Dampak Perang Iran: Harga Minyak Tembus $90 dan Ancaman Inflasi Global

Table of Contents
Iran war pushes oil price above $90, threatening rise in global inflation
Dampak Perang Iran: Harga Minyak Tembus $90 dan Ancaman Inflasi Global

VGI.CO.ID - Konflik Iran yang kian memanas telah mendorong harga minyak mentah melampaui angka $90 per barel pada pekan ini. Lonjakan ini tercatat sebagai kenaikan mingguan tertinggi sejak pandemi Covid-19 melanda enam tahun silam.

Laporan mengenai pemangkasan produksi oleh Kuwait memicu kenaikan harga Brent crude hingga menyentuh angka $91,89 pada perdagangan hari Jumat. Angka ini melonjak tajam dari posisi $72,50 yang tercatat tepat sebelum pecahnya peperangan di kawasan tersebut.

Krisis Penyimpanan dan Ancaman Produksi

Indeks acuan internasional tersebut telah melonjak lebih dari 25% sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran akhir pekan lalu. Kenaikan mingguan ini menjadi yang terbesar bagi pasar energi global sejak periode awal April tahun 2020.

Kekhawatiran kini beralih pada potensi krisis penyimpanan di Timur Tengah yang dapat memaksa produsen besar menghentikan ekstraksi minyak. Fasilitas penyimpanan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diprediksi akan mencapai batas maksimal dalam waktu 20 hari.

Konsultan energi dari Kpler memperingatkan bahwa penutupan operasional merupakan langkah terakhir karena proses memulai kembali produksi memakan waktu lama. Hal ini diyakini akan memberikan tekanan tambahan yang sangat berat pada stabilitas pasar minyak mentah dunia.

Prediksi Harga dan Gangguan Ekspor LNG

Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, memberikan prediksi suram bahwa harga minyak bisa melambung hingga $150 per barel jika perang berlanjut. Beliau menyatakan bahwa seluruh eksportir energi di Teluk kemungkinan besar akan menghentikan produksi dalam hitungan minggu.

Krisis Penyimpanan dan Ancaman Produksi

Qatar sendiri saat ini sedang berjuang memulihkan ekspor gas alam cair (LNG) setelah terminal penting mereka rusak akibat serangan drone Iran. Al-Kaabi menyebutkan butuh waktu berbulan-bulan untuk normalisasi ekspor negara yang menguasai 20% pangsa pasar global tersebut.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar gas Inggris yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Meskipun Inggris hanya bergantung 2% pada suplai Qatar, mereka harus bersaing ketat dengan pembeli di Asia untuk mendapatkan kargo gas.

Keamanan Maritim di Selat Hormuz

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengancam akan membakar kapal tanker Barat yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Jalur vital ini merupakan rute perdagangan bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya.

Menurut laporan Lloyd’s List, sedikitnya sembilan kapal telah diserang di kawasan Teluk sejak operasi militer pertama kali dimulai pada Sabtu, 28 Februari. Keadaan ini menciptakan ketidakpastian tinggi bagi sekitar 600 kapal yang saat ini masih berada di perairan tersebut.

Aaron Hill dari FP Markets mencatat bahwa tawaran asuransi dan pengawalan militer dari pemerintahan Trump belum mampu menenangkan pasar. Investor tetap waspada mengingat risiko kerusakan fisik pada infrastruktur energi dan kapal pengangkut komoditas sangat nyata.

Guncangan pada Pasar Saham dan Obligasi

Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi yang langsung menghantam harga obligasi pemerintah di Inggris dan zona Euro. Peluang penurunan suku bunga Inggris bulan ini turun drastis dari 80% menjadi hanya 15% menurut data pasar uang.

Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik dan Eropa juga mengalami pekan terburuk dengan indeks FTSE 100 turun lebih dari 5%. Saham maskapai seperti IAG dan Wizz Air anjlok signifikan akibat prediksi kerugian besar dari kenaikan harga bahan bakar pesawat.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa kenaikan harga minyak Brent akibat konflik ini?

Harga minyak Brent melonjak lebih dari 25% hingga mencapai $91,89 per barel, naik dari posisi sebelumnya di sekitar $72,50.

Mengapa krisis ini mengancam pasokan gas dunia?

Serangan drone Iran merusak terminal penting di Qatar yang menguasai 20% ekspor LNG dunia, sehingga memicu persaingan harga antara Eropa dan Asia.

Apa dampak konflik ini terhadap pasar saham?

Indeks pasar saham global jatuh, terutama di sektor maskapai (seperti Wizz Air dan IAG) dan pasar Asia-Pasifik yang bergantung pada impor energi.



Ditulis oleh: Eko Kurniawan

Posting Komentar