Kisah Suena Mengais Rezeki di Gunungan Sampah Bantargebang Bekasi

VGI.CO.ID - Di tengah gunungan limbah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, kehidupan ekonomi warga terus berdenyut tanpa henti. Bagi Suena (37), tumpukan sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber penghidupan utama untuk menopang kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Wanita asal Indramayu ini merupakan satu dari ribuan pekerja informal yang menggantungkan nasib di lokasi pembuangan sampah terbesar di Indonesia tersebut. Sejak kecil, Suena sudah sangat akrab dengan lingkungan Bantargebang karena orang tuanya juga sempat bekerja di sektor yang sama.
Rutinitas dan Penghasilan di Tengah Tumpukan Limbah
"Di sini tinggal sama suami," ujar Suena saat ditemui di tengah aktivitas memulungnya pada Sabtu (14/2/2026). Bersama suaminya, ia setiap hari mencari plastik dan ember bekas yang masih memiliki nilai jual di pasar pengepul barang bekas.
Rutinitas memulung ini dilakukan mulai dari pagi hingga malam hari demi mencapai target pendapatan harian yang mencukupi. Dalam kondisi optimal, Suena mampu mengumpulkan dua karung besar barang bekas yang nantinya akan ditimbang dan dijual kepada pihak pengepul.
Secara ekonomi, pekerjaan berisiko tinggi ini menghasilkan pendapatan harian berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 120.000. "Kadang Rp 120.000, kadang Rp 100.000, dicukup-cukupin saja untuk makan dan kebutuhan hidup," jelasnya dengan nada pasrah.
Dari penghasilan tersebut, ia rutin menyisihkan sekitar Rp 20.000 per pekan untuk dikirimkan kepada tiga anaknya di Indramayu. Uang kiriman tersebut digunakan untuk biaya sekolah dan kebutuhan dasar anak-anaknya yang tinggal bersama kerabat di kampung halaman.
Risiko Keselamatan dan Keterbatasan Pilihan Kerja
Meskipun pendapatan tersebut tampak stabil, risiko keselamatan di gunungan sampah tetap menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi setiap detik. Ancaman longsor tumpukan sampah selalu menghantui para pemulung, terutama saat curah hujan tinggi mengguyur kawasan Bekasi dan sekitarnya.
"Takut longsor saja, tetapi mau di mana lagi? Kalau tidak kerja, ya tidak makan," ungkap Suena mengenai kekhawatiran utamanya bekerja di sana. Keterbatasan pendidikan dan keterampilan teknis menjadi tembok besar yang menghalangi keinginannya untuk beralih ke profesi lain yang lebih formal.
Hingga saat ini, Suena terus bertahan di tengah kerasnya lingkungan TPST Bantargebang demi menyambung hidup dan masa depan keluarganya. Baginya, gunungan sampah adalah satu-satunya tempat di mana lapangan pekerjaan selalu tersedia setiap hari tanpa syarat pendidikan yang rumit.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa penghasilan rata-rata pemulung di Bantargebang?
Berdasarkan pengakuan Suena, penghasilan harian berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 120.000 per hari, tergantung jumlah barang bekas yang dikumpulkan.
Apa risiko utama bekerja sebagai pemulung di TPST Bantargebang?
Risiko utama yang dihadapi adalah ancaman longsor tumpukan sampah, terutama saat musim hujan, serta risiko kesehatan akibat lingkungan yang tidak higienis.
Barang apa saja yang paling sering dicari oleh pemulung di sana?
Pemulung umumnya memprioritaskan pencarian plastik, ember bekas, dan material lain yang memiliki nilai jual kembali di tingkat pengepul.
Ditulis oleh: Agus Pratama
Posting Komentar