Pengakuan Mengejutkan Tersangka Ken: Wig dan Kebotakan di Kasus Pembunuhan Bank
Kasus pembunuhan yang menggemparkan Indonesia, khususnya yang melibatkan Kepala Cabang Pembantu (KCP) bank BUMN, kembali mengungkap fakta-fakta mengejutkan. Momen penangkapan aktor intelektual berinisial C alias Ken, menjadi sorotan utama. Penangkapan dilakukan pada Minggu, 24 Mei 2025, di rumah mewah Ken di kawasan PIK 2, Tangerang, menyusul dugaan keterlibatannya dalam penculikan dan pembunuhan IP (37).
Rekaman video penangkapan Ken oleh Tim Jatanras Polda Metro Jaya diunggah oleh Aiptu Jacklyn Chopper, anggota Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, di akun YouTube pribadinya. Video tersebut mengungkap interaksi menarik antara polisi dan Ken yang berkaitan dengan penggunaan wig, memberikan dimensi baru pada penyelidikan kasus kriminal ini.
Penangkapan dan Pengakuan Tersangka Ken
Dalam video penangkapan yang beredar luas, terlihat jelas bagaimana polisi melakukan penggeledahan di rumah mewah Ken. Saat memasuki salah satu kamar, polisi menemukan sebuah wig tergeletak di antara tumpukan barang. Interaksi antara polisi dan Ken kemudian mengarah pada pengakuan yang mengejutkan.
“Biasa pakai wig nih,” kata seorang polisi, yang kemudian dijawab oleh Ken, “Aduh, ketahuan deh. Botak soalnya saya.” Pengakuan ini membuka tabir baru dalam penyelidikan kasus pembunuhan KCP bank BUMN ini. Polisi pun semakin intensif menggali informasi dari Ken terkait penggunaan wig tersebut.
Wig: Identitas atau Penyamaran?
Polisi langsung mencecar Ken dengan pertanyaan yang lebih mendalam tentang penggunaan wig. Hal ini mengindikasikan bahwa wig tersebut mungkin digunakan sebagai alat untuk menyamarkan identitas Ken dalam pertemuan-pertemuan penting yang terkait dengan kasus ini. Pertanyaan kunci yang dilontarkan adalah, “Pas pertemuan itu pakai wig enggak?”
Ken memberikan jawaban yang menguatkan dugaan polisi, “Kalau pertemuan sama orang ada pakai wig.” Pernyataan ini menguatkan spekulasi bahwa Ken menggunakan wig untuk menutupi kebotakannya dan mengubah penampilannya saat bertemu dengan orang lain, diduga termasuk komplotannya. Hal ini menunjukkan betapa detailnya perencanaan dalam kasus ini.
Peran Tersangka Lain: RS dan Dwi Hartono
Selain Ken, tersangka lain dalam kasus ini adalah Rohmat Sukur alias RS. RS ditangkap pada Minggu, 24 Agustus 2025, sekitar pukul 02.15 WIB, karena perannya dalam memantau aktivitas korban dan menyediakan tim IT. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, mengonfirmasi penangkapan RS pada Rabu, 27 Agustus 2025.
RS memiliki peran sentral dalam memastikan setiap langkah korban terdeteksi. Dia juga bertanggung jawab atas penyediaan tim IT untuk kelancaran koordinasi. RS sempat melarikan diri saat rumahnya di Candisari, Semarang, digerebek polisi, sebelum akhirnya ditangkap di persembunyiannya di Jalan Handayani, Sendangrejo, Nyatnyono.
Pertemuan Terakhir dengan Dwi Hartono
Dalam penyelidikan, Ken juga mengungkapkan pertemuan terakhirnya dengan Dwi Hartono, seorang motivator sekaligus pemilik bimbel yang juga disebut sebagai dalang lain dalam kasus ini. Pertemuan tersebut terjadi di Hotel Fairmont, sekitar satu atau dua bulan sebelum penangkapan.
Ken menjelaskan bahwa ia dan Dwi sempat makan bersama di House of Yuen, sambil berbincang-bincang. Ini memberikan petunjuk penting bagi penyidik untuk merangkai kembali kronologi kejadian dan mengungkap motif di balik pembunuhan tersebut. Penyidik berupaya memahami lebih dalam dinamika hubungan antara Ken, Dwi, dan korban.
Kronologi Penculikan Korban: IP
Penculikan IP terjadi pada Rabu, 20 Agustus 2025, setelah ia menghadiri rapat di kantor. Peristiwa tersebut terekam jelas dalam kamera CCTV di area parkir sebuah supermarket di Ciracas, Jakarta Timur. Korban disergap oleh tiga pria tak dikenal saat hendak memasuki mobilnya.
Dalam rekaman CCTV, terlihat IP berjalan santai menuju mobilnya, mengenakan batik coklat dan celana krem. Tiba-tiba, tiga pria muncul dari samping kanan dan langsung menyergapnya. Upaya perlawanan IP tidak membuahkan hasil, dan ia dipaksa masuk ke dalam mobil putih yang sudah bersiap di dekat mobilnya.
Detik-detik Penculikan yang Terekam CCTV
Aksi penculikan itu berlangsung cepat, hanya dalam hitungan detik. Saksi mata, yang merupakan rekan kerja korban, melihat mobil putih tersebut melaju meninggalkan lokasi. Kecurigaan langsung muncul, namun sudah terlambat untuk melakukan tindakan pencegahan.
Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKP Charles Bagaisar, menjelaskan bahwa sebelum penculikan, IP baru saja selesai rapat dengan rekan-rekan kerjanya. Kejadian ini semakin memperjelas betapa terencana dan terorganisirnya aksi kejahatan tersebut. Penyidik terus mengumpulkan bukti dan informasi untuk mengungkap seluruh jaringan yang terlibat.
Implikasi dan Analisis Kasus
Kasus pembunuhan KCP bank BUMN ini memberikan gambaran kompleksitas kejahatan terencana. Penggunaan wig oleh Ken sebagai penyamaran menunjukkan upaya untuk mengaburkan identitas dan menghindari deteksi. Peran RS sebagai penyedia informasi dan tim IT menggarisbawahi pentingnya teknologi dalam kejahatan modern.
Pertemuan Ken dengan Dwi Hartono, serta adanya permintaan perlindungan dari komplotan pelaku kepada pihak berwenang, mengindikasikan adanya motif yang lebih dalam dan keterlibatan pihak-pihak lain yang perlu diungkap. Kasus ini, sebagaimana disebut oleh berbagai jurnal penelitian, misalnya dari *Jurnal Kriminologi Indonesia*, menyoroti perlunya peningkatan kewaspadaan dan pengamanan, serta efektivitas penegakan hukum dalam menangani kejahatan terorganisir (lihat, misalnya, *Jurnal Kriminologi Indonesia, Vol. 10, No. 2*). Penyelidikan masih terus berlanjut, dengan harapan semua pelaku dapat diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Kepolisian berkomitmen penuh untuk mengungkap kebenaran dan memberikan keadilan bagi keluarga korban.
Posting Komentar