Kenangan yang Tertinggal

Ketegangan Sosial di Tengah Krisis Pengungsi

Walikota Ghobeiri, Ahmad al-Khasneh, menyatakan bahwa kehancuran bangunan di wilayahnya tampak dilakukan secara sengaja oleh pihak militer Israel. Ia juga menyayangkan kurangnya bantuan dari pemerintah pusat dalam upaya mengevakuasi lansia dan warga yang memiliki keterbatasan mobilitas.

Di luar basis pendukung Hizbullah, simpati masyarakat Lebanon mulai mendingin karena kekhawatiran bahwa konflik ini akan menyeret seluruh elemen negara ke dalam jurang kehancuran. Warga di beberapa wilayah kini memandang pengungsi dengan rasa curiga dan menutup pintu rumah mereka karena takut akan serangan susulan.

Beberapa pemilik properti di area Kristen, seperti Achrafieh, bahkan dilaporkan menaikkan harga sewa secara drastis hingga mencapai $6.000 untuk pembayaran di muka. Harga yang sangat tinggi ini membuat tempat berlindung menjadi mustahil dijangkau oleh sebagian besar populasi Lebanon yang kini sedang jatuh miskin.

Status Perang Terbuka Antara Hizbullah dan Israel

Meskipun tekanan internasional semakin meningkat, pejabat senior Hizbullah Mahmoud Qmati menegaskan bahwa pihaknya kini berada dalam status perang terbuka. Hizbullah terus meluncurkan roket ke wilayah Israel utara sebagai bentuk perlawanan atas penghancuran masif yang melanda Lebanon sejak awal pekan.

Kondisi di lapangan diprediksi akan semakin brutal bagi warga sipil yang terjebak di antara garis pertempuran yang kian meluas setiap jamnya. Ali Hamdan memperingatkan bahwa perang baru ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan perjuangan eksistensi yang akan jauh lebih keras bagi rakyat Lebanon.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa jumlah pengungsi akibat serangan di Beirut?

Lebih dari 500.000 orang dilaporkan kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi akibat perintah evakuasi massal dari militer Israel.

Wilayah mana saja yang terdampak perintah evakuasi?

Perintah evakuasi mencakup pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh) dan seluruh wilayah Lebanon di selatan Sungai Litani.

Berapa jumlah korban jiwa yang dilaporkan pada hari Jumat?

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 217 orang tewas dan 798 orang luka-luka dalam satu hari serangan.



Ditulis oleh: Maya Sari

Posting Komentar