715 Warga Karawang Terancam Longsor Sungai Cibeet, Turap BBWS Masih Nihil

Table of Contents

Warga Bantaran Sungai Cibeet Karawang Dihantui Longsor, Turap Permanen BBWS Citarum Belum Terealisasi


VGI.CO.ID - Karyadi (55) hanya bisa pasrah melihat bagian belakang rumahnya ambruk tergerus aliran Sungai Cibeet pada Kamis (12/2/2026). Insiden yang terjadi di Dusun Leuwisisir, Desa Telukjambe Barat, Karawang ini dipicu oleh terjangan banjir yang mengikis bantaran sungai.

Longsor tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 03.00 WIB saat banjir gelombang kedua melanda wilayah pemukiman warga. Suara gemuruh keras menandai ambruknya area dapur dan kandang ternak milik Karyadi yang telah menetap di lokasi tersebut selama sepuluh tahun.

Ancaman Longsor dan Infrastruktur Desa yang Terputus

Kondisi geografis di Dusun Leuwisisir dan Dusun Mujiah kini semakin mengkhawatirkan bagi keselamatan ratusan penduduk setempat. Akses jalan utama antar-dusun terancam terputus total akibat derasnya arus air yang terus menggerus struktur tanah di pinggir sungai.

Anggota Satgas BPBD Karawang, Kaming, mengonfirmasi bahwa terdapat dua rumah warga yang kini berada dalam posisi sangat rawan roboh. Jarak antara pondasi bangunan dengan bibir sungai dilaporkan hanya tersisa sekitar 30 meter akibat pengikisan yang masif.

Warga secara swadaya sebenarnya telah berupaya membangun turap manual menggunakan dana desa untuk menahan laju abrasi sungai. Namun, struktur sederhana tersebut selalu hancur tersapu arus Sungai Cibeet yang sangat kuat setiap kali debit air mengalami peningkatan.

Realisasi Turap Permanen BBWS Citarum Masih Dinanti

Penanganan teknis secara permanen merupakan wewenang penuh dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sebagai pengelola aliran sungai. Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada realisasi pembangunan fisik turap permanen di lokasi-lokasi yang terdampak bencana.

Pihak pemerintah desa tercatat sudah mengajukan permohonan pembangunan turap permanen secara resmi sejak tahun 2015 silam. Meski usulan tersebut kembali diajukan pada tahun ini, warga masih harus menunggu kepastian tindakan dari pihak otoritas terkait.

Kaming menjelaskan bahwa karakteristik arus di Desa Mekarmulya memiliki potensi bahaya yang lebih tinggi dibandingkan wilayah langganan banjir lainnya. Kecepatan arus yang sangat tinggi saat banjir meluap sangat berisiko menimbulkan korban jiwa akibat longsor mendadak.

Ratusan Keluarga Dihantui Rasa Cemas

Sekretaris Desa Mekarmulya, Yusuf Tonjiri, mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai ancaman isolasi bagi ratusan kepala keluarga di wilayahnya. Di Dusun Mujiah saja, terdapat 258 KK atau sekitar 715 jiwa yang terancam kehilangan akses jalan jika tanah terus amblas.

Berdasarkan pantauan lapangan terbaru, aspal jalan utama di Dusun Mujiah sudah mulai mengalami retakan serius di kedua sisinya. Jika tidak segera mendapatkan penanganan darurat, infrastruktur vital ini diprediksi akan amblas sepenuhnya ke dasar sungai.

Titik rawan longsor di kedua dusun tersebut diperkirakan memiliki panjang masing-masing mencapai 100 meter di sepanjang bantaran sungai. Warga mendesak pemerintah pusat segera turun tangan sebelum kerusakan meluas dan menelan korban harta maupun jiwa.

Saat ini, sebagian warga terpaksa mengungsi secara mandiri ke tempat yang lebih aman setiap kali hujan deras mulai mengguyur Karawang. Mereka terus dihantui ketakutan akan kehilangan tempat tinggal permanen yang telah mereka huni dan bangun selama puluhan tahun.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa longsor di bantaran Sungai Cibeet Karawang terus berulang?

Longsor terus terjadi akibat arus sungai yang sangat deras saat banjir, yang diperparah dengan belum adanya pembangunan turap permanen untuk menahan erosi tanah.

Siapa pihak yang bertanggung jawab membangun turap di wilayah tersebut?

Pembangunan turap permanen di sepanjang bantaran Sungai Cibeet merupakan wewenang dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

Berapa banyak warga yang terancam akibat potensi longsor di Dusun Mujiah?

Terdapat sekitar 258 kepala keluarga (KK) dengan total 715 jiwa yang berisiko terdampak jika akses jalan di Dusun Mujiah terputus akibat longsor.

Kapan usulan pembangunan turap permanen pertama kali diajukan?

Pihak desa telah mengajukan permohonan pembangunan turap permanen kepada BBWS Citarum sejak tahun 2015, namun hingga kini belum terealisasi.



Ditulis oleh: Rudi Hartono

Posting Komentar