5 Kelemahan Aplikasi Duolingo yang Wajib Diketahui Pengguna
VGI.CO.ID - Duolingo telah merevolusi pembelajaran bahasa bagi jutaan orang di Indonesia dan seluruh dunia dengan pendekatannya yang gamified dan mudah diakses. Namun, seperti alat pembelajaran lainnya, penting untuk memahami kelemahan aplikasi Duolingo agar pengguna dapat mengoptimalkan perjalanan belajar mereka.
Meski popularitasnya, Duolingo memiliki batasan tertentu yang mungkin tidak ideal untuk setiap gaya atau tujuan belajar. Mengidentifikasi kekurangan ini membantu pembelajar menentukan strategi pelengkap yang efektif.
1. Kurangnya Penjelasan Tata Bahasa Mendalam
Salah satu kelemahan utama aplikasi Duolingo adalah minimnya penjelasan tata bahasa yang komprehensif. Aplikasi ini cenderung menggunakan pendekatan "temukan sendiri" yang bisa membingungkan bagi pemula atau mereka yang membutuhkan struktur.
Pengguna sering kali diajarkan frasa tanpa pemahaman mendalam tentang mengapa kalimat itu disusun demikian. Ini dapat menghambat pemahaman fundamental dan kemampuan untuk membentuk kalimat baru secara mandiri.
2. Keterbatasan Latihan Berbicara dan Mendengar
Meskipun Duolingo memiliki fitur pengenalan suara, latihan berbicara yang ditawarkannya sering kali terbatas pada pengulangan frasa dan tidak melibatkan percakapan alami. Hal ini membuat pengguna kesulitan mengembangkan kefasihan berbicara dalam situasi dunia nyata.
Demikian pula, latihan mendengarkan sering terbatas pada kalimat yang diucapkan secara jernih dan lambat, berbeda jauh dari kecepatan serta variasi aksen dalam percakapan sehari-hari. Kemampuan mendengar secara pasif saja tidak cukup untuk interaksi yang efektif.
3. Kosa Kata dan Frasa yang Kurang Praktis
Beberapa pengguna mengeluhkan bahwa Duolingo terkadang menyajikan kosa kata dan frasa yang aneh atau jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Fokusnya lebih pada struktur kalimat daripada relevansi fungsional.
Akibatnya, pembelajar mungkin menghabiskan waktu mempelajari kalimat seperti "Beruang minum bir" alih-alih frasa yang lebih umum untuk berinteraksi di toko atau transportasi umum. Hal ini bisa mengurangi motivasi karena kurangnya aplikasi praktis.
4. Gamifikasi yang Dapat Mengalihkan Fokus
Elemen gamifikasi Duolingo seperti ‘streak’ dan poin pengalaman memang mendorong konsistensi, tetapi juga dapat mengalihkan fokus dari pembelajaran mendalam. Pengguna mungkin lebih terobsesi mempertahankan ‘streak’ daripada memahami materi.
Dorongan untuk terus maju sering kali mengesampingkan kebutuhan untuk mengulang dan memperkuat konsep-konsep yang sulit. Ini berpotensi menciptakan rasa kemajuan palsu tanpa penguasaan materi yang sebenarnya.
5. Kurangnya Konteks Budaya dan Interaksi Nyata
Duolingo, sebagai aplikasi pembelajaran mandiri, secara inheren tidak dapat menyediakan konteks budaya yang kaya atau interaksi langsung dengan penutur asli. Aspek-aspek ini sangat penting untuk memahami nuansa bahasa dan komunikasi.
Tanpa memahami budaya di balik bahasa, pembelajar mungkin kesulitan dalam situasi sosial atau formal, meskipun mereka menguasai tata bahasa dan kosa kata. Interaksi nyata sangat krusial untuk adaptasi.
Mengingat kelemahan-kelemahan ini, Duolingo sebaiknya dipandang sebagai alat bantu yang sangat baik untuk memulai dan memotivasi belajar bahasa, bukan sebagai solusi tunggal. Untuk mencapai kefasihan, sangat disarankan untuk menggabungkannya dengan metode lain seperti kursus formal, percakapan dengan penutur asli, atau sumber daya budaya.
Ditulis oleh: Agus Pratama
Posting Komentar