Keputusan Kontroversial Mauro Zijlstra: Tinggalkan Eredivisie di Usia 21 Tahun untuk Liga Indonesia
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,598,20,0)/kly-media-production/medias/5339847/original/062104900_1757131723-timnas_5.jpg)
VGI.CO.ID - Persija Jakarta secara resmi mengumumkan Mauro Zijlstra sebagai rekrutan terbarunya pada Rabu, 4 Februari 2026 siang WIB. Striker muda potensial yang merupakan bagian dari Timnas Indonesia U-22 ini kini untuk pertama kalinya akan merasakan atmosfer kompetisi sepak bola di Tanah Air.
Zijlstra diikat dengan kontrak berdurasi 2,5 musim, menunjukkan komitmen jangka panjang dari Macan Kemayoran. Kehadiran pemain kelahiran Zaandam, Belanda ini tidak hanya menambah opsi di lini depan, tetapi juga menjadi simbol strategi Persija dalam membangun kerangka tim yang tangguh untuk musim-musim mendatang.
Mengapa Eredivisie Ditinggalkan? Sebuah Pertanyaan Besar
Mauro Zijlstra yang baru berusia 21 tahun telah mengukir pengalaman di tim muda Volendam, bahkan sempat promosi ke tim utama untuk tampil di kompetisi Eredivisie. Keputusannya untuk meninggalkan sepak bola Belanda di usia yang masih sangat muda demi petualangan di Indonesia tentu memicu banyak pertanyaan.
Bagi sebagian pengamat dan penggemar sepak bola, pilihan Zijlstra untuk meninggalkan persaingan di liga sekelas Eredivisie dan bergabung dengan Liga Indonesia terasa mengejutkan. Eredivisie sendiri dikenal sebagai salah satu kompetisi papan atas di Eropa, menempati peringkat ketujuh sebagai liga terbaik di benua tersebut.
Klub-klub tradisional Belanda seperti Ajax, PSV Eindhoven, Feyenoord, Utrecht, dan AZ Alkmaar seringkali menjadi batu loncatan bagi para talenta muda. Banyak pemain muda sukses menimba ilmu dan pengalaman di Eredivisie sebelum akhirnya menjadi komoditas berharga bagi klub-klub elite Eropa lainnya.
Pandangan Pengamat Sepak Bola Nasional: Supriyono Prima
Untuk mengurai keputusan besar Mauro Zijlstra ini, pengamat sepak bola nasional, Supriyono Prima, memberikan pandangannya. Mantan pemain Timnas Indonesia itu menjadi tamu dalam podcast terbaru Liputan6, yang membahas secara spesifik kepindahan Zijlstra ke Liga Indonesia, atau yang disebutnya BRI Super League.
Supriyono Prima menyoroti usia Zijlstra yang masih sangat muda, 21 tahun, sebagai faktor utama dalam keputusannya. Ia menduga bahwa kurangnya “jam terbang” atau menit bermain di klub lamanya, Volendam, menjadi pendorong utama Zijlstra untuk mencari tantangan baru.
Mantan pesepak bola era 90-an ini memberikan contoh kasus Philippe Coutinho, pemain asal Brasil yang pernah bersinar di Inter Milan dan Liverpool. Coutinho, meski memiliki kualitas mumpuni, kesulitan mendapatkan menit bermain setelah pindah ke Barcelona, bukan karena kualitasnya buruk melainkan karena tidak sesuai dengan kebutuhan pelatih.
Menurut Supriyono, situasi serupa mungkin menimpa Mauro Zijlstra, di mana ia tidak mendapatkan kesempatan yang cukup untuk menunjukkan kemampuannya di Volendam. Dengan demikian, langkahnya ke Indonesia bisa jadi merupakan upaya untuk mendapatkan waktu bermain yang lebih konsisten.
Lebih lanjut, Supriyono juga berspekulasi bahwa kepindahan Zijlstra ke Indonesia memiliki motivasi lain yang lebih besar. Ia menduga bahwa dengan bermain reguler di Liga Indonesia, Zijlstra berharap bisa menarik perhatian pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, untuk mendapatkan panggilan ke tim nasional senior.
Jejak Karier Mauro Zijlstra: Statistik dan Tantangan
Mauro Zijlstra, yang lahir pada 9 November 2004, memiliki rekam jejak yang cukup menjanjikan di level junior. Kariernya dimulai di akademi AZ Alkmaar, kemudian pindah ke AFC Youth pada 2019, bermain di level U-17 hingga U-18.
Pada Juni 2022, Zijlstra bergabung dengan NEC Nijmegen U-21, sebelum akhirnya memperkuat Volendam U-21. Di musim 2024/2025, ia tampil sangat produktif bersama Volendam U-21, mencatatkan 17 gol dan tujuh assist dari 21 pertandingan, dengan rata-rata 0,8 gol per pertandingan.
Performa gemilangnya di tim junior membawanya debut di tim senior Volendam pada musim 2024/2025. Debut tersebut terjadi pada 11 Januari 2025, saat Volendam mengalahkan FC Eindhoven 3-1, di mana Zijlstra bermain selama dua menit.
Secara total, ia tampil dalam lima pertandingan lainnya dengan akumulasi 138 menit bermain untuk tim senior. Namun, di musim Eredivisie saat ini, Zijlstra menghadapi kendala serius dalam menembus tim utama Volendam.
Dari 21 laga yang telah dimainkan Volendam di Eredivisie musim ini, Zijlstra belum pernah mendapatkan satu menit pun bermain, meskipun ia sempat duduk di bangku cadangan dalam enam pertandingan. Situasi inilah yang kemungkinan besar menjadi pendorong utama keputusannya untuk mencari peluang di tempat lain.
Harapan di Persija dan Dampak bagi Timnas Indonesia
Bagi Persija Jakarta, kedatangan Mauro Zijlstra adalah investasi jangka panjang dan penambahan kekuatan yang signifikan. Dengan potensi yang dimilikinya, Zijlstra diharapkan mampu memberikan kontribusi besar di lini serang dan menjadi salah satu pilar tim di masa depan.
Keputusan Zijlstra untuk berkarier di Indonesia juga membawa angin segar bagi perkembangan sepak bola nasional, khususnya Timnas Indonesia. Kehadiran pemain diaspora muda dengan latar belakang Eredivisie diharapkan dapat meningkatkan kualitas kompetisi lokal dan memberikan lebih banyak opsi bagi skuad Garuda di bawah asuhan John Herdman.
Langkah berani Mauro Zijlstra ini bukan sekadar transfer pemain biasa, melainkan sebuah pernyataan ambisi dari seorang pemain muda yang haus akan menit bermain dan kesempatan untuk berkembang. Waktu akan membuktikan apakah keputusannya meninggalkan Eredivisie demi Liga Indonesia adalah pilihan yang tepat untuk karier dan impian Timnasnya.
Para penggemar sepak bola di Indonesia kini menantikan bagaimana Mauro Zijlstra akan beradaptasi dan menunjukkan performa terbaiknya bersama Persija Jakarta. Perjalanan baru sang striker muda ini akan menjadi sorotan, baik di kancah Liga 1 maupun dalam konteks potensialnya bersama Timnas Indonesia.
Ditulis oleh: Putri Permata
Posting Komentar