Hari Kusta Internasional: Sejarah, Tujuan, dan Peran Indonesia
VGI.CO.ID - Setiap tahun, dunia memperingati Hari Kusta Internasional, sebuah momen penting untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit kusta dan tantangan yang masih dihadapi penderitanya. Peringatan ini bertujuan untuk mengakhiri stigma, diskriminasi, dan penyebaran penyakit yang telah ada selama ribuan tahun ini.
Penting untuk memahami bahwa 'Hari' dalam 'Hari Kusta Internasional' merujuk pada penunjukan waktu spesifik untuk sebuah tujuan mulia. Meskipun kata 'Hari' itu sendiri dapat memicu diskusi filosofis mendalam tentang bentuk dan makna, seperti yang terlihat dalam perdebatan mengenai konsep 'Hari' sebagai entitas ilahi dan Brahman yang tak berbentuk (Apr 23, 2019), dalam konteks ini, 'Hari' adalah penanda peringatan global.
Sejarah dan Makna Hari Kusta Internasional
Hari Kusta Internasional pertama kali dicetuskan pada tahun 1954 oleh Raoul Follereau, seorang filantropis dan jurnalis Prancis. Ia memilih tanggal Minggu terakhir bulan Januari untuk memperingati kematian Mahatma Gandhi, yang sangat peduli terhadap penderita kusta.
Tujuan utama peringatan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang fakta-fakta kusta, melawan mitos yang salah, dan mendorong dukungan bagi mereka yang terkena dampaknya. Ini juga menjadi seruan bagi pemerintah dan organisasi kesehatan untuk mempercepat upaya eliminasi penyakit lepra secara global.
Memahami Kusta: Fakta Medis dan Mitos Sosial
Kusta, atau penyakit Hansen, adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang kulit, saraf perifer, saluran pernapasan atas, mata, dan testis.
Kusta tidak mudah menular dan penularan terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan orang yang tidak diobati. Kabar baiknya, kusta dapat disembuhkan sepenuhnya dengan Terapi Multidrug (MDT) yang tersedia secara gratis.
Selama berabad-abad, kusta dikelilingi oleh stigma sosial dan kepercayaan mistis yang tidak berdasar. Banyak yang keliru menganggap kusta sebagai kutukan atau hukuman, padahal itu adalah kondisi medis yang dapat diobati seperti penyakit lainnya.
Peran Indonesia dalam Eliminasi Kusta
Sebagai salah satu negara dengan angka kasus kusta tertinggi di dunia, Indonesia memiliki peran krusial dalam upaya eliminasi global. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan terus berupaya meningkatkan deteksi dini dan akses pengobatan di seluruh pelosok negeri.
Berbagai program kesehatan masyarakat digalakkan, termasuk skrining aktif dan penyediaan MDT di fasilitas kesehatan primer. Upaya ini penting untuk mencapai target eliminasi kusta di tingkat kabupaten/kota, serta mencegah disabilitas yang diakibatkan oleh penyakit ini.
Meskipun kemajuan telah dicapai, tantangan seperti penemuan kasus baru yang masih tinggi di beberapa daerah terpencil dan stigma yang melekat masih menjadi penghalang. Pendidikan kesehatan dan penjangkauan komunitas adalah kunci untuk mengatasi hambatan ini.
Melawan Stigma dan Membangun Inklusi
Salah satu aspek paling merusak dari kusta bukanlah dampak fisik, melainkan stigma dan diskriminasi yang dialami penderitanya. Stigma ini seringkali menyebabkan penderita diasingkan dari keluarga, komunitas, dan kesempatan sosial.
Hari Kusta Internasional adalah kesempatan emas untuk membongkar mitos dan menyebarkan fakta bahwa kusta bisa disembuhkan dan penderitanya berhak atas martabat penuh. Edukasi publik yang berkelanjutan adalah fondasi untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.
Stigma juga menghambat deteksi dini dan kepatuhan pengobatan, karena penderita mungkin takut untuk mencari bantuan medis. Oleh karena itu, kampanye kesadaran harus menekankan bahwa mencari pengobatan adalah langkah berani menuju pemulihan dan kehidupan normal.
Menuju Masa Depan Bebas Kusta
Visi dunia bebas kusta bukanlah utopia, melainkan tujuan yang dapat dicapai dengan komitmen dan kerja sama global yang kuat. Inovasi dalam diagnosis, pengobatan, dan pencegahan terus dikembangkan untuk mempercepat eliminasi.
Organisasi internasional seperti WHO dan lembaga filantropi bekerja sama dengan pemerintah di seluruh dunia untuk mencapai tujuan ini. Kolaborasi lintas batas sangat penting mengingat kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara.
Mari kita jadikan Hari Kusta Internasional sebagai pengingat bahwa perjuangan melawan kusta belum berakhir, namun kemajuan signifikan telah dicapai. Dengan informasi yang benar dan empati, kita dapat bersama-sama menciptakan dunia yang bebas dari kusta dan diskriminasi.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu kusta?
Kusta, atau penyakit Hansen, adalah infeksi bakteri kronis yang disebabkan oleh <i>Mycobacterium leprae</i>, menyerang kulit, saraf perifer, dan bagian tubuh lainnya. Meskipun kronis, kusta bukanlah penyakit yang sangat menular dan dapat diobati.
Kapan Hari Kusta Internasional diperingati?
Hari Kusta Internasional diperingati setiap tahun pada hari Minggu terakhir bulan Januari. Tanggal ini dipilih oleh Raoul Follereau untuk menghormati Mahatma Gandhi, yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu penderita kusta.
Mengapa Hari Kusta Internasional penting?
Peringatan ini penting untuk meningkatkan kesadaran publik tentang kusta, melawan stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya, serta mendorong upaya global untuk eliminasi penyakit ini. Ini juga menjadi pengingat bahwa kusta dapat disembuhkan dan bahwa penderita berhak atas perawatan dan martabat.
Apakah kusta bisa disembuhkan?
Ya, kusta dapat disembuhkan sepenuhnya dengan Terapi Multidrug (MDT), kombinasi antibiotik yang efektif. Pengobatan ini gratis dan tersedia di banyak negara, termasuk Indonesia, asalkan pasien mematuhi rejimen pengobatan.
Bagaimana Indonesia berperan dalam pemberantasan kusta?
Indonesia aktif dalam upaya pemberantasan kusta melalui program-program deteksi dini, penyediaan pengobatan gratis (MDT), dan kampanye edukasi kesehatan. Meskipun menghadapi tantangan, Indonesia terus berkomitmen untuk mencapai eliminasi kusta di seluruh wilayahnya.
Ditulis oleh: Dewi Lestari
Posting Komentar