Membaca Ulang Gerakan Satu Juta Pohon: Dari Sejarah Hijau Menuju Masa Depan Indonesia

VGI.CO.ID - Oleh: Ir. Amril Taufik Gobel. ST, IPU, ASEAN Eng.
Vice President Procurement EPC dan Investasi, Divisi Supply Chain Management PT Nindya Karya / Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
KABARIKA.ID, CIKARANG – “Seseorang yang menanam pohon mengetahui bahwa orang lain akan mendapat keteduhan darinya,” sebuah kutipan inspiratif dari Nelson Mandela membuka renungan kita. Pagi 10 Januari 2026 ini terasa istimewa, di tengah kabut yang masih menyelimuti lereng-lereng gunung yang mungkin gundul dan duka tanah longsor di berbagai pelosok, jutaan tangan kembali bersiap menggenggam bibit pohon.
Indonesia hari ini sekali lagi memperingati Gerakan Hari Satu Juta Pohon, sebuah momentum yang lahir dari kebutuhan mendesak, bukan dari kemewahan semata. Gerakan yang dimulai dengan kesederhanaan ini kini menjadi cermin bagi kita semua untuk berefleksi: masihkah kita peduli pada rumah yang kita tinggali bersama dan bagaimana upaya berkelanjutan kita untuknya?
Jejak Sejarah Gerakan Penghijauan Nasional
Gerakan Satu Juta Pohon bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru dalam lintasan sejarah Indonesia, melainkan berakar jauh ke belakang. Cikal bakalnya dapat ditelusuri hingga era 1950-an, di mana pemerintah mulai menyadari urgensi reboisasi pasca-eksploitasi hutan besar-besaran di masa kolonial.
Namun, gerakan masif yang mengusung semangat kerakyatan baru benar-benar menggema pada dekade 1980-an, saat Presiden Soeharto mencanangkan program penghijauan nasional secara lebih luas. Puncak dari semangat ini kemudian terwujud pada 10 Januari 1993, ketika Presiden Soeharto secara resmi menggaungkan ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menanam lebih dari satu juta pohon di setiap provinsi.
Angka satu juta pohon ini bukanlah sekadar target numerik yang ambisius, tetapi lebih dari itu, ia melambangkan kewajiban moral kolektif kita terhadap bumi yang semakin terancam kerusakannya akibat eksploitasi alam yang tak terkendali. Akar ide besar ini kemudian tersebar luas ke berbagai kegiatan penghijauan di seluruh pelosok negeri, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Pada tanggal 10 Januari yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Gerakan Satu Juta Pohon, jutaan masyarakat Indonesia setiap tahunnya turun bersama-sama menanam bibit di berbagai wilayah. Momentum ini bukan lagi sekadar seremonial rutin, melainkan panggilan kolektif untuk secara aktif memulihkan ekosistem yang terus terdegradasi akibat pembukaan lahan masif dan laju industrialisasi yang pesat.
Krisis Ekologi: Empat Dekade Setelah Janji Hijau
Kini, empat dekade telah berlalu sejak gerakan ini dicanangkan, dan peringatan hari ini memiliki makna yang jauh lebih dalam serta mendesak bagi kita semua. Indonesia kini tengah menghadapi krisis ekologi yang sangat serius dan tidak dapat lagi kita abaikan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara konsisten menunjukkan bahwa laju deforestasi di Indonesia mencapai ratusan ribu hektare per tahun, dengan angka yang terus berfluktuasi namun tetap mengkhawatirkan setiap saat.
Hutan hujan tropis kita, yang dikenal sebagai paru-paru dunia, terus menyusut dengan kecepatan yang memprihatinkan. Pulau Kalimantan dan Sumatera, dua pulau yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini, telah kehilangan tutupan hutan primer mereka secara dramatis. Setiap pohon yang tumbang bukan hanya berarti kehilangan kayu yang bernilai ekonomis, tetapi juga kehilangan habitat esensial bagi ribuan spesies flora dan fauna, kehilangan penyerap karbon alami yang vital, dan runtuhnya benteng pertahanan alami kita terhadap berbagai bencana.
Serangkaian bencana alam yang melanda Indonesia secara beruntun sepanjang tahun-tahun terakhir menjadi pengingat yang pedih akan hubungan sebab-akibat yang tak terhindarkan antara kerusakan lingkungan dan dampaknya. Banjir bandang yang menerjang permukiman, tanah longsor yang mengubur harapan, kekeringan berkepanjangan yang mematikan sawah dan sumber kehidupan, hingga kabut asap yang mencekik napas—semua ini adalah tanda-tanda alam yang secara jelas meminta pertanggungjawaban dari tindakan manusia.
Ketika hutan di daerah hulu menjadi gundul tak berpenghuni, desa-desa di hilir pasti akan membayar harganya dengan penderitaan dan kerugian yang tak terkira. Demikian pula, ketika lahan gambut dibakar secara sembarangan untuk kepentingan perkebunan, seluruh negara pada akhirnya akan menghirup akibat buruknya. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan kejadian bencana hidrometeorologi setiap tahunnya, dengan jumlah korban jiwa dan kerugian material yang terus meningkat secara signifikan.
Di balik angka-angka statistik yang dingin ini, terdapat tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya, ada petani yang kehilangan mata pencarian hidupnya, dan ada anak-anak yang terancam kehilangan masa depannya. Krisis ekologi di Indonesia ini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan ketegangan global yang semakin memanas. Perubahan iklim yang dipicu oleh emisi karbon dari negara-negara industri menciptakan pola cuaca ekstrem di seluruh dunia, memperparah kondisi lingkungan lokal.
Laporan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) terus-menerus memperingatkan kita bahwa suhu bumi meningkat lebih cepat dari perkiraan awal. Konflik geopolitik, ketidakadilan ekonomi, dan persaingan sumber daya membuat kerja sama internasional untuk mengatasi krisis iklim menjadi semakin sulit. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang keempat di dunia, berada di garis depan dampak perubahan iklim global: naiknya permukaan laut yang mengancam pulau-pulau kecil, pemutihan terumbu karang yang merusak ekosistem laut, dan perubahan musim yang semakin tidak menentu.
Menanam Harapan: Solusi dan Tantangan ke Depan
Di tengah situasi yang tampak kelam ini, Gerakan Satu Juta Pohon yang diperingati pada 10 Januari 2026 harus kita maknai sebagai perlawanan yang penuh dengan harapan tak tergoyahkan. Setiap bibit pohon yang kita tanam adalah pernyataan iman terhadap masa depan yang lebih baik, sebuah ikrar kuat bahwa kita tidak akan menyerah pada keputusasaan. Pohon-pohon ini, jika dirawat dengan baik, akan tumbuh menjadi hutan yang kokoh, menyerap karbon dioksida, menjaga siklus air alami, mencegah erosi tanah, dan pada akhirnya menyediakan habitat penting bagi berbagai bentuk kehidupan.
Baca Juga: Panduan Lengkap Perpanjang SIM A dan C Online Sekaligus di Indonesia
Dalam jangka panjang, hutan-hutan yang kita tanam hari ini akan menjadi warisan berharga yang tak ternilai bagi anak cucu kita di masa depan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa reboisasi yang terencana dan berkelanjutan dapat secara signifikan mengurangi risiko bencana alam hingga 30 persen, sekaligus meningkatkan kualitas udara dan air secara signifikan. Namun, kita tidak boleh bersikap naif dalam menghadapi realitas lapangan; kendala yang dihadapi gerakan penanaman pohon sangat nyata dan kompleks.
Mengatasi Hambatan Penghijauan
Pertama, masalah tata kelola lahan seringkali menjadi duri dalam daging upaya penghijauan kita. Konflik kepemilikan tanah yang rumit, izin konsesi yang tumpang tindih antara berbagai pihak, serta lemahnya penegakan hukum membuat banyak area yang seharusnya dilindungi justru dibabat habis untuk kepentingan ekonomi jangka pendek yang bersifat merusak. Korupsi dalam sektor kehutanan masih menjadi momok yang menghambat serius upaya konservasi dan reboisasi.
Kedua, kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat yang berkelanjutan juga menjadi tantangan besar. Seringkali, penanaman pohon hanya menjadi kegiatan seremonial yang dilakukan setahun sekali, tanpa diikuti oleh pemeliharaan lanjutan yang memadai. Akibatnya, tingkat keberhasilan hidup pohon yang ditanam dalam gerakan massal seringkali rendah, karena tidak ada pemantauan dan perawatan yang cukup. Ketiga, tekanan ekonomi yang mendesak juga memainkan peran signifikan.
Bagi masyarakat yang hidupnya sangat bergantung pada pembukaan lahan untuk perkebunan atau pertanian, menanam pohon tanpa insentif ekonomi yang jelas dan berkelanjutan sulit untuk dilakukan secara konsisten. Mereka sangat membutuhkan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan perut yang lapar. Keempat, perubahan iklim itu sendiri kini menjadi kendala yang semakin membuat kondisi penanaman menjadi lebih sulit.
Musim kemarau yang lebih panjang dan intens, serangan hama penyakit yang lebih ganas, serta cuaca ekstrem yang tidak terduga membuat bibit pohon rentan mati sebelum sempat tumbuh besar dan kuat.
Solusi Komprehensif Menuju Indonesia Hijau
Lalu, apa solusi konkret yang dapat kita terapkan untuk mengatasi berbagai kendala tersebut? Pertama, kita membutuhkan komitmen politik yang sangat kuat dan konsisten dari pemerintah di semua tingkatan, mulai dari pusat hingga daerah. Kebijakan perlindungan hutan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, dengan sanksi tegas bagi para pelanggar hukum. Program reboisasi harus diintegrasikan secara holistik dengan perencanaan tata ruang yang jelas, partisipatif, dan berjangka panjang.
Kedua, pemberdayaan masyarakat lokal adalah kunci utama untuk keberhasilan jangka panjang. Program-program inovatif seperti hutan kemasyarakatan dan perhutanan sosial, yang memberikan hak kelola kepada masyarakat lokal sambil tetap menjaga fungsi konservasi hutan, perlu diperluas dan diperkuat di seluruh wilayah Indonesia. Ketika masyarakat merasakan manfaat langsung dan berkelanjutan dari hutan yang lestari—baik itu dari hasil hutan non-kayu, potensi ekowisata, atau skema pembayaran jasa lingkungan—mereka secara otomatis akan menjadi penjaga terbaik bagi hutan tersebut.
Ketiga, pendidikan ekologi harus dimulai sejak usia dini dan diintegrasikan menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan nasional kita. Anak-anak perlu memahami bahwa menanam pohon bukan hanya sekadar kewajiban moral semata, tetapi juga merupakan investasi krusial bagi kehidupan mereka sendiri di masa depan. Keempat, kolaborasi lintas sektor yang erat dan terkoordinasi sangatlah penting. Pihak swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), akademisi, dan komunitas lokal harus bekerja bersama-sama dengan pemerintah dalam sebuah gerakan yang terpadu dan sinergis. Pemanfaatan teknologi canggih juga dapat diterapkan untuk pemantauan dan evaluasi, menggunakan citra satelit dan aplikasi digital guna memastikan pohon yang ditanam benar-benar tumbuh dan dirawat dengan baik.
Kelima, kita perlu secara fundamental mengubah narasi pembangunan yang selama ini kita anut. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh lagi hanya diukur dari angka produk domestik bruto (PDB) semata, tetapi juga harus mencakup kesehatan ekosistem dan kesejahteraan sosial masyarakat secara menyeluruh. Model ekonomi hijau yang berkelanjutan harus menjadi pilihan utama dalam setiap kebijakan, bukan sekadar pelengkap belaka. Investasi dalam energi terbarukan, praktik pertanian berkelanjutan, dan industri ramah lingkungan tidak hanya akan menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga secara simultan menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang.
Momen Kebangkitan Kesadaran Ekologi Bangsa
Peringatan Gerakan Satu Juta Pohon tahun 2026 ini harus kita jadikan sebagai titik balik yang krusial. Ini bukan lagi sekadar penanaman seremonial yang akan terlupakan esok hari, tetapi harus menjadi awal dari sebuah komitmen jangka panjang yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Setiap bibit yang kita tanam pada hari ini adalah janji tulus kepada generasi mendatang bahwa kita tidak akan membiarkan mereka mewarisi bumi yang hancur dan tidak layak huni.
Setiap pohon yang kita tanam adalah doa, adalah harapan, dan merupakan perlawanan gigih terhadap keputusasaan yang mungkin melanda. Di tengah ketegangan global yang terus meningkat dan bencana alam yang datang silih berganti, Indonesia memiliki pilihan fundamental: menyerah pada kehancuran atau bangkit dengan kekuatan kolektif yang tak terhingga. Gerakan Satu Juta Pohon mengajarkan kita bahwa perubahan besar dan transformatif selalu dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan bersama-sama oleh banyak orang. Ketika jutaan tangan dengan ikhlas menanam, jutaan harapan akan bersemi dan tumbuh dengan subur. Ketika jutaan hati berkomitmen penuh, masa depan yang lebih hijau bukan lagi sekadar mimpi belaka, melainkan sebuah realitas yang dapat kita wujudkan bersama.
Pada akhirnya, menanam pohon adalah tindakan cinta paling tulus yang dapat kita berikan kepada bumi dan kepada sesama manusia. Ia adalah pengakuan mendalam bahwa kita semua adalah bagian integral dari alam semesta, bukan penguasanya yang sewenang-wenang. Keberlanjutan hidup kita sepenuhnya bergantung pada kesehatan ekosistem di mana kita berada, dan kita memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk merawat ciptaan yang telah dipercayakan kepada kita ini.
Mari kita jadikan tanggal 10 Januari 2026 ini sebagai momentum kebangkitan kesadaran ekologi bangsa Indonesia secara menyeluruh. Ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi lebih dari itu, menanam perubahan fundamental dalam cara kita memandang, berinteraksi, dan memperlakukan alam. Upaya ini bukan hanya untuk kebaikan Indonesia semata, tetapi juga untuk dunia yang kita cintai bersama. “Apa pun yang kamu tanam hari ini, akan tumbuh menjadi harapan bagi masa depan,” ujar Wangari Maathai, pemenang Nobel Perdamaian dan pionir penghijauan lingkungan, sebuah pesan yang sangat relevan dan menginspirasi bagi kita semua.
Posting Komentar