Ruhana Kudus: Menguak Peran Sang Pahlawan Nasional bagi Perempuan Indonesia

Table of Contents

Ruhana Kudus Bukan Sekadar Wartawan Perempuan Pertama Indonesia


VGI.CO.ID - Nama Roehana Koeddoes, atau Ruhana Kudus, dikenal luas sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia. Namun, kiprahnya melampaui dunia jurnalistik, menobatkannya sebagai pendidik dan penggerak kaum wanita yang visioner.

Peran multidimensional ini dipertegas dalam diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia,” di IDN HQ, Jakarta, pada 6 Februari lalu. Acara tersebut mengulas warisan berharga dari tokoh kelahiran Koto Gadang ini.

Jejak Awal Sang Pelopor

Siti Ruhana lahir di Koto Gadang pada 20 Desember 1884, dari ayah seorang kepala jaksa bernama Moehammad Rasjad Maharadja Sutan. Ia merupakan saudari seayah lain ibu dari Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama.

Meski tidak menempuh pendidikan formal, Ruhana sangat peduli pada literasi berkat didikan ayahnya yang memberinya beragam buku bacaan. Ia mahir berbahasa Melayu dan Belanda, membedakannya dari kebanyakan anak perempuan seusianya yang masih buta huruf.

Pada 1908, Ruhana menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaris dan aktivis pergerakan nasional. Dukungan sang suami terhadap tradisi literasinya membuka jalan bagi kiprahnya di dunia pers dan pendidikan.

Membangun Literasi dan Kemandirian

Sebagai bukti semangatnya, pada 1912, Ruhana mendirikan Soenting Melajoe bersama pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, Datuk Sutan Maharadja. Surat kabar perempuan pertama di Hindia Belanda ini terbit di Padang dengan misi menyajikan berita dan isu perempuan yang ditulis oleh perempuan.

Jejak Awal Sang Pelopor

Wahyu Dyatmika, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), menegaskan bahwa Ruhana Kudus adalah pionir sejati dalam jurnalisme perempuan. “Ruhana Kudus merupakan wartawan perempuan pertama, pemimpin redaksi suratkabar perempuan pertama, dan pendiri surat kabar khusus perempuan pertama,” ujarnya.

Ia juga aktif berkiprah di surat kabar Perempuan Bergerak di Medan setelah pindah pada 1916, menunjukkan jejak pengaruhnya yang luas. Khairiah Lubis, Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), menyebut Ruhana Kudus sebagai “spirit bagi jurnalis perempuan” karena jejak rekamnya yang mendalam.

Sebelum menjadi wartawan, Ruhana telah mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang pada 1911, sebuah sekolah keterampilan untuk memberdayakan kaum perempuan. Melalui KAS, ia mengajarkan membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam, dan menenun, tidak hanya meningkatkan literasi tetapi juga kemandirian ekonomi.

Najwa Shihab menggarisbawahi relevansi pemikiran Ruhana yang modern, bahwa “Literasi membuat perempuan berpikir. Kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat. Tulisan membuat suara itu sampai.” Ruhana Kudus tidak menunggu ruang publik, melainkan menciptakannya sendiri.

Warisan Abadi Sang Pendidik

Pada 1917, Ruhana Kudus pindah ke Bukittinggi dan mendirikan Roehana School, sekolah swasta untuk anak-anak pribumi yang menyediakan pendidikan dasar dan keterampilan. Ini merupakan kelanjutan visinya untuk mencerdaskan bangsa.

Selama puluhan tahun, Ruhana konsisten berkhidmat dalam dunia pers dan gerakan pendidikan perempuan, berpindah domisili ke Medan, Bukittinggi, Surabaya, hingga Jakarta. Ia wafat di Jakarta pada 17 Agustus 1972 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak.

Gedung Kerajinan Amai Setia, yang dibangun pada 1915, kini menjadi Yayasan Amai Setia dan berfungsi sebagai museum yang masih kokoh berdiri. Trini Tambu, ketua yayasan, menyatakan mereka tetap menggunakan gedung tersebut untuk menjalankan mimpi dan visi Ibu Rohana Kudus.

Diakui Sebagai Pahlawan Nasional

Pada 2019, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ruhana Kudus, mengukuhkan Nagari Koto Gadang sebagai satu-satunya desa di Indonesia yang melahirkan tiga Pahlawan Nasional, bersama Sutan Sjahrir dan Haji Agus Salim. Pengakuan ini menegaskan bahwa Ruhana Kudus adalah sosok multitalenta yang jauh lebih dari sekadar wartawan perempuan pertama; ia adalah ibu bangsa yang tak kenal lelah memperjuangkan hak dan martabat perempuan Indonesia.



Ditulis oleh: Sri Wahyuni

Posting Komentar