Jejak Emas 4 Pemain Naturalisasi Generasi Awal di Usia Emas Indonesia
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5225196/original/013668100_1747657348-Ilustrasi_-_Stefano_Lilipaly_copy.jpg)
VGI.CO.ID - Fenomena eksodus pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang memutuskan untuk berkarier di kompetisi domestik, khususnya BRI Super League, pada usia emas mereka bukanlah sebuah kejadian yang benar-benar baru. Sejatinya, jauh sebelum gelombang pemain keturunan Eropa saat ini, sudah ada sederet individu berdarah Indonesia yang memilih pulang ke tanah leluhur pada puncak performa mereka, menorehkan sejarah dan inspirasi.
Belakangan ini, pergerakan di bursa transfer menunjukkan tren serupa dengan dua raksasa papan atas, Persija Jakarta dan Persib Bandung, aktif mendatangkan amunisi naturalisasi baru untuk putaran kedua BRI Super League 2025/2026. Persija berhasil mengamankan jasa bek kiri Shayne Pattynama dari klub Liga Thailand, Buriram United, serta merekrut penyerang muda berbakat, Mauro Zijlstra.
Gelombang Baru Pemain Naturalisasi: Inspirasi dari Masa Lalu
Tidak ketinggalan, rival abadi mereka, Persib Bandung, juga sukses mendapatkan bek muda potensial Dion Markx, menambah kekuatan lini pertahanan mereka. Langkah ini sebetulnya bukan hal baru bagi Pangeran Biru, mengingat mereka sudah berhasil memboyong dua pemain naturalisasi jebolan Liga Belanda, Thom Haye dan Eliano Reijnders, pada awal musim ini.
Selain nama-nama tersebut, beberapa pemain naturalisasi muda lainnya juga telah memilih untuk berlabuh ke Indonesia, menunjukkan daya tarik kompetisi lokal yang terus meningkat. Jens Raven kini menjadi bagian dari Bali United, sementara penyerang lincah Rafael Struick bermain untuk Dewa United, dan nama Ivar Jenner pun terus dikaitkan dengan kepindahan ke Indonesia.
Tren ini mencerminkan keberhasilan program naturalisasi yang tidak hanya berfokus pada kekuatan tim nasional, tetapi juga pada pengembangan kualitas liga domestik. Namun, untuk memahami akar fenomena ini, penting untuk menengok ke belakang dan mengidentifikasi para pelopor yang membuka jalan bagi generasi sekarang.
Irfan Bachdim: Pelopor Utama dari Tanah Leluhur
Irfan Bachdim adalah salah satu nama pertama yang mencuat sebagai pemain keturunan Indonesia-Belanda yang berani mengambil keputusan besar untuk meninggalkan Eropa demi berkarier di tanah kelahiran leluhurnya. Striker kelahiran Amsterdam ini memulai petualangan di Indonesia bersama Persema Malang, sebuah langkah yang sangat berani pada masanya.
Irfan bergabung dengan Laskar Ken Arok pada pertengahan Agustus 2010, saat usianya baru menginjak 22 tahun, sebuah usia yang dianggap emas bagi seorang pesepak bola. Padahal, sebelumnya ia sempat merasakan atmosfer kompetisi di kasta tertinggi Liga Belanda bersama Haarlem, menunjukkan kualitas yang tidak main-main.
Meskipun demikian, setelah periode di Indonesia, karier Irfan Bachdim tidak terbatas pada Liga domestik. Pemain jebolan tim junior FC Utrecht ini sempat berkiprah di Thailand bersama Chonburi FC dan Nakhon Ratchasima, bahkan hingga merumput di Jepang bersama Ventforet Kofu dan Consadole Sapporo, membuktikan kualitasnya di kancah Asia.
Kim Jeffrey Kurniawan: Mengukir Karier Penuh Dedikasi di Indonesia
Langkah Irfan Bachdim untuk berkarier di Indonesia ternyata turut diikuti oleh Kim Jeffrey Kurniawan, yang juga memiliki ikatan keluarga dengannya. Kim adalah saudara ipar Irfan Bachdim, mengingat adik Kim, Jennifer Kurniawan, menikah dengan Irfan.
Gelandang kelahiran Jerman ini tiba di Indonesia pada tahun 2011, mengikuti jejak Bachdim yang saat itu bermain untuk klub Jawa Timur, Persema Malang, yang berkompetisi di Liga Prima Indonesia. Sejak saat itu, Kim Jeffrey Kurniawan memilih untuk sepenuhnya berdedikasi pada sepak bola Indonesia.
Ia tidak pernah lagi berkarier di luar negeri, menghabiskan waktunya bersama sejumlah klub terkemuka seperti Pelita Bandung Raya (2014-2015), Persib Bandung (2016-2021), dan PSS Sleman (2021-sekarang), menjadi salah satu gelandang bertahan paling konsisten di Liga 1.
Stefano Lilipaly: Konsisten Bersinar di Panggung Sepak Bola Nasional
Winger Timnas Indonesia, Stefano Lilipaly, merupakan contoh pemain naturalisasi generasi awal yang hingga kini masih menjadi pilar penting di skuad Garuda. Ia bahkan masih mendapatkan panggilan tim nasional di era pelatih-pelatih sebelumnya, termasuk legenda Belanda, Patrick Kluivert.
Pemain yang mendapatkan status Warga Negara Indonesia (WNI) pada Oktober 2011 ini pada awalnya masih bertahan dan berkarier di Belanda. Namun, ketika usianya baru menginjak 24 tahun, ia akhirnya membuat keputusan penting untuk berkarier di Indonesia.
Kala itu, Stefano Lilipaly pertama kali merumput di Indonesia bersama Persija Jakarta, langsung menarik perhatian dengan penampilan memukaunya. Meskipun sempat kembali ke Belanda untuk memperkuat beberapa klub seperti Telstar dan SC Cambuur, ia akhirnya menetap di Indonesia dan menjadi ikon bersama Bali United dari 2017 hingga 2022, sebelum kini membela Borneo FC.
Ezra Walian: Dari Akademi Eropa Menuju Kejayaan Nusantara
Jejak para pendahulunya juga ditempuh oleh Ezra Walian, seorang penyerang kelahiran Amsterdam yang sebelumnya memiliki reputasi cukup mentereng di Belanda. Ezra pernah bermain bersama Timnas Belanda di berbagai kategori usia, mulai dari U-15, U-16, hingga U-17, menunjukkan potensi besarnya.
Namun, hatinya memanggil untuk membela Indonesia, dan ia pun menjadi WNI pada tahun 2017. Setelah sempat berkarier bersama Almere City hingga RKC Waalwijk di Belanda, Ezra akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan PSM Makassar pada tahun 2019, menandai awal kariernya di Liga 1.
Ketika itu, pemain jebolan akademi legendaris Ajax Amsterdam ini baru berusia 21 tahun, usia yang sangat ideal untuk mengembangkan karier di level senior. Setelah meninggalkan Juku Eja, Ezra sempat memperkuat Persib Bandung (2021-2024) dan kini tengah membela Persik Kediri, melanjutkan perjalanan kariernya di Tanah Air.
Dampak dan Warisan: Inspirasi bagi Generasi Baru Rafael Struick dkk
Para pemain naturalisasi generasi awal ini bukan hanya menambah kekuatan tim nasional, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap kualitas BRI Super League. Kehadiran mereka membawa standar profesionalisme dan pengalaman bermain di Eropa yang secara tidak langsung mengangkat level persaingan di liga.
Keputusan mereka untuk berkarier di Indonesia pada usia emas menunjukkan bahwa daya tarik sepak bola Indonesia mulai diakui sebagai destinasi yang menjanjikan. Mereka menjadi jembatan antara budaya sepak bola Eropa dengan Indonesia, membawa serta mentalitas dan teknik yang berharga.
Warisan yang mereka tinggalkan sangat berharga, terbukti dari jejak mereka yang kini diikuti oleh generasi baru seperti Rafael Struick, Shayne Pattynama, Thom Haye, dan lainnya. Para pendahulu ini telah membuktikan bahwa berkarier di Indonesia bukan hanya sebuah pengabdian, tetapi juga jalan untuk meraih kesuksesan dan kontribusi nyata bagi kemajuan sepak bola bangsa.
Masa Depan Naturalisasi di Sepak Bola Indonesia
Fenomena naturalisasi pemain di usia emas ini menandai babak baru dalam pengembangan sepak bola Indonesia. Dengan semakin banyaknya pemain berkualitas yang memilih berkarier di Liga 1, kompetisi domestik diharapkan akan semakin kompetitif dan menarik.
Selain itu, kehadiran mereka juga menjadi inspirasi bagi talenta-talenta muda lokal untuk terus berjuang meningkatkan kualitasnya. Program naturalisasi yang terencana dan strategis akan terus menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan cita-cita sepak bola Indonesia yang lebih maju di kancah internasional.
Ditulis oleh: Rizky Ramadhan
Posting Komentar